Pantai Ora, Pantai Eksotis di Pantai Utara Pulau Seram


Jendela Informasi - Mendengar nama Provinsi Maluku, pasti yang terbayang adalah pantai putih dengan air laut yang bersih dengan banyak gugusan pulau yang wajib kita kunjungi untuk diving, snokerling, atau sekadar menikmati deburan ombak di bibir pantai.

Kita tidak perlu susah-susah mencari laut dalam untuk menikmati terumbu karang dan keindahan berbagai macam ikan, cukup di kedalaman 50 cm pemandangan tersebut sudah tersaji untuk kita nikmati. Bahkan, perairan di sebagian besar Pulau Seram dan Buru mempunyai kejernihan yang sangta baik sehingga beberapa penyelam menyatakan daya pandang di perairan ini bisa mencapai 15-20 meter.

Ada dua alternatif masuk Pulau Seram dari Ambon, yaitu Waipirit dan Amahai. Perjalanan baik dari Waipirit maupun Amahai akan bertemu di Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah. Masohi adalah kota terbesar di Pulau Seram. Tidak ada yang istimewa di kota ini kecuali bila kita ingin melihat bekas kerusuhan pascareformasi lalu.

Masih tampak sisa-sisa kerusuhan berupa reruntuhan bangunan yang tidak direstorasi. Kota ini sempat nyaris hangus akibat kerusuhan tersebut, sebelum dibangun kembali oleh masyarakat dan pemerintah.

Tujuan utama di Pulau Seram tentunya Pantai Ora. Untuk ke sana kita harus melewati kaki Gunung Binaiyah dari selatan Pulau Seram sampai utara. Kontur jalan berliku dan menanjak sepanjang 45 km.

Lupakan sejenak Pantai Maldives atau Bora-Bora di Hawai, tengoklah Pantai Ora, Pulau Seram, Maluku. Pamandangan eksotis dengan latar tebing dan hutan tropis di sekelilingnya, membuat Pantai Ora layak disinggahi pelancong.

Bisa dibilang Pantai Ora merupakan surga tersembunyi di pantai utara Pulau Seram. Kawasan ini sangat terpencil. Pantai Ora masuk di kawasan Taman Nasional Manusela yang merupakan kawasan konservasi dengan alam indah.

Ada banyak pilihan guest house dan resor di kawasan ini. Pantai Ora merupakan bagian dari semenanjung Sawai dan Saleman yang membentuk teluk di utara Pulau Seram, Resor yang paling terkenal tentunya Ora Beach Eco Resort, hunian dengan kamar-kamar yang berada di atas air. Tarifnya Rp 2.500.000 per malam.

Resor ini tidak bisa diakses dari darat karena terhalang oleh tebing tinggi. Kita harus menggunakan perahu dari Sawai (4,5 km) atau Saleman (1,5 km).

Banyak pilihan lain penginapan yang lebih murah, seperti di Sawai ada tiga guest house. Paling besar adalah Lisar Sawai dengan tarif Rp 300.000 - Rp 400.000 per orang per malam all in. Itu sudah termasuk makan tiga kali dan free flow kopi serta teh.

Konsepnya sama dengan Ora Beach Resort, guest house di Sawai dibangun di atas air dihubungkan dengan jembatan-jembatan kecil. Ada 30 kamar yang siap melayani tamu. Begitu juga dengan di Saleman, ada beberapa guest house yang bisa kita pilih dengan tarif terjangkau. Akan tetapi, Ora memberi kesan eksklusif karena tidak sembarang orang bisa datang ke sana. Selain itu, Ora juga memiliki bentangan pantai putih yang sangat bersih.

Sementara itu, di Sawai dan Saleman lokasinya berada di tengah permukiman penduduk. Di satu sisi akan sangat mudah bila kita memerlukan sesuatu. Di sisi lain, aktivitas penduduk menyebabkan banyak sampah berserakan dan terbawa ke laut. Sisi baiknya, warga kerap berpatroli dan memunguti sampah.

Ada satu pilihan yang dinilai merupakan pilihan terbaik, yakni menginap di Isau, Pulau Tujuh (21 km utara Pantai Ora). Tidak ada penduduk yang tinggal di situ. Namun, dua tahun lalu BUMNeg Desa Adat Pasena membangun bungalow, bernama Nusa Itu di Isau Pulau Tujuh. Tarifnya, Rp 400.000 per malam. Jika ada tamu menginap, empat pegawai BUMNeg akan bertugas di sana. Untuk mencapai Nusa Itu, kita bisa menyewa perahu dari Saleman atau Sawai atau bisa sekalian dicarikan melalui pengelola Nusa Itu.

Kebun bawah air di Isau sungguh menawan. Kita tidak perlu berlayar ke tengah laut untuk bisa melihat terumbu karang. Cukup di kedalaman 50 cm saja terumbu karang plus ikan-ikan berwarna-warni berseliweran di antara tangan kita.


Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. EmoticonEmoticon