Kesucian Bulan Ramadhan Menurut Bupati Majalengka, H. Sutrisno, SE. M.Si

Maman Malmsteen 16.50.00

Jendela Informasi - Ramadhan adalah bulan suci penuh hikmah. Di dalamnya umat Islam beribadah untuk meraih kesucian akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu terangkum dalam tujuan puasa yaitu menjadi orang takwa. Takwa adalah wujud suci (bersih) lahir dan batin seorang hamba Tuhan. Melalui ibadah puasa, qiyamullail, tadarus Alquran, infak, sedekah, dan sebagainya, umat Islam berupaya memperbaiki hati (jiwa) agar senantiasa suci. Allah berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang mengotorinya ." (QS Asy-Syams: 9-10).

Kesucian (kebersihan) dalam ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik kesucian lahir maupun kesucian batin. Terminologi Islam mengenal kata al Nazhafah dalam hadis al-Nazhafatu minal iman (HR Tirmidzi) dan al-Thaharah dalam hadis al-Thuhuru syathrul iman (HR Muslim). Kedua kata tersebut drterjemahkan dengan kesucian (kebersihan).

Kesucian dalam akidah (keimanan) adalah tauhid yang terbebas dari noda syirik. Allah SWT berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun". (QS An-Nisa: 36). Termasuk di dalamnya adalah suci (bersih) dari dosa yang dapat dihapus dengan banyak tobat kepada Allah SWT, "Sesunggqhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222).

Sementara kesucian dalam ibadah diperlukan sebagai bentuk pengakuan dan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Mahasuci. Karena itu, seorang hamba yang menghadap-Nya harus pula dalam keadaan suci. Suci pakaian (termasuk tempat), suci badan dari najis dan hadas, serta suci niat dalam beribadah dengan ikhlas.

Terakhir, kesucian dalam muamalah yang menyangkut banyak hal, di antaranya mengenai kehidupan pribadi, keluarga, harta, pekerjaan, pergaulan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain. Dalam lingkup kehidupan pribadi, mencari harta dan memberi makan (nafkah keluarga), harus dengan jalan suci (bersih) atau halal cara mendapatkan dan membelanjakannya. Suci (bersih) dalam berusaha diraih melalui kejujuran, suci (bersih) dalam bekerja diraih melalui disiplin dan profesionalisme serta bukan merupakan pekerjaan maksiat. Makanan yang dikonsumsi harus suci (halal dan bergizi), baik zatnya maupun cara mendapatkannya. Harta yang dimiliki juga harus disucikan (dibersihkan) dengan zakat.

Suci dalam etika pergaulan sesama manusia, yaitu harus bersih dari prasangka buruk dengan mengedepankan husnuzan dan bertutur kata yang baik atau diam. Islam juga mengajarkan kesucian (kebersihan) lingkungan yang mencakup kebersihan rumah (termasuk rumah ibadah), pekarangan, jalan, tempat kerja, sumber air, sanitasi dan lingkungan lainnya. Rasulullah SAW bersabda: "Islam itu bersih, maka hendaklah kamu suka membersihkan diri kamu, tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih". (HR. Dalailami)

Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. EmoticonEmoticon