Biografi KH Abdul Halim (1887-1962)

KH Abdul Halim, terlahir dengan nama Otong Satori di Desa Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, Sabtu 26 Juni 1887. Ayahnya bernama KH Muhamad Iskandar, seorang penghulu di Kecamatan Jatiwangi dan ibunya bernama Hj. Siti Mutmainah. Kakeknya dari pihak ayahnya bernama KH Abdullah Komar, seorang ulama asal Banten. Kakek dari pihak ibunya adalah KH Imam Safari, keturunan Panembahan Sabrang Lor dari Demak.

Otong Satori, yang menjadi yatim sewaktu kecil ini, nyantri diberbagai pesantern. Mula-mula ia belajar di Pesantren Cideres, sambil belajar membaca dan menulis huruf latin dan bahasa Belanda kepada seorang pendeta Belanda, Van Hoeven. Selanjutnya ia belajar di Pesantren Lontang Jaya, Majalengka, Pesantren Bobos di Sumber Cirebon, Pesantren Ciwedus Kuningan, Pesantren Kanayangan Pekalongan. Watak kepemimpinannya terlihat sejak kecil, ia menjadi tempat bertanya dan mengadu teman-teman dan saudara-saudaranya. Ia menyukai cerita wayang dan memiliki naluri bisnis. Ia biasa berdagang selama menjadi santri.

Pada tahun 1901, Otong dijodohkan dengan Siti Murbiyah, putri bungsu KH Muhammad Ilyas, pejabat penghulu Landraad Majalengka. Pada 1908, Otong berangkat haji ke Mekah dan sekalian belajar dari para ulama terkemuka. Ia bermukim di sana selama tiga tahun. Di Mekah ia sempat belajar Bahasa Cina. Ia bergaul dengan tokoh reformis Islam, KH Mas Mansyur, tokoh Muhammadiyah. Ia juga bertemu KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh Nadhatul Ulama dan bersahabat dengan KH Ahmad Sanusi pendiri AII.

Sekembali dari Mekah. Otong berganti nama menjadi Abdul Halim. Dia mendirikan organisasi Hayatul Qulub, yang berpusat di Majalengka, bergerak di bidang ekonomi dan pendidikan. Anggotanya terdiri dari para pedagang dan petani. Organisasi ini bermaksud membantu anggota dalam persaingan dengan para pedagang Cina, sekaligus menghambat arus kapitalisme kolonial.

Organisasi ini hanya berumur 4 tahun. Pada 1915 dilarang pemerintah kolonial karena dianggap memicu kerusuhan. Namun KH Abdul Halim tetap menjalankan kegiatan tanpa nama resmi. Dalam bidang pendidikan, dia membentuk Majelis al-Ilmi. Pada 1916, dia membangun sekolah modern, Jamiyat Ianat al-Muta'allimin yang jadi pusat pendidikan Islam modern di daerah Majalengka.

Atas bantuan HOS Cokroaminoto, pada tahun 1916, organisasi ini berganti menjadi Persyarikatan Oelama (PO) dan diakui secara hukum oleh pemerintah kolonial pada tahun 1917. Organisasi ini kemudian meluaskan daerah operasinya ke seluruh Jawa dan Madura, dan tahun 1937 ke seluruh Indonesia. Pada 1917, KH Abdul Halim sempat menjadi Presiden Afdeeling Bestuur Sarekat Islam Majalengka. Dan terpilih sebagai Commissaris Bestuur SI Hindia Timur Region Jawa Barat.

Pada 1918, KH Abdul Halim ikut mengorganisasi pemogokan massal Serikat Pekerja Personeel Fabrieks Bond di Jatiwangi dan Kadipaten. Akibatnya, ia dipanggil Asisten Residen dan Bupati Majalengka untuk dimintai pertanggungjawaban. Di Desa Tonjong Cideres didirikanlah tangsi polisi militer mengawasi SI.

Sementara itu, kegiatan PO berjalan terus. Pada 1919, didirikanlah Kweekschool PO untuk mencetak guru (yang pada tahun 1932 diubah menjadi Madrasah Darul Ulum). Pada 1932, didirikanlah pula Santi Asromo yang dibangun di tempat yang jauh dari keramaian Kota Majalengka. Tempat pendidikan ini ditempatkan di Desa Pasir Ayu Kecamatan Sukahaji, di puncak bukit yang sejuk.

Para santri selain diberi pelajaran agama juga diberi pelajaran umum dan pendidikan keterampilan seperti bercocok tanam, tukang kayu, kerajinan tangan, dll. Siswa juga wajib tinggal di asrama selama 5 sampai 10 tahun. Pendidikan yang menekankan tiga unsur yaitu akhlak, sosial dan ekonomi ini ternyata banyak menarik minat masyarakat. Para dermawan pun mengalir memberi dukungan. Santri yang dihasilkan adalah santri lengkap yang memiliki bekal agama, ilmu pengetahuan dan keterampilan.

KH Abdul Halim juga tetap menjalankan persahabatannya dengan KH Ahmad Sanusi dari Sukabumi. Bahkan keduanya bertekad untuk melakukan fusi mengingat kesamaan visi dan misi antara PO dan AII.

Rintangan dan halangan dari pemerintah kolonial datang bertubi-tubi, meskipun organisasi ini sudah diakui sebagai badan hukum. Selain itu, kritikan datang pula dari para ulama yang tidak setuju dengan model pendidikan modern dengan menggunakan sistem kelas. Kurikulum berisi pengetahuan umum dan bahasa asing dianggap identik dengan Kristen.

Pada tahun 1938, PO bergabung dalam Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama-sama dengan Muhammadiyah, NU dan AAI serta sejumlah oragnisasi islam lainnya. Padal 1942, Jepang mengusir Hindia Belanda. Jepang melarang semua organisasi, termasuk MIASI. Kemudian Jepang mengizinkan kembali organisasi ini dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). PO pun diganti dengan nama menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI, cikal bakal PUI). AII menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII).

Untuk mengenang dan menghormati jasa perjuangan beliau, KH Abdul Halim dijadikan nama jalan utama di Kota Majalengka.


Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment