IBX59ED8B2FED208 Mengenal Imam Syafi'i Sebagai Penyair - Jendela Informasi

Mengenal Imam Syafi'i Sebagai Penyair

Jendela Informasi - Imam Syafi'i dikenal di Indonesia, sebagai tokoh pendiri mazhab fiqh (hukum Islam) Syafi'i. Bersama Imam Hanafi, Maliki dan Hambali, Syafi'i merupakan satu di antara empat tokoh pendiri mazhab fiqh yang paling banyak pengikutnya. Mazhab Syafi'i tersebar di kalangan umat Islam di Indonesia, Malaysia, Thailand, Yaman, Irak, Yordania, Suriah, Mesir, Turki. Hampir semua buku (kitab) yang dipelajari para santri di pesantren-pesantren Indonesia adalah susunan para ulama pengikut Imam Syafi'i. Terutama kitab fiqh, tafsir Quran, hadits, aqidah, akhlak, sosial dan politik. Dapat disebut antara lain, kitab-kitab fiqh Taqrib (Abu Suja), Fathul Qarib (Abu Qasim), Nihayatul Muhtaz (ar Ramli), Tuhfatul Muhtaj (Ibnu Hajar al Haitami), Majmu Syarah Muhazzab (an Nawawi).

Di bidang tafsir : Jalalain (ash Shuyuti dan al Mahalli), Tafsirul Quranul Azim (Ibnu Katsir), Mafatihul Ghaib (Fahruddin ar Razi), Marahul Labid (Syekh Nawawi Banten). Di bidang hadits: Sahih Bukhari (Imam Bukhari), Fathul Bari (Ibnu Hajar al Asqalani), Riyadhus Shalihin (an Nawawi), Bhulughul Maram (Ibnu Hajar al Asqalani). Di bidang akhlak: Ihya Ulumuddin (Imam Gazali). Di bidang sosial politik: Adabud Dunya wad Dien (Abu Hasan al Mawardi), Al Ahkamush Shulthaniyah (Abu Hasan al Mawardi). Pada masing-masing bidang, para ulama dan karyanya tersebut di atas, memiliki keistimewaan masing-masing. Namun dalam urusan fiqh, mereka tetap mengacu kepada hasil rumusan (ijtihad) Imam Syafi'i.



Tapi sesungguhnya, Imam Syafi'i bukan hanya seorang ulama ahli fiqh bertaraf mujtahid (pelaku ijtihad). Imam Syafi'i menguasai pula ilmu-ilmu lain di luar ilmu fiqh. Beberapa buku riwayat hidup (thabaqat) para ulama besar Islam tempo dulu, termasuk buku Tabaqathusy Syafi'iyyah karya Taqiyuddin Subqi, menyebutkan setiap selesai salat subuh, Imam Syafi'i memimpin majelis taklim yang dihadiri para ulama ahli ilmu-ilmu Alquran, hingga menjelang salat Duha. Setelah itu, memimpin majelis taklim yang dihadiri para ulama ahli hadits hingga masuk waktu salat duhur. Kemudian memimpin majelis taklim yang diikuti para ahli bahasa dan sastra. Mendiskusikan masalah-masalah tatabahasa (Syaraf-Nahwu), keindahan bahasa (Balagah), seluk beluk ilmu sastra (Arudh dan Qawafi). Dalam kata lain, pengetahuan Imam Syafi'i sangat holistik (menyeluruh), namun sekaligus spesialistik, karena tiap ilmu dikuasainya sungguh-sungguh dan mendalam.

Maka tidak mengherankan, jika Imam Syafi'i mampu menulis puisi-puisi bernilai sastra tinggi. Karyanya sejajar, bahkan mungkin melebihi karya-karya para penyair yang khusus berprofesi sebagai sastrawan. Hanya karena lebih terkenal sebagai pendiri mazhab fiqh terbesar di dunia, kiprah kepenyairan Imam Syafi'i agak terabaikan. Di samping itu, bagi Imam Syafi'i sendiri menulis puisi merupakan bagian tak terpisahkan dari kewajibannya sebagai ulama penuntun umat. Dan puisi-puisi yang ditulisnya juga sangat erat melekat dengan karya-karyanya yang lain di bidang hukum fiqh. Terutama kitab Al Umm ("Induk"), sebuah kitab fiqh yang menjadi sumber dari kitab-kitab karya para ulama pengikuinya dari generasi ke generasi. Karena itu, hampir dalam setiap kitab-kitab fiqh karya para ulama Syafi'yyah (pengikut Imam Syafi'i) suka terdapat satu dua bait puisi sebagai "pemantap" sebuah uraian. Bahkan banyak karya mengenai satu hal, semuanya ditulis dalam bentuk puisi. Seperti Alfiyah karya Ibnu Malik, yang membahas tata bahasa Arab, terdiri dari seribu untaian bait puisi.

Imam Syafi'i nama lengkapnya Muhammad bin Idris. Lahir tahun 150 Hijriah di Jalur Gaza (kawasan Palestina yang sekarang menjadi sasaran gempuran Israel). Ia meninggal di Fusthat, Mesir, tahun 240 Hijriah. Menempuh masa belajar cukup panjang, luas dan beragam. Dari mulai mempelajari keaslian bahasa Arab kepada orang-orang Baduy pedesaan, hingga duduk bersimpuh di kaki Imam Malik bin Annas, mempelajari kitab Muwaththa karya masterpiece imam pendiri Mazhab Maliki itu.

Setelah mencapai tingkat keilmuan cukup tinggi, Imam Syafi'i mulai mengeluarkan pendapat tentang berbagai masalah agama (fatwa) yang berkaitan dengan hal-hal temporer dan aktual, berdasarkan hasil pemikirannya (ijtihad) menggali (istinbat) nash-nash Alquran dan hadits Nabi Muhammad saw. Pendapat-pendapatnya ketika tinggal di Irak disebut qaul qadhim (pendapat lama). Setelah pindah ke Mesir, banyak di antara pendapat-pendapatnya direvisi atau dilengkapi argumentasi baru, seusai tuntutan ruang dan zaman, sehingga dinamakan qaul jadid (pendapat baru). Banyak pendapat-pendapat dan fatwanya itu disajikan dalam bentuk puisi. Walaupun sarat pesan dan tuntunan, para ahli sastra Arab menilai, puisi-puisi karya Imam Syafi'i itu benar-benar memenuhi kaidah perpuisian. Mengandung keindahan sastra (balaghah), sekaligus mengandung hikmah dan pedoman hukum kehidupan di dunia dan akhirat. Alhasil, kepenyairan Imam Syafi'i jauh dari sosok penyair yang dilukiskan Alquran, surah asy Syu'araa ayat 224-226, yang menyatakan, para penyair diikuti orang-orang sesat, menyimpang dari jalan kebenaran, berkeliaran tanpa karuan di sembarang tempat, menyebarkan ucapan yang tak pernah mereka kerjakan.

Imam Syafi'i adalah seorang penyair yang dikecualikan dari penyair jenis itu. Sebab ia mengutamakan keimanan kepada Allah SWT, mengerjakan amal soleh kepada sesama manusia, selalu mengingat Allah serta selalu menegakkan kebenaran untuk melawan kezaliman (Q.S. asy Syu'araa: 227).

Karya-karya puisi Imam Syafi'i, sebagian besar tersebar dalam berbagai buku, baik karyanya sendiri (sebagai pelengkap dan pemanis), maupun pada buku-buku tentang riwayat hidup atau karya orang-orang terkenal. Antara lain buku-buku Wafayatul Ayan (Ibnu Khalikan), Al Bidayahwan Nihayah (Ibnu Katsir), Mu'jamul Udaba (Yaqut al Hamawy), Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya (Abu Nuairn al Asfahani), Al Muhmadun minasy Syu'araa (Abu Abdullah Al Qifthy), dan sebagainya. Kumpulan khusus puisi-puisi Imam Syafi'i, yang berasal dari puisi-puisi yang tersebar pada buku-buku tersebut, mula-mula disusun oleh Zuhdi Yakan, berjudul Diwanusy Syafi'i (1969), kemudian oleh Muhammad Afif al Zabiy berjudul Diwanusy Safi'i li Abi Abdillah Muhammad bin Idris as Syafi'i (1974).

Edisi terbaru kumpulan puisi karya Imam Syafi'i disusun oleh Abdurahman al Musthawy, berjudul Diwanul Imamusy Syafi'i (Darul Ma'rifah, Beirut, Libanon, 2003).

Tema-tema puisi Imam Syafi'i, sangat beragam. Mulai dari ajakan dan anjuran merantau, kewajiban menuntut ilmu, persahabatan, urusan rezeki, kearifan menerima takdir Allah, mengupayakan dan memelihara kemuliaan akhlak, koreksi diri (muhasabah), pemecahan masalah kehidupan, kekhusyukan berdoa, taubat, hingga keyakinan akan kebesaran rahmat Allah, dan sebagainya. Semua ragam tema tersebut, mengarah kepada satu tujuan: membimbing manusia menempuh jalan lurus sesuai dengan hukum Allah, untuk mencapai keridloan-Nya. 

Beberapa puisinya, antara lain:

Mengembara

Singa garang dapat menerkam mangsa 
Setelah keluardari sarangnya 
Dan anak panah tajam tak akan mengenai sasaran 
Sebelum jauh meninggalkan busur

Emas tetap berupa debu sebelum ditambang 
Dan pohon cendana sama dengan kayu bakar 
Selama tertancap terikat akar

Pergilah dengan penuh keyakinan 
Niscaya pengganti akan kautemukan 
Melebihi dari segala yang kautinggalkan

Berangkatlah mengembara 
Jangan diam membeku
Di tempat tertentu yang hanya satu

Berada di mana-mana
Adalah istirahat bagi orang berbudaya


Sesuai Amal Perbuatan

Orang bernasib baik akan punya nama harum
Sesekali ia mendapat kemashuran
Dari perbuatan orang lain
Diatasnamakan kepadanya secara sengaja

[Source: H. Usep Romli H.M.]

0 Response to "Mengenal Imam Syafi'i Sebagai Penyair"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.