Cara Atasi Miom Tanpa Operasi

Miom memang bukan penyakit mematikan seperti kanker.Tetapi kehadirannya dapat mengganggu organ reproduksi. Bisa timbul keluhan nyeri haid hingga mengganggu proses kehamilan. Mengatasi miom biasanya dengan cara operasi. Namun, selain operasi bisa dilakukan cara lain yaitu dengan obat-obatan. Seperti apa?

Myoma urteri atau miom merupakan istilah medis untuk tumor dinding rahim, yang termasuk tumor jinak pada rahim. Menurut dr. Ardiansjah Dara, SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, awalnya adalah sel otot di rahim namun berubah menjadi tumor dan menempel di otot dinding rahim tersebut. Ukurannya mulai dari sebesar kacang polong hingga sebutiranggur.Miom itu kenyal dan bisa tumbuh cepat maupun lambat. Awalnya satu, tetapi lama-kelamaan menjadi banyak. Menurut data statistik medis sebagiah besar kasus miom tidak berbahaya karenajarang yang berubah menjadi kanker.

Miom timbul karena ada sel di rahim yang tidak normal, sehingga jika terpapar oleh hormon estrogen atau hormon wanita dia bisa membesar. Kalau sudah membesar biasanya ada keluhan seperti nyeri saat datang bulan,darah haid banyak, serta mengganggu proses saat hamil sehingga harus dioperasi. Namun terkadang penderita miom tak menyadari dirinya terkena penyakit miom. Dijelaskan oleh dr. Frizar Irmansyah, SpOG (K), dokter spesialis kandungan dan kebidanan, penyakit miom tidak memiliki gejala-gejala yang pasti.

Sementara dilihat dari tempat tumbuhnya, miom terdiri atas tiga macam,pertama, myoma sub serosa, tumbuh keluardari dinding rahim bahkan bisa mempunyai tangkai. Kedua, myoma intra mural, tumbuh di dalam dinding rahim. Ketiga, myoma sub mucosa, tumbuh ke dalam ronggga rahim. Miom jenis ini bisa bertangkai bahkan sampai keluar ke jalan lahir.

Genetik. Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti terjadinya,tetapi diduga karena faktor turunan keluarga atau yang biasa disebut dengan faktor genetik. Semua wanita bisa terkena miom tapi lebih sering terjadi pada wanita yang ibunya mempunyai riwayat miom, karena miom bersifat genetik.

Faktor lainnya adalah ketidakseimbangan emosi atau stres. Studi terbaru yang dilakukan oleh Harvard University, Amerika Serikat menemukan stres bisa memicu terjadinya peningkatan hormon prolaktin (hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa bagian depan yang ada di dasar otak). Padahal, bersama dengan indung telur dan endometrium (dinding rahim dalam), hormon ini berperan besar dalam menentukan siklus haid, banyaknya darah haid serta lamanya haid seorang wanita.

Akibat ketidakseimbangan hormon inilah akan menyebabkan terjadinya gangguan siklus haid.Tak masalah jika kondisi ini terjadi sesekali. Namun jika yang terjadi waktu yang lama, maka siklus haid pun bisa jadi tak menentu. Ketidakteraturan siklus haid ini otomatis akan menyebabkan peningkatan kadar hormon estrogen dalam tubuh.

Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan yang jelas, maka lama-kelamaan kadar hormon estrogen dalam tubuh pun akan semakin tinggi. Ketidakteraturan siklus haid ini membuat hormon progesteron yang selama ini berfungsi sebagai penyeimbang hormon estrogen sudah tidak mampu lagi mengimbanginya.

Daya tahan tubuh yang rendah, pola hidup tidak seimbang,terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, gangguan pada produksi hormon atau infeksi dan jamur dalam rahim juga bisa menjadi perangsangan pertumbuhan miom. Penyakit miom itu . dikendalikan faktor hormonal terutama hormon estrogen, dan miom cenderung berkembang pada masa reproduksi.
Myoma uteri bukanlah kanker,tetapi bisa rrtenimbulkan banyak masalah antara lain kemandulan, pendarahan melalui jalan lahir." Meskipun penyakit miom ini tidak bersifat mematikan, namun perawatan dan pencegahannya tetap harus dilakukan. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit ini yaitu operasi dan non operasi. Jika melakukan operasi, pengangkatan miom ini termasuk operasi sedang.Operasi ini berfungsi untuk mengangkat miom yang menempel baikdi dalam maupun di luar rahim. Namun, meski miom telah dioperasi menurut dr. Ardiansjah, mioma bisa saja tumbuh kembali karena bisa saja ada sel yang abnormal tumbuh kembali di dinding rahim bagian yang lainnya.

Operasi untuk miom dapat dilakukan dengan cara insisi perut maupun dengan laparoskopik (membuat beberapa lubang melalui perut). Pada miomektomi laparoskopik, luka lebih kecil dan lebih cepat sembuh. Namun, tekniktersebut memiliki keterbatasan karena tidak semua mioma dapat dibuang dengan teknik tersebut tergantung jenis miom.

Cara kedua adalah non-operasi yaitu dengan memberikan obat yang dapat menahan haid karena sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium. Namun, untuk pengobatan non-operasi hanya sebatas mengecilkan miom, tidak bisa menghilangkan.

Menurut dr. Ivan R. Sini, FRANZCOG, GDRM, SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, obat-obat yang digunakan yang bersifat menekan peningkatan hormon estrogen ataupun obat-obatan yang memiliki kemampuan memperkecil kadar hormon estrogen. Seperti obat-obatan golongan GnRH analog.Obat ini bisa bekerja selama dikonsumsi secara teratur. Begitu obatnya tidak dikonsumsi lagi secara rutin, miom dapat tubuh lagi.

Oleh karena itu kedokteran menciptakan alat IUD (spiral) mireal,yakni spiral yang dibungkus oleh hormon progesteron,yang merupakan hormon penyeimbang hormon estrogen. Spiral dipasang di area V, dan akan mengeluarkan hormon progesteron yang bisa menekan pertubuhan hormon estrogen sehingga miom akan tetap kecil. Sebaiknya imbangi dengan pola makan.Tidakdianjurkan makan makanan yang merangsang pertumbuhan miom seperti jeroan, makanan berlemak, makanan berpengawet, vetsin, serta buah nangka dan durian. Dianjurkan makan makanan yang bersifat antikarsinogen seperti labu siam dan daun kecipir sebagai lalapan.
Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment