Waspada Batuk Saat Puasa

Jendela Informasi - Bingung banget kalau batuk lagi berpuasa, dilema mau bagaimana. Kalau mau berbuka dan minum obat, rasanya sayang, tapi kalau tidak diredakan batuknya akan terus-terusan dan takut dahak akan tertelan.

Mengalami batuk di tengah kondisi berpunsa seperti saat ini, memang merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Apalagi, musim peralihan sudah di depan mata. Kalau sedang berpuasa dan terus-menerus batuk karena tenggorokan gatal, sangat mengganggu aktivitas dan pastinya akan tidak nyaman.

Risiko terjadinya batuk saat berpuasa bisa dua kali lipat dibandingkan dengan kondisi tidak berpuasa. Selain faktor cuaca yang bisa menurunkan daya tahan tubuh, tak adanya lubrikasi saat rongga mulut kering, dehidrasi juga bisa memicu terjadinya batuk.

Hal itu terutama berpotensi besar terjadi pada awal-awal bulan Puasa karena perubahan fungsi dan kebiasaan yang terjadi di dalam tubuh sehingga daya tahan tubuh berkurang. Kondisi itu menyebabkan saat terserang virus atau baktei metabolisme tubuh bisa langsung terganggu.

Batuk bisa semakin mengganggu karena saat berpuasa, tak boleh ada cairan dari luar yang melintasi kerongkongan. Rongga mulut yang kering karena tidak adanya lubrikasi, meningkatkan faktor terjadinya batuk. Bukan ibadah puasa yang menyebabkan seseorang berpotensi mengalami batuk. Namun, kondisi tubuh yang dimiliki seseorang saat berpuasa adalah faktor utama yang membuat seseorang bisa batuk. Untuk itu, cara termudah yang bisa dilakukan, dengan menangkal si pengganggu tenggorokan itu adalah memperkuat daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi.

Apalagi, dalam terminologi medis, puasa bertujuan mengistirahatkan pencernaan. Namun, agar tak menirnbulkan gangguan, membutuhkan daya tahan tubuh yang optimal. Sebenarnya faktor pencegahan adalah hal yang paling mudah dilakukan, yaitu pastikan bahwa kita sedang sehat-sehatnya saat akan mulai melakukan ibadah puasa sehingga bisa menangkal efek ini. Lalu, bagaimana jika sudah berpuasa dan baru muncul keluhan batuk?
|
Untuk sedikit meredakan batuk, coba mengatur pernapasan dan berhenti beraktivitas sebentar. Terlalu banyak berbicara juga merangsang pita suara untuk gatal kemudian memicu batuk. Konsumsi obat batuk tiga kali juga direkomendasikan, yaitu saat berbuka puasa, menjelang tidur dan sahur.

Sementara itu, untuk anak-anak, bergantung kepada orangtua untuk menilai apakah batuk sudah dalam kategori parah sehingga puasa sebaiknya ditunda atau bisa diteruskan. Apalagi, sistem imun tubuh anak paling mudah terganggu.

Selain itu, agar menghorrnati orang lain saat kita mengalami gangguan batuk. Misalnya dengan penggunaan masker dan membawa tisu atau sapu tangan untuk menutup batuk. Penggunaan tangan untuk menutup batuk yang tidak ditindaklanjuti dengan cuci tangan, juga meningkatkan faktor risiko penyebaran kuman.

Imun Tubuh
Lalu, bagaimana jika bukan kita yang terserang batuk, melainkan orang di sekitar kita? Sangat penting agar kita menutup dengan tisu atau sapu tangan saat batuk Namun, tak semua orang refleks melakukannya. Jika di sekitar kita ada orang yang batuk tetapi tak refleks menutup mulut, reaksi wajar yang sebaiknya kita lakukan adalah segera mundur atau menjauhi secara halus.

Saat batuk, seseorang mengeluarkan gelembung air liur. Secara mikroskopis, kecepatan gelembung itu mencapai 70 hingga 160 kilometer per jam Jika di dalam gelembung itu sudah terdapat bakteri atau virus, sangat rentan menular kepada orang lain. Ada sekitar 20.000 virus yang keluar saat seseorang terbatuk. Kelihatannya memang sederhana, tapi dampaknya cukup serius jika terus dianggap sepele.

Namun, berbagai hal yang berpotensi mengancam kesehatan itu juga bukan berarti haras disikapi secara berlebihan. Intinya daya tahan tubuh yang didapatkan dari mengonsumsi air putih lebih dari 2 liter per hari, makan buah dan sayur, lalu tidur cukup selama enam jam.

Batuk? Hindari Ini!
Saat berbuka puasa, makanan dan minuman manis yang seharusnya berkadar normal yang dicecap lidah dan tenggorokan, bisa dua kali lebih pekat. Hal itu menyebabkan tenggorokan terganggu dan bisa menimbulkan gangguan batuk keesokan harinya.

Berbuka puasa dengan yang manis boleh, tapi harap diartikan dengan yang kadar manisnya secukupnya atau terukur, misalnya kurma atau teh hangat dengan gula sedikit saja, jangan yang manisnya berlebihan. Kadar gula tinggi justru merangsang terjadinya gangguan pada tenggorokan. Meski sudah banyak diketahui dan sering dianggap sepele, tak sedikit orang yang masih saja mengalami gangguan batuk yang terjadi karena pola makan yang terlalu manis saat sahur dan berbuka puasa.

Batuk saat ini menjadi gangguan yang sering terjadi dan hampir dapat ditemukan kapan dan di mana saja. Rentannya kondisi masyarakat terhadap batuk disebabkan beberapa hal, seperti gaya hidup tak sehat berupa konsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya, berbahan pengawet, gorengan, dan memiliki kadar gula tinggi. Polusi udara yang terjadi di sekeliling juga memicu terjadinya batuk.

Makanan atau minuman yang memiliki suhu ekstrem juga bisa menyebabkan gangguan pada tenggorokan. Suhu yang terlalu dingin atau panas, akan memicu rasa yang tidak nyaman pada tenggorokan dan rongga mulut sehingga menyebabkan batuk. Saat berbuka puasa, tubuh masih melakukan adaptasi sehingga asupan sebaiknya memiliki kadar atau suhu yang tak terlalu ekstrem.

Kita terkadang lupa, jadi karena sudah menahan haus seharian dan cuaca panas, inginnya berbuka dengan yang dingin-dingin. Untuk itu, pengaturan asupan makanan mutlak harus dilakukan saat sahur dan berbuka puasa. Selain menghindarkan batuk, juga menghindarkan gangguan pencernaan dan tubuh lainnya. Selamat berpuasa!

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment