Inilah Efek Puasa Bagi Kesehatan Jantung


Jendela Informasi - Durasi puasa Ramadhan berbeda-beda di berbagai belahan dunia, tergantung lamanya pajanan matahari di suatu daerah. Di Indonesia, puasa berlangsung ±13 jam dalam sehari. Dalam durasi tersebut, selain larangan untuk makan dan minum, terdapat juga larangan untuk merokok. Puasa Ramadhan merupakan tipe puasa berselang (intermittent fasting and re-feeding). Saat puasa, terjadi proses yang menyerupai proses kelaparan dan dehidrasi di dalam tubuh.

Terlebih, orang yang berpuasa tidak boleh mengonsumsi obat-obatan, baik yang diminum lewat mulut ataupun yang berupa asupan nutrisi lewat infus. Oleh karena itu, sering terjadi perdebatan apakah puasa membawa efek yang berbahaya pada tubuh?

Fisiologi Tubuh Saat Puasa 
Saat puasa akan terjadi penurunan frekuensi makan bagi beberapa orang, dari yang biasanya 3 kali menjadi 2 kali sehari. Penurunan frekuensi makan tersebut akan berakibat pada penurunan asupan energi secara signifikan. Dari suatu penelitian ditemukan, penurunan asupan energi ini lebih nyata terlihat pada laki-laki dibandingkan pada perempuan.

Perubahan jadwal makan juga mengakibatkan penurunan nafsu makan. Berkurangnya asupan energi dan menurunnya nafsu makan dapat mengakibatkan penurunan berat badan sekitar 6%, penurunan indeks, massa tubuh, penurunan massa otot, serta penurunan lingkar pinggang.

Puasa juga memiliki efek terhadap kadar gula darah. Terdapat penurunan kadar gula darah sebanyak 15% pada orang-orang dengan berat badan berlebih dan sekitar 3,3-3,9 mmol pada orang dewasa normal beberapa jam setelah puasa dimulai. Namun, tubuh memiliki mekanisme untuk menjaga kadar gula dalam darah. Saat kadar gula dalam darah rendah, tubuh akan menurunkan produksi hormon insulin dan meningkatkan produksi hormon glukagon.

Pada saat itulah tubuh memproses gula darah baru di dalam tubuh melalui proses yang dinamakan glukoneogenesis. Oleh karena itu, meskipun pada beberapa hari pertama puasa terjadi penurunan kadar gula darah, pada hari ke-20 terjadi normalisasi kadar gula dan bahkan pada hari ke-29 terjadi sedikit peningkatan kadar gula darah, tetapi masih dalam batas fisiologi tubuh.

Saat bulan puasa juga terjadi penurunan kadar total kolesterol sebanyak 38%, penurunan kadar kolesterol LDL (atau yang dikenal dengan kolesterol "jahat") dan trigliserida yang disertai dengan peningkatan kolesterol HDL (atau yang dikenal dengan kolesterol "baik"). Perubahan kadar kolesterol dalam tubuh memiliki pengaruh pada kesehatan jantung yang akan dibahas kemudian.

Parameter kesehatan tubuh lainnya yang perubahannya cukup signifikan saat puasa Ramadhan adalan penurunan denyut jantung atau heart rate. Penurunan denyut jantung ini merupakan hasil dari proses fisiologis dan psikologis. Saat puasa, terjadi penurunan aktivitas simpatik yang mengakibatkan turunnya kecepatan metabolik dalam tubuh dan turunnya denyut jantung.

Turunnya denyut jantung juga dipengaruhi oleh kadar gula darah yang lebih stabil. Selain itu, hal ini juga dipengaruhi oleh terjadinya perubahan status mental pada orang-orang yang sedang berpuasa Ramadhan karena peningkatan aktivitas ibadah yang frekuensinya lebih banyak dibandingkan di bulan-bulan selain Ramadhan.



Efek Puasa Bagi Kesehatan Jantung
Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di dunia yang salah satunya disebabkan oleh gaya hidup. Saat bulan Ramadhan, kaum Muslimin mengubah gaya hidupnya secara radikal yang mungkin dapat mempengaruhi faktor risiko penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner berawal dari sebuah mekanisme yang bernama aterosklerosis atau pembentukan plak di dalam pembuluh darah. Faktor risiko paling utama yang berhubungan dengan terjadinya aterosklerosis adalah adanya abnormalitas pada kadar lemak dalam darah, hipertensi, obesitas, dan perilaku merokok.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan pada subjek berusia 29-70 tahun dengan riwayat penyakit jantung koroner, sindrom metabolis, atau stroke, ditemukan penurunan kadar kolesterol total, LDL dan trigliserida yang disertai dengan peningkatan kadar HDL. Perubahan profit lemak dalam darah mungkin juga dipengaruhi oleh perubahan perilaku makan selama bulan puasa dimana masyarakat lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dibandingkan lemak.

Puasa Ramadhan juga berpengaruh terhadap tekanan darah. Terjadi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik meskipun penurunan pada tekanan darah diastolik tidak signifikan. Saat puasa, kaum muslimin juga dilarang untuk merokok, yang merupakan faktor penting dalam terjadinya penyakit jantung. Dengan berkurangnya frekuensi merokok, faktor risiko penyakit jantung diharapkan berkurang. Penurunan berat badan selama bulan Ramadhan juga dapat mengurangi risiko penyakit jantung.

Dengan berkurangnya faktor risiko utama aterosklerosis, terjadi perbaikan yang signifikan terhadap risiko jantung koroner. Terlebih lagi, saat tubuh dalam keadaan lapar, terdapat penghambatan zat katekolamin yang dipercaya bertanggung jawab terhadap kejadian serangan jantung di pagi hari. Aktivitas fisik dan gangguan emosi yang lebih sedikit serta gaya hidup yang tidak terlalu banyak bergerak selama puasa Ramadhan juga dapat mengurangi kejadian serangan jantung di bulan Ramadhan. [Sumber: Putri Zulmiyusrini/PR 02/07/2015]

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment