Menangkap Misteri Lailatulkadar

Ketika kita telah memasiki sepuluh hari terakhir ibadah saum (puasa) di bulan Ramadan, waktu itu adalah saat-saat seorang hamba meraih prestasi gemilang dalam perjalanan ibadah saum. Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah saat-saat seorang hamba mendapatkan Lailatulkadar, malam yang penuh kemuliaan nilainya lebih dari ibadah seribu bulan. Ibarat sebuah pendakian, sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah saat mulai menapaki tangga-tangga akhir. Akankah mencapai puncak tertinggi dalam pendakian itu?

Fenomena yang muncul menarik untuk diamati pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah adanya dua perilaku masyarakat Muslim yang berbeda. Pertama, mayoritas orang mulai merasa lelah, jemu, dan ingin secepatnya mengakhiri bulan saum dengan suka cita dan pesta pora. Pertokoan penuh dipadati dan persiapan mudik ke kampung halaman segera dipenuhi tak peduli apakah saumnya diterima Allah atau tidak. Kedua, hanya sebagian kecil saja akan disaksikan hamba-hamba yang khusuk dalam ibadah saum sehingga lebih mempersiapkan diri untuk segera sampai di puncak spiritual yang telah disediakan Tuhan di malam-malam terakhir dengan "pengasingan diri". Mereka lebih rindu akan pertemuan dengan Tuhannya.


Makna Lailatulkadar

Kata al-Qadar mengandung tiga makna. Pertama, al-Qadar berarti "mulia". Dikatakan mulia karena Alquran untuk pertama kali diturunkan pada malam tersebut, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang bermakna mulia ditemukan pula dalam surah Al-An'am ayat 91 yang berbunyi, "Mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia..."

Kedua. al-Qadar bermakna "keberkahan", sehingga Lailatulkadar dipahami sebagai malam keberkahan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan dengan firman Allah yang terdapat dalam surat 44 ayat 3 yang berbunyi, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan." Pada malam tersebut Allah menetapkan khithah dan strategi nabi-Nya guna mengajak manusia pada jalan yang benar dan pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok sosial.

Ketiga, al-Qadar bermakna "sempit". Dikatakan bermakna sempit karena secara harfiah ukuran satu malam relatif sempit yang bertepatan dengan turunnya malaikat ke bumi. Kata qadar yang mengandung pengertian sempit digunakan Alquran antara lain dalam ayat 26 surah Al-Ra'du yang berbunyi, "Allah melapangkan rezeki bagi orang yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendaki-Nya."

Dari ketiga pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Lailatulkadar adalah malam kemuliaan yang diberkahi Allah dan terbatas kepada orang yang mau meraihnya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang sangat terbatas. Seorang narti ia akan mendapatkan kemuliaan yang diberkahi dalam menetapkan hidupnya untuk masa yang akan datang. Para malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril, karena kemuliaan, keberkahan dalam waktu cukup terbatas itu turun karena izin Allah untuk memberikan sambutan akan kemuliaan malam itu sampai terbit fajar.

Mengapa pada sepuluh malam terakhir? Sebagaimana dijelaskan di awal, Lailatulkadar akan turun pada sepulum malam terakhir bulan Ramadan. Sepuluh malam terakhir adalah titik puncak perjalanan spiritual manusia untuk memperoleh kemuliaan setelah melalui proses panjang selama dua puluh hari sebelumnya. Nabi Muhammad sendiri ketika menerima wahyu pertama Surat Al-'Alaq (1-5), yang menurut sebagian mufasir itu adalah awal Lailatulkadar, terjadi setelah melalui proses panjang tahanuts di Gua Hira. Dalam sejarah diceritakan bahwa selama kurang lebih tiga tahun setelah Nabi Muhammad melakukan tahanuts, barulah dapat menangkap sinyal Ilahiyat berupa wahyu.

Sirah Nabawiyah tersebut mengisaratkan bahwa untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi terlebih dahulu harus dilakukan dengan cara mengasingkan diri untuk mendapatkan kesucian diri melalui tahanuts. Halnya dengan bulan Ramadan, dari tanggal satu sampai tanggal dua puluh adalah persiapan diri untuk dapat menangkap semua sinyal Ilahiyat yang dapat ditangkap ketika melakukan perenungan diri sedalam-dalamnya.

Analogi yang paling sederhana dapat dijelaskan dalam sistem komputer. Ibadah puasa yang dilaksanakan selama dua puluh hari pertama ibarat kita sedang meng-upgrade memori, sedangkan peristiwa Lailaulkadar itu bagaikan hardisk yang berkapasitas tinggi, delapan puluh giga misalnya. Jika dalam proses upgrade itu hanya mampu meningkatkan memori dalam hi-tungan yang kecil, misalnya saja memori hanya dapat ditingkatkan pada level 16 saja, jangan harap dapat membaca hardisk ukuran delapan puluh giga. Kalaupun dapat membaca, tentu dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dengan analogi di atas, dari tanggal satu sampai tanggal dua puluh Ramadan merupakan waktu untuk berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan kemampuan kalbu, intuisi, dan dzauq (rasa) melalui latihan-latihan agar dapat dengan mu-dah menangkap sinyal Dahiyah yang diturunkan melalui perantara turunnya para malaikat yang berada di alam tengah.

Pandangan ini akan lebih dipahami dalam perspektif filsafat iluminasi bahwa secara hierarki wujud ini terdiri dari tiga unsur, yaitu: (1) satu unsur berada di antara alam yang bisa dipahami oleh persepsi akal (alam inderawi), (2) alam ide (alam yang bersifat nonmateri), dan (3) alam tengah sebagai perantara antara alam ide dengan alam indra.

Dalam pandangan filsafat iluminasi mengasumsikan bahwa, raga bisa merohani dan rohani bisa meraga yang diidentjfikasi melalui akal ke sepuluh yang dalam teologi dikenal dengan sebutan Malaikat Jibril. Alam tengah ini (Malaikat Jibril) berkewajiban menuntun manusia menuju pengetahuan, melindungi, membimbing, membela, menenangkan, membawa mereka ke kemenangan akhir. Sementara itu, dalam diri manusia terdapat jiwa akali yang senantiasa berjuang agar dapat bersatu dengan alam malaikat, yakni akal aktif, hingga saat terbitnya cahaya, ketika jiwa mampu bangkit keluar dari kegelapan yang memenjarakannya.

Kiat Meraih Lailatulkadar

Dengan gambaran tentang keagungan, kemuliaan, keberkahan, bahkan penentu masa depan hidup manusia, siapapun ingin dapat meraih Lailatulkadar tanpa kecuali. Namun, pertanyaan segera akan muncul sudahkah mempersiapkan diri untuk mendapatkan malam yang penuh kemuliaan itu? Sudahkan dengan analogi komputer tadi kita meng-upgrade diri kita sehingga mencapai level memori yang dapat membaca hardisk berkapasitas delapan puluh giga?

Setelah melakukan muhasabah (introspeksi) yang mendalam tentang diri kita melalui salah satunya iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dalam uapaya mempersiapkan diri mendapatkan Lailatulkadar, selanjutnya kita memilih apa yang disebut dalam ajaran Islam sebagai tempat suci, waktu-waktu suci, dan jiwa-jiwa suci.

Masjid adalah tempat yang paling suci dan yang sangat pantas untuk menantikan Lailatulkadar. Di samping itu, menurut para sufi sebagaimana dinyatakan Mulia Sadra (tokoh sufi dan teologi dari aliran Syiah) kita mesti menyadari bahwa untuk mencapai pengajaran langsung dari Tuhan, diperlukan proses penyucian lalbu dari segala hawa nafsu, mendidiknya agar tidak terpesona kemegahan duniwai, dengan mengasingkan diri dari pergaulan, merenungkan ayat-ayat Tuhan sehingga dia menyadari kelemahan dirinya dan meyakini bahwa dia tidak memiliki sesuatu apa pun. Hal tersebut akan segera membang-kitkan semangat yang begitu mahadahsyat sehingga berkobarlah kalbunya dengan cahaya yang gilang gemilang dan pada akhirnya terbukalah di hadapannya rahasia dari sebagian ayat-ayat Allah dan bukti-bukti yang meyakinkan.

Sementara itu, menurut al-Ghazali (tokoh sufi dan teologi dari Sunny menyatakan untuk memperoleh kejernihan tentang diri dan masyarakat sekitar, orang harus melakukan pengasingan diri sehingga untuk beberapa waktu lamanya ia tidak terlibat dalam kehidupan nyata sehari-hari. Harapannya adalah dia akan mampu merenung tentang diri dan masyarakatnya secara jujur. Alasan-nya ialah bahwa kita tidak mungkin memahami suatu masalah secara benar jika kita sendiri terlibat dalam masalah itu. Tentunya, keterlibatan kita akan mempengaruhi pandangan dan penilaian kita sehingga terjadi kekeliruan sebab umumnya kita memandang sesuatu hanya sesuai dengan yang kita inginkan sendiri. Dengan demikian, dalam 'uzlah itu dituntut kesungguhan batin dalam melihat masalah secara jujur. ' Dengan demikian. selama kita melakukan iktikaf, di samping melakukan ibadah ritual seperti salat baik wajib maupun sunah, kita juga dituntut untuk mencoba menundukkan nafsu yang menjerumuskan ke dalam keburukan pada jiwa agar kekuatan imajinasi dan fantasi, serta ilusi tertarik untuk mengkhayalkan alam kesucian dan tidak memikirkan hal-hal duniawi. Kemampuan ini harus diasah dengan jalan melaksanakan ketaatan. Ke-taatan itu akan tampak manakala kita berupaya menjauhkan diri dari kemaksiatan (warn), warn itu pun disebabkan adanya rasa takwa; takwa akan semakin meningkat manakala kita punya kemauan untuk menghi-tung (ihtisab) amalan sendiri (muhasabah an-nafsiah); muhasabah berasal dari pengetahuan tentang adanya janji dan ancaman; sedangkan janji dan ancaman berasal dari pikiran dan pelajaran.

Selanjutnya menurut al-Gazali bahwa hamba yang sedang melakukan i'tikaf jangan sampai memiliki rasa takut dan pengharapan yang bukan pada tempatnya sebab akan mengakibatkan orang tergelincir pada kegelapan. Sebagai contoh seseorang melakukan kemaksiatan dengan begitu tenang karena ada keyakinan akan ampunan Allah.

Orang yang beriktikaf mesti berusaha mernbaca, memahami, dan mendalami Alquran dari juz 21-30 karena sepulh juz terakhir tersebut banyak berisi ayat janji dan ancaman.

Dengan demikian, ketika seorang hamba manusia berusaha menyucikan jiwanya di tempat yang teramat suci, maka ketika waktu suci melewatinya, dengan serta merta ia akan mampu menangkapnya dengan sinyal yang teramat jelas. Waktu itu, dia bagaikan mathla'i al-fajr, yakni dari dirinya akan muncul sinar yang teramit terangsang akan mampu mnuntun jalan hidup diri pribadi dan masyarakat di sekitarnya, hingga terlahirlah keselamatan di muka bumi. Jika itu yang terjadi, dan itu adalah Lailatulkadar, maka ucapkanlah doa seperti yang diajarkan Rasulullah, "Allahuma Innaka 'Afuwun tuhibbul 'afwafa'fu 'anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku). Wallahu 'alam.
Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment