Mengenal Netflix dan Peradaban Internet Dunia


Jendela Informasi - Nama Netflix sebagai platform pengaliran daring (streaming online) sangat dikenal masyarakat dunia, terutama generasi digital native. Setelah lama dinanti, Netflix akhirnya memperluas layanannya secara global, termasuk Indonesia. Yang menarik justru bukan sebatas ekspansi itu sendiri, melainkan kenyataan mengenai penetrasi dan peradaban internet di banyak negara dengan layanan seperti Netflix sebagai "pancingannya".

Peluncuran layanan Netflix ke 130 negara di seluruh dunia oleh Reed Hasting sebagai Co-Founder dan CEO Netflix tak hanya bisa dipandang sebagai keleluasaan masyarakat dunia untuk menyalurkan hobi mengakses layanan ini. Di baliknya, juga ada isu mengenai regulasi pemerintah negara setempat terhadap pertumbuhan teknologi informasi, kecepatan jaringan internet yang bisa dinikmati masyarakat sebuah negara, dinamika sosial ekonomi masyarakat negara tertentu, hingga tren menonton dalam industri televisi.

Untuk sebagian layanan berbasis internet, ekspansi ke berbagai negara mungkin menjadi suatu hal yang tidak sulit. Tinggal menerjemahkan beberapa aplikasi ke dalam bahasa negara setempat, lalu layanan itu sudah bisa dinikmati masyarakat negara lain. Beda halnya dengan Netflix, yang harus berhubungan dengan negosiasi regulasi kepada pemerintah setempat, dan tentu saja bandwith atau sambungan internet yang stabil dan kencang.

Netflix adalah platform pengaliran daring ketika konsumen bisa dengan mudah memilih film dan serial televisi untuk ditonton kapan pun dan di mana pun, dengan harga berlangganan. Netflix dapat diumpamakan seperti halnya YouTube, namun untuk mengakses film dan serial televisi legal.

Dalam laman resmi Netflix disebutkan bahwa seseorang minimal membutuhkan kecepatan 3 Mbps untuk bisa menonton film dan serial televisi dengan kualitas SD (Standard Definition). Untuk dapat menonton dengan kualitas HD (High Definition/720p) serta Ultra-HD (1080p), masing-masing membutuhkan kecepatan sebesar 5 Mbps dan 25 Mbps. Alhasil, secara teknis, bila seseorang memakai ponsel pintar atau tablet untuk menonton, akan memerlukan setidaknya kecepatan 3G guna bisa  menonton dengan kualitas High Definition (HD), dan kecepatan 4G bila ingin merasakan kualitas Ultra-High Definition (Ultra-HD).

Selain sambungan internet, kartu kredit juga dibutuhkan untuk membayar biaya berlangganan setiap bulan. Meskipun untuk perangkat Apple, konsumen bisa menyiasatinya dengan menggunakan voucher iTunes dan melakukan in-app purchase di dalam aplikasi Netflix.

Pengaktifan Netflix di suatu negara juga bisa digunakan untuk menilai tinggi atau rendahnya respons pemerintah terhadap sensor. Sebut saja di Indonesia, yang cukup konservatif untuk urusan ini. Ingat nasib Vimeo yang masih diblokir hingga sekarang, bukanlah mustahil Netflix pun akan mengalami nasib yang sama nantinya.

Dengan peluncuran ini, konsumen di seluruh dunia — dari Singapura ke St. Petersburg, dari Sao Francisco ke Sao Paolo — dapat menikmati layanan streaming acara TV dan film secara simultan, tak lagi menunggu. Namun di balik ekspansi itu, ada beberapa negara yang dilarang untuk menjangkau Netflix oleh pemerintah AS. Negara-negara tersebut yaitu Korea Utara, Suriah, dan Crimea. Pemerintah AS tidak menyebutkan alasan mengapa di negara-negara tersebut layanan Netflix tidak diperbolehkan untuk beroperasi.

Tiongkok juga menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, tidak mudah untuk menyediakan layanan tersebut di negeri tirai bambu itu, karena memerlukan izin khusus. Selain itu, di Tiongkok  juga terdapat tiga layanan domestik yang kuat.

Di beberapa negara Asia lain seperti Thailand dan Indonesia, aktivasi layanan Netflix juga akan membuktikan sampai sejauh mana penetrasi dari peradaban internet di dua negara ini. Apalagi, dua negara itu diklaim sedang mengalami pertumbuhan agresif jika dilihat dari jumlah pengguna telefon pintar dan layanan internet. [Maman Soleman/Endah Asih - PRM/10012016]

Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. EmoticonEmoticon