IBX59ED8B2FED208 Kubisme, Gerakan Seni Lukis Revolusioner - Jendela Informasi

Kubisme, Gerakan Seni Lukis Revolusioner

Jendela Informasi - Ketika kritikus penyair Apollinaire memperkenalkan George Braque pada Pablo Picasso, pada akhir 1907, maka perkenalan itu menjadi amat  bersejarah.   Karena  kerjasama yang mengiringinya akan melahirkan gerakan seni lukis modern yang dikenal paling revolusioner dalam sejarah yang disebut Kubisme.

Kedua sahabat ini berangkat dari latar belakang yang amat berbeda. Picasso saat itu sudah meraih reputasi dan nama baik sebagai pelukis berbakat. Nama Picasso saat itu bisa disejajarkan dengan popularitas pelukis Henri Matisse yang menjadi jaminan mutu.

Les Demoiselles d'Avignon karya Pablo Picasso

Sedang Braque, yang berusia enam bulan lebih muda dari Picasso, kala itu dianggap pelukis pupuk bawang yang tidak punya prestasi apapun. Kecuali dalam eksposisi karyanya di Salon des Independants, ia berhasil menjual banyak lukisannya dalam corak Fauvisme yang diborong oleh kolektor Jerman, Wilhelm Uhde.

Mereka menjadi akrab. Bekerja bersama, mengunjungi galeri dan museum, serta saling mendiskusikan hasil karya masing-masing. Persahabatan ini memuncak pada 1911tatkala pada musim panas, mereka menciptakan lukisan kubistis di Ceret, di Pyrenees. Hasilnya adalah karya cipta yang saling mempengaruhi satu sama lain hingga sulit membedakan karya masing-masing karena kemiripannya.

Ketika bulan Maret 1909, seorang kritikus Prancis, Louis Vauxelles, menyaksikan sebuah karya Braque di Salon des Independants, ia mengomentari karya Braque sebagai "reduces everything to little cubes". Artinya menempatkan segala sesuatunya pada bentuk kubus kubus kecil.

Maka mulai saat itulah dipakai istilah Kubisme untuk memberi ciri karya semacam itu. Sebuah aliran seni lukis telah menetas.

Sang Pelopor
Kubisme merupakan cabang seni rupa yang sepenuhnya baru dalam sikapnya memandang alam dan karya seni rupa, dalam gaya nonimitative (tidak meniru). Kunci lahirnya aliran ini dimulai dengan lukisan karya Picasso berjudul Les Demoiselles d'Avignon (Wanita-wanita dari Avignon) 1907, yang mengandung elemen-elemen geometris. Dengan lukisan itu pula, bersama Braque, Picasso dianggap sebagai pelopor aliran ini. Tapi memang cukup sulit untuk mengatakan, siapa sebenarnya yang paling besar peranannya dalam melahirkan aliran ini. Hal ini konon bisa terjadi karena selama mereka bekerja bersama, hasil ciptaan mereka tiada berbeda. Persis sama.

Tapi kritikus John Galding, dalam bukunya mengatakan: "Kritikus dan penulis kontemporer, bagaimanapun secara bulat mengatakan Picasso sebagai penemu dan pemimpin aliran kubisme ini. Kadang-kadang nama Braque adalah pasangan yang tidak dapat dipisah dengan nama Picasso. Tapi Braque hampir selalu dianggap sebagai pengikut  Picasso. Pengenyampingan nama Braque ini memang aneh karena ia adalah pelukis Kubis yang pertama. Kalau dibandingkan dengan Picasso, Braque adalah pelukis yang benar-benar memamerkan  karya  Kubis  di salon umum."

Memang sejarah bisa bicara lain. Tapi tanpa mengenyampingkan peranan Braque, sebenarnya kedua tokoh ini adalah seorang jenius dalam bidangnya.

Kubisme bisa muncul, setelah kedua tokoh ini berangkat dari penggalian dua sumber seni lainnya. Sumber pertama adalah adanya pengaruh kesenian primitif seperti topeng suku Afrika, patung suki Iberia dan basrelief (ukiran timbul) seni Mesir. Dan sumber kedua, dan yang lebih pokok, adalah pengaruh lukisan pelukis Paul Cezanne, terutama karya still life dan pemandangan yang digarapnya sebelum meninggal. Cezanne, tokoh yang dianggap oleh kritikus Herbert Read sebagai bapak pelopor seni lukis modern, dalam lukisannya telah mengenalkan bentuk geometri baru. Ia juga mematahkan tradisi perspektif jaman Renaisans dan menciptakan perspektif baru yang diaduk dalam satu tema lukisan.

