Sulap Ban Bekas Jadi Barang Berkualitas

Bagi kebanyakan orang, ban bekas hanya dianggap sebagai sampah. Namun bagi Sindu Prasetyo yang merupakan inisiator Komunitas Sapu, ban bekas dianggap sebagai "emas" setelah ia berhasil mengolahnya menjadi berbagai barang berkualitas yang dapat dijual kernbali seperti tas, dompet, gantungan kunci dan aksesoris lain. Menariknya adalah hasil karyanya dipasarkan hingga ke Eropa.

Ide awal terbentuknya Komunitas Sapu yang berpusat di Salatiga ini adalah ketika Sindu terlibat dalam Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK), berbasis di kota yang sama. TUK menggunakan kesenian untuk mengedukasi masyarakat dengan tujuan mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Berangkat dari situlah Komunitas Sapu juga mengambil konsep yang sama, dengan membuat produk kesenian dari limbah daur ulang seperti ban bekas, plasttk minuman, majalah bekas dan lainnya menjadi barang yang lebih berkualitas dari sisi ekonomi.

2 hal positif dari aktifitas Komunitas Sapu dapat diambil. Pertama adalah mengangkat sisi ekonomi warga Desa, Tetap, Gambir, Salatiga untuk mendapatkan penghasilan. Kedua adalah mengurangi sampah dalam hal ini ban bekas. Karena kebanyakan orang hanya membiarkan ban bekas diletakkan begitu saja, padahal berpotensi sebagai tempat genangan air yang disukai nyamyk demam berdarah. Atau kalau tidak ban-ban bekas tersebut dibakar yang sebenarnya sangat berbahaya jika asapnya dihirup oleh manusia.

Oleh karena itu kegiatan upcycling dalam hal ini mengubah barang dengan nilai ekonomi rendah menjadi berkualitas tinggi sangat memiliki nilai positif. Apalagi ban bekas memiliki kekuatan yang baik dan juga awet.

Awal pertama Sindu mencoba untuk memproduksi barang daur ulang adalah pada tahun 2010. la mencoba dengan bahan plastik, dan ternyata kurang kuat dan awet untuk memproduksi barang. Setelah melakukan beberapa eksperimen, akhirnya ia menemukan bahwa ban bekas sangat cocok.

Pada saat itu ia.masih bekerja sendiri dan otomatis omzetnya juga kecil, maksimal hanya'Rp 1.000.000. Namun ia percaya bahwa kerajinan yang dirintis ini mampu berkembang karena belum ada yang menggungkan ban bekas sebagai bahan tas dan aksesoris. Untuk penjualan, Sindu menitipkan barangnya ke 2 toko di Jogjakarta. Menariknya adalah hasil karyanya justru dilirik oleh wisatawan asing, bukan masyarakat lokal.

Alhasil mulai tahun 2012 usahahya mulai berkembang dan omzetnya meningkat hingga 15 juta rupiah per bulannya. Sindu pun butuh bantuan untuk mengerjakan pesanan, tentunya demi pesanan yang mulai bertambah banyak dari luar negeri seperti Belanda, Perancis, Inggris dan Australia. Sebenarnya jika dirupiahkan, barang-barang jualannya termasuk terjangkau. Seperti gelang yang dibandrol Rp 20.000, dan tas laptop yang paling mahal dengan harga Rp 350.000.

Melihat produk Komunitas Sapu yang berkualitas, seorang warga Belanda pun mengajukan diri sebagai distributor aksesori untuk wilayah Eropa. Bahkan distributor tersebut membuatkan website untuk mendukung pemasarannya.

Usaha yang dilakukan oleh Komunitas Sapu ini tentu saja nilainya sangat positif. Sindu sendiri berkali-kali menjadi pembicara di sekolah dan kampus mengenai pengolahan dan pemanfaatan limbah, la juga memiliki sebuah workshop di lereng Merbabu yang biasa didatangi oleh pelajar dan mahasiswa.yang ingin mempelajari .proses upcycling. Sebuah komunitas tentu harus membawa pesan positif unluk masyarakat sekitar bukan?

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment