Rainbow Garden, Taman Pelangi yang Penuh Aneka Warna Bunga

Maman Malmsteen 17.27.00
Jendela Informasi - Dengan cuacanya yang sejuk, daerah Lembang di Kabupaten Bandung Barat masih menjadi destinasi wisata yang menarik. Mengandalkan pemandangan alam, dataran tinggi di wilayah Bandung bagian utara itu menyimpan banyak keindahan.

Kali ini, Anda akan diajak untuk menikmati keajaiban taman pelangi di Lembang. Uniknya, sebagian tanamannya dapat dimakan (edible flower). Tentu saja Anda harus menanyakan kepada staf disana, tanaman mana saja yang termasuk golongan yang dapat dimakan.

Rainbow Garden satu kompleks dengan destinasi wisata Floating Market Lembang. Ada dua jalan masuk, dari Floating Market atau dari Hijab Swimming Pool.

Di depan loket karcis, Anda langsung disuguhi lapisan hamparan bunga di antara pohon-pohon tinggi dan hijau khas dataran tinggi seperti pinus dan cemara. Anda juga akan menemukan barisan bunga aneka warna merah, kuning, dan hijau di bagian depan Rainbow Garden.


Barisan bunga aneka warna ini seperti mengingatkan kita pada Taman Keukenhof di Belanda dalam versi mini. Rainbow Garden memang terinspirasi dari taman bunga yang banyak hadir di Eropa.

Pemilik Rainbow garden ingin membuat sebuah taman bunga yang cukup luas agar pengunjung dapat bebas mengelilinginya sambil menikmati keindahan alam. Yang cukup unik, sekitar 70 persen tanamannya merupakan edible flower. Saat ini edible flower juga tengah tren dijadikan garnish pada menu kuliner.

Di atas lahan seluas 1 hektar, Rainbow Garden dibuat sebagai destinasi swafoto kekinian di Bandung. Taman bunga ini juga meliputi beberapa titik agar dapat didatangi pengunjung. Beberapa spot untuk mengambil gambar ada di anjungan atau dek kayu, rumah kaca, pintu hobbit, hingga hamparan bunga lavender, dan rumah batik.

Di belakang rumah kaca disediakan pula tempat untuk membeli tanaman hidroponik. Selain membeli, pengunjung juga bisa berlatih menanam hidroponik pada staf Rainbow Garden. Selain tanaman, dijual juga pupuk serta bibit tanaman.

Siapkan tenaga untuk menyusuri taman cantik ini. Anda bisa berswafoto dengan bebas di banyak spot yang memang disediakan untuk berfoto oleh pengelola. Jika lelah, tak perlu khawatir, banyak tempat duduk di setiap jalur penyusuran di taman. Untuk beberapa kelompok tanaman, diberi keterangan nama bunga dan tanaman untuk menambah wawasan pengunjung.

Seluruh konsep taman bunga ini merupakan kreasi dari pemilik lahan yang memang mencintai tanaman. Selain tanaman yang biasa dijumpai sehari-hari, ditanam pula bunga-bunga yang cukup jarang seperti sakura atau irian plant.

Meskipun bergaya taman bunga di Eropa, hampir semua yang ditanam adalah tanaman khas tanah air. Tanaman lokal negeri kita juga beragam dan kaya. Warna-warnanya cantik dan tentu lebih cocok tumbuh di wilayah negeri sendiri.

Beberapa jenis bunga dan tanaman yang bisa ditemukan antara lain ramidang, mary-gold, sakura, mahrit, chrysant, blue ice, pakis, nastursium, mawar, kribo, tapak dara, rosemary, geranium, petunia, daisy, sutra bombay, kupa landak, strawberry, raspberry, blueberry, tanaman rambat honghia, ariancis, bunga landep, bunga dill, mint, lantana, kaktus, rotensia, juga lavender.

Akan tetapi, memasuki musim hujan, bunga-bunga di Rainbow Garden tak mekar secantik biasanya.Hal itu karena rata-rata bunga yang ditanam adalah bunga musim panas. Akibatnya, saat musim hujan tiba banyak bunga yang busuk.

Pengelola Rainbow Garden sepertinya memang sudih siap dengan kegiatan swafoto pengunjung. Selain menyiapkan banyak spot bagus untuk menyalurkan hobi swafoto, menyusuri taman ini hingga ke penghujungnya bisa menjadi sarana olah raga ringan seperti joging dan jalan santai.  [Sumber: Eva Fahas/PRM/26/11/2017]

Wanawisata Curug Layung Bandung

Maman Malmsteen 08.39.00
Jendela Informasi - Keindahan alam Kabupaten Bandung Barat memang sangat memanjakan para pencinta alam. Salah satu spot wisata yang wajib dikunjungi adalah Wanawisata Curug Layung. Curug di dalam bahasa Sunda artinya air terjun.

Wanawisata Curug Layung berada pada ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Curug ini adalah salah satu dari beberapa curug yang terdapat di aliran Sungai Cimahi.

Wanawisata Curug Layung terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Wanawisata Curug Layung ini terbilang masih baru; destinasi wisata ini dibuka pada tahun 2012.


Sebelum menjadi tempat wisata, area ini sempat ditutup untuk umum karena seluruh lokasi dipakai untuk latihan Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Berbeda dengan curug-curug lain, jarak dari pos masuk menuju curug sekitar 500 meter dan jalan menuju Curug Layung terbilang landai hingga cocok bagi keluarga yang membawa anak atau lansia.

Curug Layung tidak terlalu tinggi. Tepat di bawah curug tersebut terdapat kolam alami dan luas yang cocok untuk berenang karena airnya cukup bersih dan jernih. Curug ini berada di deretan paling atas pada aliran Sungai Cimahi, menuju hilir semakin ke bagian bawah masih terdapat curug lain, yakni Curug Lalay, Curug Panganten, Curug Cimahi, Curug Bugbrug, dan Curug Tilu.

Mata kita akan dimanjakan dengan hijaunya hutan serta perkebunan teh karena lokasinya di kaki Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu. Selain itu, pemandangan indah Kota Bandung terlihat jelas di bagian selatan akan memanjakan pengunjung.

Wanawisata Curug Layung memiliki fasilitas yang lengkap, seperti mushala, area kamping, selfie deck, saung, dan warung penjual makanan.

Menuju Wanawisata Curug Layung ini terdapat dua jalan utama yang bisa dilewati, yakni dari arah Bandung atau Lembang, serta dari arah Cimahi kemudian lewat jalur Komando sekitar satu kilometer dari tempat wisata Dusun Bambu dan lewat jalur daerah wisata CIC (Ciwangun Indah Camp). 

Info Singkat
Nama: Wanawisata Curug Layung
Pengelola: Perum Perhutani KPH Bandung Utara dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan 
                  (LMDH) Desa Kertawangi
Luas: + 20 hektar, 2,5 hektar luas area Curug Layung
Tiket masuk: Hiking Rp 10.000/orang, Camping Ground Rp 15.000/orang/malam

[Sumber: Eno/PRM/12/11/2017]


Tips Mempercantik Dinding dengan Elemen Dekoratif

Maman Malmsteen 05.51.00
Jendela Informasi - Dinding merupakan pembatas antara satu ruangan dan ruangan yang lain. Namun fungsinya tak hanya itu. Dengan sentuhan yang tepat, dinding juga bisa berfungsi sebagai elemen dekoratif yang mempercantik tampilan hunian.

Jika dulu orang cenderung hanya mengkreasi dinding lewat warna cat yang beragam serta foto, sekarang tampilannya menjadi jauh lebih atraktif. Kini, hampir semua hal (yang sesuai dengan tema ruangan) bisa menjadi elemen dekorasi dinding.

Beberapa dekorasi yang dulu dianggap aneh diaplikasikan, bukan tak mungkin kini justru banyak digandrungi. Inspirasi yang datang dari media sosial seperti Instagram dan Pinterest turut melesakkan tren ini.


Sebagai contoh, papan tulis dengan tulisan tangan, kolase ataupun karya yang terbuat dari bahan daur ulang, cat dinding yang diaplikasikan dengan paduan warna nyentrik dan teknik nyeleneh, elemen kayu hasil workshop, hingga kerajinan tangan seperti anyaman tali dan makrame. Semua benda tersebut sah-sah saja bertengger di dinding dan ampuh menjalankan fungsinya untuk mempercantik hunian.

Desainer interior Nidiya Valensia mengatakan, elemen dekorasi dinding sudah tak asing lagi di tanah air. Kebanyakan digunakan dalam berbagai bentuk desain, terutama di tempat umum yang membutuhkan suasana nyaman dan menarik. Konsep tersebut belakangan banyak diadaptasi pada hunian pribadi. Ketika pengaruh media sosial menjadi begitu kuat, orang bisa dengan mudah mendapatkan inspirasi. Akhirnya, wall decoration semakin marak diterapkan orang-orang. Semakin ke sini, perbedaan gaya dekorasi dinding antara hunian di dalam dan luar negeri juga kian menipis. Bahkan, menjadi tak ada bedanya.

Secara umum penggunaan elemen dekoratif dinding dianggap penting untuk meningkatkan nilai estetis ruangan. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang lain, hal itu tak terlalu dianggap penting dengan berbagai alasan. Kalau pemiliknya hanya mengaplikasikan dekorasi dinding karena suka atau mau, menjadi tidak terlalu penting Tapi, secara umum wall decoration memiliki tujuan dan fungsi yang bisa dipakai, baik untuk alasan nilai multifungsi.

Secara estetis, dekorasi dinding bisa membangun suasana rumah ataupun ruangan. Dengan pemilihan yang tepat, rumah akan terlihat lebih indah.

Tak hanya memenuhi unsur estetis, keterbatasan ruang pada rumah minimalis menumbuhkan kecenderungan baru, yaitu pemilihan elemen dekoratif yang berfungsi ganda. Misalnya, pajangan dinding yang juga berfungsi sebagai rak buku atau rak penyimpanan barang, hingga figura yang tak hanya bisa ditempeli foto, tetapi juga dibubuhi tulisan tangan. Dengan begitu, tak hanya memiliki fungsi ganda, elemen dekoratif itu juga bisa membangun suasana rumah.

Namun penting adanya kesesuaian antara dekorasi rumah yang ingin diaplikasikan dan konsep ruangan. Jangan sampai ruangan itu seperti gado-gado, semua ada tetapi tidak enak dipandang dan tidak memiliki arah hanya karena salah memilih desain dan jenis dekorasi.

Untuk itu tinjau kembali kebutuhan dan tema suatu ruangan sebelum menentukan elemen dekoratif apa yang ingin dipajang. Misalnya, apa suasana yang mau diciptakan dari penambahan wall decoration. Selain itu, lihat juga dari elemen-elemen lain di ruangan tersebut. Baru kemudian bisa menarik benang merah yang akan menyambungkan satu desain dengan desain lainnya dalam satu ruangan tersebut.

Hal ini diperlukan untuk membangun harmonisasi ruangan. Contohnya, jika tema suatu ruangan adalah tradisional, wall decoration yang akan dipasang itu juga perlu penyesuaian desain agar menyatu. [Sumber: Endah Asih/PRM/12/11/2017]

Kubisme, Gerakan Seni Lukis Revolusioner

Maman Malmsteen 19.49.00
Jendela Informasi - Ketika kritikus penyair Apollinaire memperkenalkan George Braque pada Pablo Picasso, pada akhir 1907, maka perkenalan itu menjadi amat  bersejarah.   Karena  kerjasama yang mengiringinya akan melahirkan gerakan seni lukis modern yang dikenal paling revolusioner dalam sejarah yang disebut Kubisme.

Kedua sahabat ini berangkat dari latar belakang yang amat berbeda. Picasso saat itu sudah meraih reputasi dan nama baik sebagai pelukis berbakat. Nama Picasso saat itu bisa disejajarkan dengan popularitas pelukis Henri Matisse yang menjadi jaminan mutu.

Les Demoiselles d'Avignon karya Pablo Picasso

Sedang Braque, yang berusia enam bulan lebih muda dari Picasso, kala itu dianggap pelukis pupuk bawang yang tidak punya prestasi apapun. Kecuali dalam eksposisi karyanya di Salon des Independants, ia berhasil menjual banyak lukisannya dalam corak Fauvisme yang diborong oleh kolektor Jerman, Wilhelm Uhde.

Mereka menjadi akrab. Bekerja bersama, mengunjungi galeri dan museum, serta saling mendiskusikan hasil karya masing-masing. Persahabatan ini memuncak pada 1911tatkala pada musim panas, mereka menciptakan lukisan kubistis di Ceret, di Pyrenees. Hasilnya adalah karya cipta yang saling mempengaruhi satu sama lain hingga sulit membedakan karya masing-masing karena kemiripannya.

Ketika bulan Maret 1909, seorang kritikus Prancis, Louis Vauxelles, menyaksikan sebuah karya Braque di Salon des Independants, ia mengomentari karya Braque sebagai "reduces everything to little cubes". Artinya menempatkan segala sesuatunya pada bentuk kubus kubus kecil.

Maka mulai saat itulah dipakai istilah Kubisme untuk memberi ciri karya semacam itu. Sebuah aliran seni lukis telah menetas.

Sang Pelopor
Kubisme merupakan cabang seni rupa yang sepenuhnya baru dalam sikapnya memandang alam dan karya seni rupa, dalam gaya nonimitative (tidak meniru). Kunci lahirnya aliran ini dimulai dengan lukisan karya Picasso berjudul Les Demoiselles d'Avignon (Wanita-wanita dari Avignon) 1907, yang mengandung elemen-elemen geometris. Dengan lukisan itu pula, bersama Braque, Picasso dianggap sebagai pelopor aliran ini. Tapi memang cukup sulit untuk mengatakan, siapa sebenarnya yang paling besar peranannya dalam melahirkan aliran ini. Hal ini konon bisa terjadi karena selama mereka bekerja bersama, hasil ciptaan mereka tiada berbeda. Persis sama.

Tapi kritikus John Galding, dalam bukunya mengatakan: "Kritikus dan penulis kontemporer, bagaimanapun secara bulat mengatakan Picasso sebagai penemu dan pemimpin aliran kubisme ini. Kadang-kadang nama Braque adalah pasangan yang tidak dapat dipisah dengan nama Picasso. Tapi Braque hampir selalu dianggap sebagai pengikut  Picasso. Pengenyampingan nama Braque ini memang aneh karena ia adalah pelukis Kubis yang pertama. Kalau dibandingkan dengan Picasso, Braque adalah pelukis yang benar-benar memamerkan  karya  Kubis  di salon umum."

Memang sejarah bisa bicara lain. Tapi tanpa mengenyampingkan peranan Braque, sebenarnya kedua tokoh ini adalah seorang jenius dalam bidangnya.

Kubisme bisa muncul, setelah kedua tokoh ini berangkat dari penggalian dua sumber seni lainnya. Sumber pertama adalah adanya pengaruh kesenian primitif seperti topeng suku Afrika, patung suki Iberia dan basrelief (ukiran timbul) seni Mesir. Dan sumber kedua, dan yang lebih pokok, adalah pengaruh lukisan pelukis Paul Cezanne, terutama karya still life dan pemandangan yang digarapnya sebelum meninggal. Cezanne, tokoh yang dianggap oleh kritikus Herbert Read sebagai bapak pelopor seni lukis modern, dalam lukisannya telah mengenalkan bentuk geometri baru. Ia juga mematahkan tradisi perspektif jaman Renaisans dan menciptakan perspektif baru yang diaduk dalam satu tema lukisan.

Bergerak atas dasar dua sumber itu, Picasso menerapkannya dalam karya ciptanya. Begitu juga dengan Braque yang segera meninggalkan gaya Fauvisme-nya ke dalam idiom Kubisme awal. Ini bisa disimak dari beberapa karya Braque yang digelar pada pameran di Salon des Independants. Pada pameran.ini banyak tanggapan positif dilontarkan oleh para pengamat seni. Jika Vauxcelles menjuluki karya Braque dengan "cubes", komentar yang sama dilempar oleh Gil Bias yang menyebut lukisannya sebagai bizarries cubiques" (kubus ajaib). Dan tatkala Braque menyerahkan beberapa lukisannya ke Salon d'Automne pada tahun 1908, maka pelukis Matisse yang kebetulan duduk sebagai juri juga melukiskan karya Braque tersusun atas unsur "petits cubes" (kubus kecil).

Kubisme Analitis
Perkembangan Kubisme dalam tahap awal dimulai pada 1908-1909 yang segera mengarah lebih kompleks dalam corak yang lebih sistematis pada tahun 1910-1912. Fase pertama sering disebut dengan istilah Kubisme Analitis. Obyek lukisan harus dianalisa. Semua elemen lukisan harus dipecah-pecah terdiri atas faset-faset-nya atau dalam bentuk kubus. Obyek lukisan kadang setengah digambar dari samping persis dan setengahnya lagi dilihat seperti dari atas. Wajah manusia yang diekspos digambarkan seperti terlihat dari samping dengan mata yang seharusnya nampak dari depan.

Para pelukis kubis ini, sebenarnya telah membuat pernyataan ruang dan waktu yang sering juga disebut sebagai dimensi keempat dalam lukisan. Pola perspektif lama telah ditinggalkan dan tiada jalan lain selain menempuh jalan baru: ruang dan waktu.

Perhatian mereka terhadap realitas telah menjadikan kaum kubis memasukkan potongan kata dan huruf yang digunting dari surat kabar. Guntingan kalimat ini mereka rekatkan pada kanvas dan membentuk suatu komposisi geometris. Kadang juga tulisan yang terbentuk hasil coretan tangan mereka secara langsung. Eksperimen dalam teknik menempel ini disebut kolase atau papier colle, sebagai garapan baru dalam seni lukis. 

The Great Parade karya Fernand Leger

Tahun 1910 sesudah eksperimen Picasso dan Braque mulai dikenal umum, Kubisme berkembang dengan cepat. Beberapa pelukis bergabung dalam gerakan revolusioner ini. Mereka juga menciptakan variasi lain yang kreatif. Termasuk di antara mereka adalah: Albert Gleizes, Jean Metzinger, Fernand Leger, Robert Delaunay, Jacues Villon, Juan Gris, Marcel Duchamp, dan Roger de La Fresnaye. Beberapa nama di atas, seperti Duchamp dan Delanauy, setelah lepas dari Kubisme telah mengolah kubisme menjadi gaya pribadi mereka yang khas.

Kubisme Sintetis
Kalau dalam periode analitis lukisan Braque dan Picasso hanya terbatas menggunakan tiga warna pokok, maka dalam periode sintetis perkembangannya akan lain. Terutama sesudah pecah Perang Dunia I, lukisan mereka dan para pengikutnya seperti Gris, lebih ekspansif dan bertaburan penuh warna ceria.

Berdasar pada pengalaman dan eksperimen pada tingkat awal, para pelukis ini melanjutkan kreativitas mereka dengan berbagai variasi. Terutama dalam soal tema Kubisme yang diterapkan dalam periode yang dikenal sebagai Kubisme Sintetis ini. Gaya Kubisme Sintetis mulai meninggalkan variasi sudut pandang yang menjadi ciri khasnya kemudian beranjak ke tingkat berikutnya dalam menggarap kolase.

Pematung Kubisme
Tahun 1909, Picasso mulai menciptakan patung kubisme-nya. Tapi ia tidak sendirian karena banyak pematung kubisme lain yang mencoba menerapkan konsep dan teorinya dalam seni patung. Mereka antara lain Alexander Archipenko, Raymond Duchamp-Villon, Jaqcues Lipchitz, Henri Laurens, Brancusi. Memang perhatian mereka dalam seni patung kusibme berlangsung tidak lama. Karena masing-masing kemudian mencari corak yang lebih skulptural.

Pengaruh Kubisme
Pengaruh aliran ini yang paling nyata adalah peranannya meratakan jalan bagi lahirnya seni kontemporer selanjutnya yaitu Dadaisme, Surealisme, dan Seni Abstrak.
[Sumber: Ipong Purnama Sidhi/HAI no 14/IX/2015]

Mengenal Imam Syafi'i Sebagai Penyair

Maman Malmsteen 17.32.00
Jendela Informasi - Imam Syafi'i dikenal di Indonesia, sebagai tokoh pendiri mazhab fiqh (hukum Islam) Syafi'i. Bersama Imam Hanafi, Maliki dan Hambali, Syafi'i merupakan satu di antara empat tokoh pendiri mazhab fiqh yang paling banyak pengikutnya. Mazhab Syafi'i tersebar di kalangan umat Islam di Indonesia, Malaysia, Thailand, Yaman, Irak, Yordania, Suriah, Mesir, Turki. Hampir semua buku (kitab) yang dipelajari para santri di pesantren-pesantren Indonesia adalah susunan para ulama pengikut Imam Syafi'i. Terutama kitab fiqh, tafsir Quran, hadits, aqidah, akhlak, sosial dan politik. Dapat disebut antara lain, kitab-kitab fiqh Taqrib (Abu Suja), Fathul Qarib (Abu Qasim), Nihayatul Muhtaz (ar Ramli), Tuhfatul Muhtaj (Ibnu Hajar al Haitami), Majmu Syarah Muhazzab (an Nawawi).