Bergerak atas dasar dua sumber itu, Picasso menerapkannya dalam karya ciptanya. Begitu juga dengan Braque yang segera meninggalkan gaya Fauvisme-nya ke dalam idiom Kubisme awal. Ini bisa disimak dari beberapa karya Braque yang digelar pada pameran di Salon des Independants. Pada pameran.ini banyak tanggapan positif dilontarkan oleh para pengamat seni. Jika Vauxcelles menjuluki karya Braque dengan "cubes", komentar yang sama dilempar oleh Gil Bias yang menyebut lukisannya sebagai bizarries cubiques" (kubus ajaib). Dan tatkala Braque menyerahkan beberapa lukisannya ke Salon d'Automne pada tahun 1908, maka pelukis Matisse yang kebetulan duduk sebagai juri juga melukiskan karya Braque tersusun atas unsur "petits cubes" (kubus kecil).

Kubisme Analitis
Perkembangan Kubisme dalam tahap awal dimulai pada 1908-1909 yang segera mengarah lebih kompleks dalam corak yang lebih sistematis pada tahun 1910-1912. Fase pertama sering disebut dengan istilah Kubisme Analitis. Obyek lukisan harus dianalisa. Semua elemen lukisan harus dipecah-pecah terdiri atas faset-faset-nya atau dalam bentuk kubus. Obyek lukisan kadang setengah digambar dari samping persis dan setengahnya lagi dilihat seperti dari atas. Wajah manusia yang diekspos digambarkan seperti terlihat dari samping dengan mata yang seharusnya nampak dari depan.

Para pelukis kubis ini, sebenarnya telah membuat pernyataan ruang dan waktu yang sering juga disebut sebagai dimensi keempat dalam lukisan. Pola perspektif lama telah ditinggalkan dan tiada jalan lain selain menempuh jalan baru: ruang dan waktu.

Perhatian mereka terhadap realitas telah menjadikan kaum kubis memasukkan potongan kata dan huruf yang digunting dari surat kabar. Guntingan kalimat ini mereka rekatkan pada kanvas dan membentuk suatu komposisi geometris. Kadang juga tulisan yang terbentuk hasil coretan tangan mereka secara langsung. Eksperimen dalam teknik menempel ini disebut kolase atau papier colle, sebagai garapan baru dalam seni lukis. 

The Great Parade karya Fernand Leger

Tahun 1910 sesudah eksperimen Picasso dan Braque mulai dikenal umum, Kubisme berkembang dengan cepat. Beberapa pelukis bergabung dalam gerakan revolusioner ini. Mereka juga menciptakan variasi lain yang kreatif. Termasuk di antara mereka adalah: Albert Gleizes, Jean Metzinger, Fernand Leger, Robert Delaunay, Jacues Villon, Juan Gris, Marcel Duchamp, dan Roger de La Fresnaye. Beberapa nama di atas, seperti Duchamp dan Delanauy, setelah lepas dari Kubisme telah mengolah kubisme menjadi gaya pribadi mereka yang khas.

Kubisme Sintetis
Kalau dalam periode analitis lukisan Braque dan Picasso hanya terbatas menggunakan tiga warna pokok, maka dalam periode sintetis perkembangannya akan lain. Terutama sesudah pecah Perang Dunia I, lukisan mereka dan para pengikutnya seperti Gris, lebih ekspansif dan bertaburan penuh warna ceria.

Berdasar pada pengalaman dan eksperimen pada tingkat awal, para pelukis ini melanjutkan kreativitas mereka dengan berbagai variasi. Terutama dalam soal tema Kubisme yang diterapkan dalam periode yang dikenal sebagai Kubisme Sintetis ini. Gaya Kubisme Sintetis mulai meninggalkan variasi sudut pandang yang menjadi ciri khasnya kemudian beranjak ke tingkat berikutnya dalam menggarap kolase.

Pematung Kubisme
Tahun 1909, Picasso mulai menciptakan patung kubisme-nya. Tapi ia tidak sendirian karena banyak pematung kubisme lain yang mencoba menerapkan konsep dan teorinya dalam seni patung. Mereka antara lain Alexander Archipenko, Raymond Duchamp-Villon, Jaqcues Lipchitz, Henri Laurens, Brancusi. Memang perhatian mereka dalam seni patung kusibme berlangsung tidak lama. Karena masing-masing kemudian mencari corak yang lebih skulptural.

Pengaruh Kubisme
Pengaruh aliran ini yang paling nyata adalah peranannya meratakan jalan bagi lahirnya seni kontemporer selanjutnya yaitu Dadaisme, Surealisme, dan Seni Abstrak.
[Sumber: Ipong Purnama Sidhi/HAI no 14/IX/2015]

0 Response to "Kubisme, Gerakan Seni Lukis Revolusioner"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.