Menaklukkan Depresi Lewat Ibadah Puasa

Menaklukkan Depresi Lewat Ibadah Puasa - Pada hakikatnya, berpuasa tak hanya menyehatkan tubuh. Lebih dari itu, karena kegiatan ibadah ini merupakan sarana untuk melatih pengendalian diri (self control), iapun bisa diandalkan sebagai pengendali rasa stres. Berdasarkan beberapa studi, sejak memasuki masa krisis multidimentsional, jumlah penderita stres di Indonesia menunjukkan peningkatan. Alhasil, aksi bunuh diri pun kerap terjadi di mana-mana. Buruknya, tak sedikit orang melampiaskan stres pada praktik-praktik kriminal.

Stres bisa terjadi ketika seseorang tak mampu mengendalikan dirinya terhadap dorongan emosi, keinginan-keinginan maupun hawa nafsu. Dalam kondisi demikian, ia akan menderita kelainan dalam perasaan, pikiran maupun tingkah lakunya. Keadaan itu tak hanya mengganggu yang bersangkutan, melainkan orang-orang di seki-tarnya.

Biasanya, semakin dewasa sese-orang, kemampuannya dalam mengendalikan dorongan emosi, baik yang datang dari dalam maupun luar dirinya, akan meningkat. Saat melakukan ibadah puasa, latihan pengendalian diri tak hanya berkaitan dengan urusan makan minum. Lebih dari itu, termasuk juga menahan diri untuk tidak berkata-kata yang tidak benar, meluapkan kemarahan, menjalankan aktivitas seksual di siang Ihari, berburuk sangka, dan memelihara pikiran-pikiran jelek.

Ibadah puasa mengajarkan pula .pada kaum Muslim bahwa nafsu makan maupun nafsu minum harus dikendalikan. Seperti pesan Rasulullah SAW; berhentilah makan sebelum kita kenyang atau biarkan sepertiga lambung kita kosong. Orang yang tak mampu mengendalikan nafsu makan berpotensi terperangkap ke dalam kerugian. Selain mengalami obesitas, juga berkemungkinan diterjang bebagai jenis penyakit atau komplikasi akibat kegemukannya. Komplikasi tak hanya terjadi karena jumlah makanan yang dikonsumsi, melainkan juga dari jenis makanannya.

Apalagi bursa bahan pangan Indonesia kini diserbu barang-barang impor yang manfaatnya bagi tubuh belum tentu seimbang dengan harganya. Dalam hal rasa, mungkin sedap membelai lidah, namun kadang-kadang efek sampingnya sungguh di luar dugaan karena mengandung unsur-unsur merugikan seperti kandungan kolesterol yang tinggi, bahan pengawet atau bahkan kehalalannya meragukan. Maka, makan dan minum secara berlebihan sebaiknya dihindari.

Sisi positif lain dari ibadah puasa adalah melatih kaum Muslim agar tetap dalam lingkaran kehidupan yang sederhana, latihan berbuat sosial lewat zakat fitrah, infak, dan sedekah, tidak berlebihan apalagi bermewah-mewah. Ini semua merupakan kerangka tata nilai agar orang tidak terlalu ambisius dan bernafsu menghimpun harta benda atau mengejar jabatan basah di luar kemampuan.

Seseorang yang gagal mengendalikan diri dalam mengejar materi dan kebendaan duniawi tampil dengan karakter serakah dan tidak mampu lagi membedakan mana yang halal dan mana yang haram demi memperturutkan ambisi pribadi maupun keluarga. Karena kegagalan kendali ini pulalah praktik korupsi, kolusi, nepotisme, dan kriminal kian meruyak. Ujung-ujungnya, yang menjadi korban adalah masyarakat juga.

Anak-anak cenderung tidak sabar dalam memuaskan keinginannya. Mereka mudah rewel dan kadang-kadang tidak peduli terhadap kondisi orang tuanya. Namun, dengan membiasakan mereka berpuasa, anak-anak pun jadi ikut berlatih menahan diri, membuang jauh-jauh sifat manja, sekaligus berlatih mematangkan kepribadiannya. Idealnya, orang tua pun bisa menciptakan suasana Ramadan yang menyenangkan di rumah sehingga anak-anak bisa berpuasa dengan gembira, sama sekali tanpa rasa terpaksa.

Pada dasarnya, ibadah puasa merupakan contoh terbaik dari penundaan pemuasan keinginan. Kita menahan lapar dan haus, menahan diri dari tingkah laku yang tercela, demi mendapatkan kepuasan tertinggi, yakni ganjaran dan rida Allah. Menunda keinginan memang relatif, bisa beberapa detik, jam, hari, tahun, bahkan mungkin seumur hidup. Jika sudah terbiasa, orang bisa terhindar dari rasa kecewa dan putus asa.

Stres, khawatir, dan depresi adalah buah dari kesukaran hidup yang tidak tertanggulangi atau efek dari pencapaian target yang tidak sesuai rencana. Kondisi itu berawal dari ketidakpuasan yang berkepanjangan. Dengan berpuasa, kita berlatih untuk terampil bersikap ikhlas, apa adanya, dan menyerahkan segala sesuatunya pada Allah SWT., meskipun kita tetap berusaha mengatasi berbagai kesukaran tersebut. Pikiran yang disesaki kekecewaan, kemarahan, bahkan iri hati akan selalu membuat seseorang terperangkap ke dalam rasa cemas dan depresi. Perasaan cemas ini akan menguasai pikiran jika sejeorang selalu merasa kurang dan menganggap orang lain jauh lebih sempurna dibandingkan dirinya. Bersyukur dan merasa puas dengan segala yang dimiliki akan membuat kita mampu mengendalikan godaan, baik itu dalam bentuk jabatan, wanita maupun harta. Puasa di bulan Ramadan bisa mendorong kita untuk bersyukur terhadap apa yang kita miliki dan tidak kalap mengejar segala sesuatu di luar kemampuan.

Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa praktik puasa merupakan gelanggang latihan agar seseorang jadi lebih sabar. Sabar adalah upaya pengekangan diri yang paling tinggi, tegar, percaya dengan batas kemampuan diri, dan tidak terpengaruh oleh gelombang atau pasang surut keadaan. Kesabaran merupakan kelapangan dada yang mampu menetralkan segala kondisi di luar keinginan dan pertentangan. Sebaliknya, pertentangan dapat membuahkan rasa cemas dan perpecahan. Orang yang sabar pun akan melangkah penuh pertimbangan karena memiliki kematangan pemikiran, kebijaksanaan, dan kemampuan mengolah situasi karena selalu menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai penasihat ulung.

Mutiara terindah di bulan Ramadan adalah banyak melakukan ibadah sesuai anjuran agama dan berzikir mengingat Allah. Dengan berzikir, suasana hati akan lebih tenang, lebih percaya diri, dan perasaan cemas maupun gelisah akan segera sirna. Dengan zikir pula, pemusatan pikiran terhadap hal-hal yang mencemaskan dan mengganggu pikiran akan buyar, sedan-gkan benang-benang kusut yang mendatangkan keruwetan sedikit demi sedikit akan terurai. Dengan begitu, otak bisa berpikir lebih jernih dan terpusat.

Maka, adalah bukti nyata bahwa praktik berpuasa sarat akan aspek positif yang menyehatkan jiwa maupun raga. Pengendalian dan ketenangan diri pada hakikatnya merupakan sebagian manfaat dari ibadah puasa yang ujung-ujungnya bisa mengusir stressor (segala sesuatu yang bisa menyebabkan stres) maupun rasa tertekan akibat prahara ataupun kesukaran hidup yang selalu membayangi. 
Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment