IBX59ED8B2FED208 Bisikan Itu - Jendela Informasi

Bisikan Itu

   “Bantai!...Bantai…!!” 
           Suara itu menggema, berbaur dengan seragam abu-abu putih dan deru kendaraan. Suasananya hiruk-pikuk.
           “Kejar…!”
           Kaki-kaki berderap, bagai gelombang menyapu jalanan, menerjang aspal panas, tak hiraukan sengatan matahari siang bolong. Wajah-wajah mereka nampak beringas.
           “Serbu…!!”
           Di seberang jalan tak kalah garangnya. Gerombolan anak-anak STM menghadang serbuan itu. Maka tak terhindarkan lagi, batu-batu dan botol-botol beterbangan. Sebagian nyasar mengenai kendaraan yang kebetulan lewat. Jalanan macet total.
           Sarah melihat semua itu dari balik jendela sebuah toko dengan rasa takut bercampur sedih, kecewa dan entah apalagi. Bayangkan, tawuran itu adalah kejadian yang keempat kalinya dalam satu bulan terakhir ini. Berarti hampir setiap minggu terjadi peristiwa tersebut. Kalau begini terus, bagaimana bisa belajar dengan tenang. Pikirnya kecut.
           Lebih kecewa lagi sekaligus kaget, ketika matanya menemukan sosok yang amat dikenalnya diantara ratusan pelajar dari dua buah sekolah yang berseteru itu. Rio! Ah anak manis itu. Anak yang kadang masih suka manja, kini rupanya telah berubah menjadi gambler atau mungkin hanya sekedar ingin merasakan hebatnya menjadi laki-laki. Uh!
           Mata Sarah terus mengikuti gerak-gerik Rio dari kejauhan. Wajahnya yang imut-imut itu jadi berubah layaknya singa marah. Tubuhnya yang tak terlalu kekar mencoba menampilkan kegarangan. Tangannya yang lembut mengepal batu kuat-kuat. Tapi, ya ampun. Sorot mata itu tak bisa dibohongi, ada ketakutan yang memancar jelas di balik keberingasan itu.
***********

           Ingin rasanya melindungi sosok itu. Agar wajah imut-imut itu tak rusak kena batu. Tapia apa yang harus dilakukannya? Pikir Sarah panik. Ia tak mungkin lari menerobos ke tengah-tengah medan perang itu yang kian memanas. Dirinya saja agak terancam, kalau-kalau ada anak STM yang menjadi lawan sekolahnya itu memergokinya dan menjadikan dirinya sandera. Seperti yang pernah dialami oleh Ratih dulu. Ah, kasihan tuh anak. Dia nyaris dianiaya ramai-ramai kalau tak cepat ditolong. Hih!
           Sarah nampak kebingungan, tapi matanya terus memperhatikan sosok Rio di kejauhan yang nyaris terkena lemparan batu, untunglah ia cepat menghindar. Namun tawuran itu tak ada tanda-tanda bakal mereda. Padahal beberapa anak yang telah bocor kepalanya dan darahpun mengucur membasahi seragam sekolahnya.
         Sayangnya, masyarakat di sekitar tak ambil pusing. Mereka malah sibuk berlindung diri. Toko-toko menutup diri. Sopir-sopir mengalihkan kendaraannya ke jalur lain. Mereka tak mau ambil resiko menghadapi massa yang beringas itu. Gerombolan abu-abu putih jadi mirip syetan-syetan yang bergentayangan di jalanan. Mengerikan!
           Saat Sarah dikurung dalam kebimbangan, tiba-tiba di depan toko yang menjadi tempat persembunyiannya berseliweran anak-anak musuh sekolahnya. Seketika bulu kuduk Sarah berdiri, ketakutan. Cepat-cepat ia mencari tempat yang aman dan agak tak terlihat oleh mereka. Oh, apa yang akan terjadi seandainya mereka mengetahui diriku adalah anak sekolah musuhnya? Batin Sarah, ngeri! Apakah aku akan bernasib sama seperti Ratih. Ia jadi menyesali diri, kenapa tadi sepulang sekolah tak langsung ke rumah. “Oh, Tuhan lindungi diriku.” Pintanya lirih sambil meringkuk di balik rak-rak buku. Keringat dingin keluar perlahan.
           Untunglah tak berapa lama dari arah barat terdengar raungan sirine mobil polisi, menghingar-bingarkan anak-anak sekolah yang sedang tawuran itu. Berlarian, kabur menghindari polisi. Termasuk anak-anak sekolah yang berseliweran di depan toko tempat Sarah bersembunyi. Sarah jadi lega dan ketika dirasakan sekelilingnya sudah aman, ia bangkit keluar.
           “Aku tak mau melihat kamu ikut tawuran lagi,” kata Sarah dengan nada kesal. “Aku khawatir akan keselamatanmu, Rio.”

******************

           “Kamu tak usah khawatirkan diriku, Sa,” jawab Rio enteng. “Aku bisa menjaga diri kok.”
           “Tapi musibah datangnya tak bisa diduga, Rio.” Sarah memperingati Rio yang tetap ngotot. “Aku tak ingin melihat kepalamu bocor dan berdarah. Aku takut kehilanganmu, Rio.”
           “Tenanglah, Sarah. Semua itu aku lakukan bersama teman-teman untuk melindungi diri. Kalau tidak dibalas, mereka anak-anak sekolah seberang itu akan semakin ngelunjak. Kita harus membalasnya,” ujar Rio geram.
           “Cara itu tak akan bisa menyelesaikan masalah, maka akan menambah jumlah korban. Apakah kamu mau mengikuti jejak pendahulu yang mati secara konyol itu?” Sarah menghentak keras.
           Rio terdiam. Huh, hatinya jadi sebal dengan ocehan Sarah. Ah, seandainya Sarah tahu, bahwa dirinyapun tak suka dengan tawuran begitu. Selain kekanakan juga terkesan pengecut. Tidak gentle. Beraninya main keroyokan. Ia sebenarnya juga tak mau ikutan tawuran. Tapi teman-temannya terus mengolok-olok dirinya egois, tidak soliderlah dan yang lebih menyakitkan dirinya disebut banci! Bah, siapa yang nggak naik darah diejek begitu.
           “Kita semua yang ada di sekolah ini tak pernah tenang. Kita selalu ketakutan akan serangan yang datang tiba-tiba dari anak-anak sekolah seberang.” Sarah mengeluh kelu sambil menyeka keringat di dahinya. “Bahkan adik-adik kelas kita yang baru masuk, yang tak tahu apa-apapun ikut kena getahnya.”
           “Ya, aku tahu itu,” sergah Rio tegang. “Tapi kita tak boleh diam. Kita harus melawannya karena mereka sudah keterlaluan. Bayangkan, karena hanya pandangan mata yang tanpa sengaja dilakukan oleh Adi pada salah seorang anak sekolah seberang, kita dianggap menantang dan mereka langsung mengamuk. Walau kita telah menjelaskan duduk perkaranya, tapi mereka tak mau tahu. Kalau kita diam, namanya kan bunuh diri! Ya, terpaksa akhirnya kita ladeni.”
           “Tapi, kenapa kamu mesti ikut-ikutan. Yang punya masalah Cuma Adi dan ganknya. Untuk apa kamu ikut campur.”
           Rio terdiam, tak mampu menjawab. Wajahnya menunduk menghitung langkah-langkah  di  atas  trotoar  yang  lurus,  yang dipenuhi oleh anak-anak seragam
***************

abu-abu putih yang baru keluar dari gerbang sekolah. Tiba-tiba dari arah belakang pundaknya ditepuk oleh seseorang.
           “Hai, Rio ….” sentak Dion, masih dengan nafas yang terengah-engah. “Kita harus siap, lawan menghadang lagi di perempatan lampu merah. Ayo kita gabung, teman-teman sudah nunggu.”
           Deg! Bukan hanya jantung Rio yang berguncang, tapi Sarah yang berjalan disampingnya, jantungnya berdetak lebih keras lagi. Kengerian langsung terbayang di pelupuk matanya.
           “Kita jangan sampai kecolongan, Rio. Ayo cepat bergabung!” ajak Dion tanpa memperdulikan wajah Sarah yang jadi memerah dan tampak gelisah.
           Rio memandang Sarah sebentar. Walau tak tega rasanya meninggalkan gadis itu sendirian. Namun ia tak ingin keduluan diserang oleh anak-anak itu.
           “Maafkan aku, Sa. Aku harus membantu teman-teman,” ujar Rio sambil menatap dalam-dalam gadis di depannya yang nampak gelisah. “Cepat-cepat pulang ke rumah lewat jalur lain, Sa, agar kau selamat.” 
           Rio beranjak mengikuti langkah Dion. Jalannya amat tergesa-gesa. Sarah dibuat terpana tak mampu mencegahnya.
           “Rio…Rio…!!” teriaknya serak, namun suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk deru kendaraaan dan hingar-bingar lautan anak-anak sekolah.
           Sarah terpaku sendiri. Ia takut kali ini akan mendapat celaka. Ah, kenapa ia mesti ikut-ikutan begitu. Padahal sejak ia mengenal Rio dua tahun yang lalu, di matanya, dia adalah pemuda yang tampan, pintar dan tak suka bertingkah bahkan tergolong cowok yang manis perilakunya. Hal itulah yang membuat ia jatuh hati padanya. Rio adalah cinta pertamanya. Pengganti kasih sayang yang hilang dari Tonny, kakaknya itu pergi dan tak akan pernah kembali. Kepergiannya membuat Sarah kesepian karena tak punya saudara kandung lagi. Ia memang hanya dua bersaudara.
           Namun yang membuat hati Sarah amat terpukul adalah cara kematian kakaknya itu. Ia korban perkelahian antar pelajar. Perutnya ditusuk oleh salah seorang pelajar sekolah lawannya. Sungguh menyakitkan!
**************

           Sarah jadi trauma dengan peristiwa itu. Dan kini, Rio kekasihnya malah bermain-main dengan nyawanya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Apapun alasannya, pikir Sarah. Aku tak mau kehilangan orang-orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Dan tanpa pikir panjang lagi ia berlari menerobos sesaknya trotoar oleh anak-anak sekolah. Ia tak peduli tubuhnya bertabrakan dengan anak-anak itu. Kupingnya seakan tuli oleh cacian dan makian di sekitarnya. Hanya satu tekadnya: menyusul Rio dan menyelamatkan jiwanya.
           “Rio…! Rio…!”
           Ia terus berlari menuju perempatan lampu merah, tempat dimana tawuran terjadi. Dan ketika langkahnya hampir mendekat, entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah batu nyaris menampar mukanya kalau saja ia tidak cepat berkelit menghindar. Namun hal itu tak meluluhkan tekadnya untuk terus mencari Rio.
           “Rio…! Rioooo…!” teriaknya lantang.
           Sementara di sekitarnya keributan semakin menjadi. Bukan hanya batu-batu dan botol-botol saja yang melayang, tapi berbagai umpatan dari muka-muka beringas menambah keriuhan suasana. Satu persatu wajah-wajah itu diperhatikan oleh Sarah, kalau-kalau ada Rio. Tapi kemana anak itu? Pikirnya kalut. Dan berkali-kali ia nyaris kena lemparan batu dan botol.
           “Rio…! Rio…!”
           Ia terus mencari sosok Rio.
           “Hai cewek, minggir, ngapain lu kemari? Udah pingin mati ya?” sentak seseorang yang membuat Sarah dongkol.
           Dan tawuran kali ini nampaknya lebih parah dari kemarin. Banyak sekali anak-anak sekolah baik dari sekolah seberang maupun sekolahnya Sarah sendiri yang turun. Seperti biasa jalanan macet total, toko-toko menutup pintu dan kendaraan mencari jalur lain. Hanya bedanya kali ini tak diambil pusing oleh Sarah, yang dipikirkan hanya keselamatan Rio.
           Maka ketika ia melihat sosok Rio sedang dengan gagahnya melempar batu-batu ke arah lawan di barisan depan, ia langsung memburunya tanpa melihat kanan-kiri lagi. Matanya terus tertuju pada Rio, takut menghilang. Dan Sarah terus berlari kencang,  namun  belum  sampai  ke tempat Rio berada, tiba-tiba ia merasa ada benda berat yang menghantam bagian belakang kepalanya. Bruggh! Rasanya sakit sekali! Kepalanya jadi pusing. Pandangan matanya kabur, tubuh seakan berputar. Semakin lama putarannya kian kencang. Akhirnya tubuhnya tak mampu menjaga keseimbangan, terhuyung dan ambruk, dibarengi jeritan yang menyayat.
           “Rioooo....!”
           Ia tak sadarkan diri. Semuanya jadi gelap!

***************

           “Sarah...Sarah...”
           Bisikan itu semakin jelas terdengar di telinga Sarah. Kemudian ia merasakan ada yang membelai tangannya. Hangat. Dibukanya perlahan kelopak matanya. Ia agak kaget karena di samping pembaringannya sudah berdiri sosok yang sangat dirindunya, Rio. Ia tak peduli dengan kepalanya yang diperban habis dijahit. Sarah mengulurkan tangannya dan memeluk erat-erat tubuh Rio.
           “Rio....” ucapnya lirih. “Kau baik-baik saja?”
           Rio mengangguk pelan. Ia jadi malu pada diri sendiri. Karena disaat terkena musibah, Sarah masih memikirkan dirinya. Betapa besar dan tulus cintanya padaku, pikir Rio.
           “Maafkan aku, Sarah,” katanya pelan. “Akulah yang membuatmu jadi begini. Mulai sekarang aku tak akan ikut-ikutan tawuran lagi. Aku ingin bersamamu selalu, Sarah.”
           Rio membalas pelukan Sarah. Keduanya larut dalam kelegaan. Sementara kedua orang tua Sarah hanya memandang kedua remaja itu dari ambang pintu dengan rasa haru. 
   

0 Response to "Bisikan Itu"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.