Meneropong Kreativitas Linkin Park

Kreativitas telah membawa Linkin Park memperoleh hasil yang baik.  Saat mereka mengeluarkan album Living Things, album studio kelima kelompok musik beraliran alternative rock asal Amerika Serikat itu kini telah meraup tingkat penjualan yang signifikan.

Sejak album itu dirilis pada 26 Juni 2012 lalu di bawah label Warner Bros records dan diproduseri Rick Rubin, permintaan hingga pekan ini terus menanjak.  Ternyata masyarakat sangat menyukai pemilihan tema dalam Living Things yang lebih banyak menceritakan orang dan interaksi pribadi.

Single Burn It Down yang lebih dahulu dirilis pada awal tahun 2012 menempati posisi nomor satu dalam Billboard Hot 200 dengan mencatatkan rekor penjualan sebanyak 223 ribu kopi dalam pekan pertamanya di Amerika Serikat.

Album Living Things lebih mengedepankan unsur metal electro rock sebagaimana aliran musik mereka.  Selain Burn It Down, ada juga Lost In The Echo.

Setelah sempat mengalami gonta-ganti personel, kini Linkin Park berformasi Chester Bennington (vokalis), Rob Bourdon (drumer), Brad Delson (gitaris), Dave 'Phoenix' Farrell (basis), Joe Hahn (turntable, keyboardist), dan Mike Shinoda (backing vocal, gitaris).

Gaya bermusik Linkin Park memang cukup berkarakter.  Jika melihat awal pembentukannya, Linkin Park mulanya mengusung aliran rock.  Namun perubahan drastis terjadi saat mereka memasukkan Joe Hahn yang piawai dalam DJ atau turntablist.

Pertemuan itulah yang membuat Linkin Park mengganti aliran musik menjadi hip hop.  Namun pada album Hybrid Theory (2000), Linkin Park mengganti lagi aliran yang kuat dengan nu metal dan rapcore.  Demikian pula dalam album Meteora (2003).  Hanya mereka juga menambahkan unsur elektronika.

Pada album Minutes To Midnight (2007), semua terasa berubah.  Linkin Park seakan total menjelajahi unsur nu metal secara spesifik.  Tak sampai di situ, mereka juga menggunakan aliran alternative rock.

Eksperimen demi eksperimen mereka lakukan secara bebas.  Hal itu untuk mendapatkan corak khas dan pas bagi mereka.

Lewat single Living Things mereka membuktikan diri.  Linkin Park tidak miskin dalam menggali imajinasi.  Apalagi, seringkali mereka menuai kritik tajam.  Para kritikus musik menilai proses pengeluaran album mereka terbilang lamban.

Kendati demikian, Shinoda menilai, Lost In The Echo dipastikan sukses.  Kesuksesan single itu dapat menyamai Castle of Glass dan Victimized.

Burn It Down dan Powerless masih menjadi contoh klasik saat mereka bereksperimen dalam menggantikan aliran bermusik mereka.  Kehadiran Living Things menjadi sebuah upaya keras untuk melahirkan album diskografi yang impresif.

Linkin Park tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.  Shinoda dkk sempat membakar para penggemar tanah air pada 2004 dan 2011 silam.  Kehadiran mereka di Indonesia menjadi sebuah perhelatan yang sukses saat itu.

0 Response to "Meneropong Kreativitas Linkin Park"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.