Di bidang tafsir : Jalalain (ash Shuyuti dan al Mahalli), Tafsirul Quranul Azim (Ibnu Katsir), Mafatihul Ghaib (Fahruddin ar Razi), Marahul Labid (Syekh Nawawi Banten). Di bidang hadits: Sahih Bukhari (Imam Bukhari), Fathul Bari (Ibnu Hajar al Asqalani), Riyadhus Shalihin (an Nawawi), Bhulughul Maram (Ibnu Hajar al Asqalani). Di bidang akhlak: Ihya Ulumuddin (Imam Gazali). Di bidang sosial politik: Adabud Dunya wad Dien (Abu Hasan al Mawardi), Al Ahkamush Shulthaniyah (Abu Hasan al Mawardi). Pada masing-masing bidang, para ulama dan karyanya tersebut di atas, memiliki keistimewaan masing-masing. Namun dalam urusan fiqh, mereka tetap mengacu kepada hasil rumusan (ijtihad) Imam Syafi'i.



Tapi sesungguhnya, Imam Syafi'i bukan hanya seorang ulama ahli fiqh bertaraf mujtahid (pelaku ijtihad). Imam Syafi'i menguasai pula ilmu-ilmu lain di luar ilmu fiqh. Beberapa buku riwayat hidup (thabaqat) para ulama besar Islam tempo dulu, termasuk buku Tabaqathusy Syafi'iyyah karya Taqiyuddin Subqi, menyebutkan setiap selesai salat subuh, Imam Syafi'i memimpin majelis taklim yang dihadiri para ulama ahli ilmu-ilmu Alquran, hingga menjelang salat Duha. Setelah itu, memimpin majelis taklim yang dihadiri para ulama ahli hadits hingga masuk waktu salat duhur. Kemudian memimpin majelis taklim yang diikuti para ahli bahasa dan sastra. Mendiskusikan masalah-masalah tatabahasa (Syaraf-Nahwu), keindahan bahasa (Balagah), seluk beluk ilmu sastra (Arudh dan Qawafi). Dalam kata lain, pengetahuan Imam Syafi'i sangat holistik (menyeluruh), namun sekaligus spesialistik, karena tiap ilmu dikuasainya sungguh-sungguh dan mendalam.

Maka tidak mengherankan, jika Imam Syafi'i mampu menulis puisi-puisi bernilai sastra tinggi. Karyanya sejajar, bahkan mungkin melebihi karya-karya para penyair yang khusus berprofesi sebagai sastrawan. Hanya karena lebih terkenal sebagai pendiri mazhab fiqh terbesar di dunia, kiprah kepenyairan Imam Syafi'i agak terabaikan. Di samping itu, bagi Imam Syafi'i sendiri menulis puisi merupakan bagian tak terpisahkan dari kewajibannya sebagai ulama penuntun umat. Dan puisi-puisi yang ditulisnya juga sangat erat melekat dengan karya-karyanya yang lain di bidang hukum fiqh. Terutama kitab Al Umm ("Induk"), sebuah kitab fiqh yang menjadi sumber dari kitab-kitab karya para ulama pengikuinya dari generasi ke generasi. Karena itu, hampir dalam setiap kitab-kitab fiqh karya para ulama Syafi'yyah (pengikut Imam Syafi'i) suka terdapat satu dua bait puisi sebagai "pemantap" sebuah uraian. Bahkan banyak karya mengenai satu hal, semuanya ditulis dalam bentuk puisi. Seperti Alfiyah karya Ibnu Malik, yang membahas tata bahasa Arab, terdiri dari seribu untaian bait puisi.

Imam Syafi'i nama lengkapnya Muhammad bin Idris. Lahir tahun 150 Hijriah di Jalur Gaza (kawasan Palestina yang sekarang menjadi sasaran gempuran Israel). Ia meninggal di Fusthat, Mesir, tahun 240 Hijriah. Menempuh masa belajar cukup panjang, luas dan beragam. Dari mulai mempelajari keaslian bahasa Arab kepada orang-orang Baduy pedesaan, hingga duduk bersimpuh di kaki Imam Malik bin Annas, mempelajari kitab Muwaththa karya masterpiece imam pendiri Mazhab Maliki itu.

Setelah mencapai tingkat keilmuan cukup tinggi, Imam Syafi'i mulai mengeluarkan pendapat tentang berbagai masalah agama (fatwa) yang berkaitan dengan hal-hal temporer dan aktual, berdasarkan hasil pemikirannya (ijtihad) menggali (istinbat) nash-nash Alquran dan hadits Nabi Muhammad saw. Pendapat-pendapatnya ketika tinggal di Irak disebut qaul qadhim (pendapat lama). Setelah pindah ke Mesir, banyak di antara pendapat-pendapatnya direvisi atau dilengkapi argumentasi baru, seusai tuntutan ruang dan zaman, sehingga dinamakan qaul jadid (pendapat baru). Banyak pendapat-pendapat dan fatwanya itu disajikan dalam bentuk puisi. Walaupun sarat pesan dan tuntunan, para ahli sastra Arab menilai, puisi-puisi karya Imam Syafi'i itu benar-benar memenuhi kaidah perpuisian. Mengandung keindahan sastra (balaghah), sekaligus mengandung hikmah dan pedoman hukum kehidupan di dunia dan akhirat. Alhasil, kepenyairan Imam Syafi'i jauh dari sosok penyair yang dilukiskan Alquran, surah asy Syu'araa ayat 224-226, yang menyatakan, para penyair diikuti orang-orang sesat, menyimpang dari jalan kebenaran, berkeliaran tanpa karuan di sembarang tempat, menyebarkan ucapan yang tak pernah mereka kerjakan.

Imam Syafi'i adalah seorang penyair yang dikecualikan dari penyair jenis itu. Sebab ia mengutamakan keimanan kepada Allah SWT, mengerjakan amal soleh kepada sesama manusia, selalu mengingat Allah serta selalu menegakkan kebenaran untuk melawan kezaliman (Q.S. asy Syu'araa: 227).

Karya-karya puisi Imam Syafi'i, sebagian besar tersebar dalam berbagai buku, baik karyanya sendiri (sebagai pelengkap dan pemanis), maupun pada buku-buku tentang riwayat hidup atau karya orang-orang terkenal. Antara lain buku-buku Wafayatul Ayan (Ibnu Khalikan), Al Bidayahwan Nihayah (Ibnu Katsir), Mu'jamul Udaba (Yaqut al Hamawy), Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya (Abu Nuairn al Asfahani), Al Muhmadun minasy Syu'araa (Abu Abdullah Al Qifthy), dan sebagainya. Kumpulan khusus puisi-puisi Imam Syafi'i, yang berasal dari puisi-puisi yang tersebar pada buku-buku tersebut, mula-mula disusun oleh Zuhdi Yakan, berjudul Diwanusy Syafi'i (1969), kemudian oleh Muhammad Afif al Zabiy berjudul Diwanusy Safi'i li Abi Abdillah Muhammad bin Idris as Syafi'i (1974).

Edisi terbaru kumpulan puisi karya Imam Syafi'i disusun oleh Abdurahman al Musthawy, berjudul Diwanul Imamusy Syafi'i (Darul Ma'rifah, Beirut, Libanon, 2003).

Tema-tema puisi Imam Syafi'i, sangat beragam. Mulai dari ajakan dan anjuran merantau, kewajiban menuntut ilmu, persahabatan, urusan rezeki, kearifan menerima takdir Allah, mengupayakan dan memelihara kemuliaan akhlak, koreksi diri (muhasabah), pemecahan masalah kehidupan, kekhusyukan berdoa, taubat, hingga keyakinan akan kebesaran rahmat Allah, dan sebagainya. Semua ragam tema tersebut, mengarah kepada satu tujuan: membimbing manusia menempuh jalan lurus sesuai dengan hukum Allah, untuk mencapai keridloan-Nya. 

Beberapa puisinya, antara lain:

Mengembara

Singa garang dapat menerkam mangsa 
Setelah keluardari sarangnya 
Dan anak panah tajam tak akan mengenai sasaran 
Sebelum jauh meninggalkan busur

Emas tetap berupa debu sebelum ditambang 
Dan pohon cendana sama dengan kayu bakar 
Selama tertancap terikat akar

Pergilah dengan penuh keyakinan 
Niscaya pengganti akan kautemukan 
Melebihi dari segala yang kautinggalkan

Berangkatlah mengembara 
Jangan diam membeku
Di tempat tertentu yang hanya satu

Berada di mana-mana
Adalah istirahat bagi orang berbudaya


Sesuai Amal Perbuatan

Orang bernasib baik akan punya nama harum
Sesekali ia mendapat kemashuran
Dari perbuatan orang lain
Diatasnamakan kepadanya secara sengaja

[Source: H. Usep Romli H.M.]