Saum Ramadan dan Libido Seks

Menurut bahasa, saum bermakna menahan. Sedangkan saum menurut syariah ialah menahan dari makan, minum, hubungan suami-istri, dan semua hal-hal yang membatalkan saum, dengan niat ibadah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan lapar dan haus untuk beberapa jam mungkin tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Bahkan sudah merupakan hal biasa bagi mereka yang terbatas ekonominya. Yang mungkin jadi persoalan, adalah ketika harus menahan syahwat seks karena siapa pun bisa melakukan dengan pasangan sahnya, tanpa terhalang keterbatasan ekonomi.


Besarnya stimulan seks dari lingkungan, membuat permasalahan tersendiri ketika memasuki bulan Ramadan. Betapa tidak, larangan berhubungan seks di siang hari atau batal saum karena berhubungan seks, bukan saja mewajibkan qada (menggantinya di bulan lain), namun pelakunya juga harus membayar denda atau hukuman. Bila tidak mampu saum selama 2 bulan berturut-turut, maka memberi makan orang fakir dan miskin.

Dengan makin maraknya rangsangan yang menjurus ke masalah seks di seluruh akses kehidupan, membuat kaum pria cenderung mengeksploitasi seks. Sedang kaum hawanya dituntut untuk selalu seksi.

Libido pada manusia lebih dipengaruhi oleh empat faktor yaitu kejiwaan, fisik, lingkungan, dan pengalaman seksual. Artinya, jika kondisi jiwa, fisik, lingkungan dan pengalaman seksualnya baik, maka libidonya juga akan normal. Sebaliknya, libido dapat terganggu jika salah satunya terganggu. Jika fisik sedang sakit, misalnya, yang bersangkutan akan kurang bergairah. Tapi dari semua faktor itu yang paling berpengaruh adalah pengalaman seksual.

Semua pengalaman terekam di otak. Begitu juga dengan pengalaman seksual. Pada saat diperlukan, maka memori ini akan diputar ulang. Pengalaman yang indah akan membuat gairah lebih cepat timbul dan mencapai puncak. Sebaliknya, pengalaman seksual yang tidak menyenangkan akan membuat seseorang tidak bergairah atau kehilangan gairahnya.

Dr. Schnarch, staf pengajar pada Institut Kinsey, dalam laporan hasil penelitiannya tentang seks menyatakan hormon kecil pengaruhnya terhadap libido seksual seseorang. Meski menjelang menstruasi keinginan wanita untuk melakukan hubungan seks umumnya meningkat, tapi itu bukan berarti hormon-hormon yang mengontrolnya.

Jika dikontrol hormon, maka gairah akan hilang setelah menopause. Tapi kenyataannya tidak. Gairah mereka tidak berhenti hanya karena biologisnya berubah, malah sering semakin meningkat. Banyak wanita memiliki alasan emosional dalam menciptakan hasrat, sejauh mereka tidak perlu khawatir untuk hamil.

Efek dari hormon, menurut Schnarch, juga sama pada pria. Walaupun banyak hormon yang memengaruhi hasrat pada pria, namun pengaruh utama terhadap kebiasaan seksual adalah pikiran. Jadi, jika hormon pria berada di bawah tingkat normal, maka gairah seksualnya akan menu-run. Tapi bila hormonnya di atas normal, gairahnya juga tidak akan meningkat.

Pemahaman ini menjadi sangat penting ketika mengaitkan antara saum dan libido seksual. Dalam satu hadis, Rasulullah pernah memberikan bimbingan kepada pria yang belum berkemampuan menikah. Seperti dituturkan sahabat beliau Abdullah bin Mas'ud r.a: "Maka barangsiapa yang tidak mampu menikah, hendaklah dia saum. Karena saum itu dapat mengendalikan nafsu."

Hakikat saum sebagai pengendalian pikiran, harus dipahami dengan baik. Pemahaman tidak menjadi keliru, karena larangan berhubungan badan sangat berbeda dengan keadaan menahan lapar dan dahaga. Dan keistimewaan saum menurunkan libido ini tidak serta-merta. Karena Allah sendiri mengetahui bahwa libido seks tidak dapat dibunuh begitu saja hanya dengan saum. Al Barra' r.a. berkata, "Ketika telah turun kewajiban bersaum di bulan Ramadan, mereka tidak mendekati istri mereka selama sebulan Ramadan penuh, dan ada beberapa orang yang tidak dapat menahan nafsunya."

Lantas, Allah SWT menegur dengan menurunkan ayat ke 187 surat Al Baqarah yang berbunyi "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu."

Kekuatan pikiran dibalik dahsyatnya libido seks lelaki juga tak mampu teredam dengan kombinasi Ramadan dan keterbatasan ekonomi. Simak saja penuturan seorang sahabat yang diri wayatkan Abu Hurairah r.a, "Seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw lalu berkata,"Binasalah aku wahai Rasulullah". Rasulullah kemudian bertanya: "Apakah yang telah membinasakanmu?" Lelaki itu menjawab,"Aku telah bersetubuh dengan istriku pada siang hari di bulan Ramadan."

Rasulullah bertanya, "Mampukah kamu memerdekakan seorang hamba?" Lelaki itu menjawab. Tidak." Rasulullah bertanya kembali, "Mampukah kamu bersaum selama dua bulan berturut-turut?" Lelaki itu menjawab. "Tidak." Rasulullah saw bertanya lagi. "Mampukah kamu memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin?" Lelaki itu menjawab,"Tidak". Kemudian ia duduk dan Rasulullah pun memberikan kepadanya suatu bungkusan yang berisi kurma lalu bersabda, "Sedekahkanlah ini." Lelaki tadi berkata, "Tentunya kepada orang yang paling miskin di antara kami. Tiada lagi di kalangan kami di Madinah ini yang lebih memerlukan dari keluarga kami." Mendengar ucapan lelaki itu Rasulullah tersenyum sehingga kelihatan sebahagian giginya yang putih. Kemudian ia bersabda, "Pulanglah dan berikanlah kepada keluargamu sendiri."

Bila dikupas lebih dalam, sebenarnya aktivitas seks bukan hanya tindakan suami istri yang diakhiri dengan penetrasi penis pada vagina. Namun bisa pula sekadar bercumbu atau segala aktivitas yang dapat membangkitkan syahwat. Akan tetapi, untuk hal ini, Rasulullah tak melarang.

Seperti dituturkan sahabat Umar bin Abu Salamah r.a,"Aku bertanya kepada Rasulullah saw, Bolehkah orang yang sedang bersaum mencium istrinya? Rasulullah saw menjawab, tanyakan kepada wanita ini sambil menunjuk ke arah Ummu Salamah. Wanita itu kemudian mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah melakukannya. Lalu Umar bin Abu Salamah berkata, wahai Rasulullah! Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Rasulullah s.a.w bersabda, Demi Allah aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling merasa takut kepada Allah daripada kamu."

Hanya, untuk menghindari agar tidak tergelincir, sebaiknya menjauhi aktivitas yang lebih mendorong pada hubungan suami istri. Dan dari riwayat tersebut kita dapat memahami bahwa tidaklah benar saum dimaksudkan untuk membunuh seksualitas, namun lebih diarahkan untuk pengendalian diri antar pasangan. Bahkan Islam melarang membunuh seksualitas, termasuk penghancurkan organ vital melalui pengebirian dan sejenisnya.

Utsman bin Mazh'un berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang lelaki yang merasa keberatan untuk membujang. Karena itu izinkanlah aku untuk berkebiri." Beliau menjawab, "Jangan. Akan tetapi, hendaklah engkau saum." Dalam riwayat lain, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengganti kerahiban dengan agama yang lurus dan lapang untuk kita.

Saum akan bermakna pada pengendalian libido seksual bila berhasil memengaruhi cara berpikir, gaya berpikir, dan kandungan pikiran. Rutinitas ibadah dikala Ramadan, psikis dan fisik, memengaruhi dan mengendalikan pikiran-pikiran yang menggelorakan libido syahwat. Inilah makna saum sesungguhnya.

Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan, "Di antara manfaat-manfaat spiritual bahwa saum membiasakan orang untuk bersabar, menguatkan kesabarannya, mengajarkan pengendalian diri, membantunya dalam mengendalikan diri, memunculkan sifat takwa dalam diri dan mengembangkannya. Maka beribadahlah kala berpikir, dan berpikirlah kala ibadah. Tiada agama kecuali untuk makhluk berpikir." ***

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment