Benteng Pendem Dan Benteng Karang Bolong, Dua Benteng Kuno Bersejarah Di Cilacap

Sejak dulu Cilacap dikenal sebagai kota pelabuhan. Bahkan penamaan "Cilacap" versi Tiongkok berasal dari kata "sick hik cap" yang berarti angka 4-60 (siek= empat, lak= enam, cap= pululi). Hal tersebut mengacu pada kisah satu kapal Tiongkok yang berlayar di laul selatan lalu membeli empat pikul lada seharga 60 mata uang mereka. Harganya jauh lebih murah daripada membelinya di Tuban atau Banten. Karena murah, beritanya menyebar dari mulut ke mulut dan lokasi pelabuhan tersebut dinamai Sick Laik Cap yang kemudian berubah pelafalan dan penulisannya menjadi Cilacap.

Sebagai kota pelabuhan, Clilacap segera saja menjadi salah satu pintu alternatif' bagi pendatang seperti bangsa Portugis dan Belanda. Dari catatan sejarah, kedua bangsa tersebut berusaha menguasai tanah air karena terpikat kekayaan sumber daya alamnya. Untuk melancarkan misinya, bangsa Portugis mendirikan benteng pertahanan dan pengintaian di Pulau Nusakambangan pada 1837.


Menara yang dinamai Benteng Karang Bolong memiliki struktur layaknya bangunan militer. Dengan luas 6.000 m2, benteng tersebut memiliki tiga bangunan utama. Salah satunya menara tingkat tiga yang memiliki ruang rapat besar dan dilengkapi dengan meriam. Di sekeliling menara terdapat parit dengan kedalaman 3 meter.

Karena terdapat meriam, benteng tersebut tergolong benteng artileri. Seluruh bangunan terbuat dari struktur batu bata yang tebal dan kokoh berlapis. Di menara tertinggi, dua lantai terdapat di bawah tanah yang difungsikan sebagai ruang tahanan.

Seperti layaknya benteng, terdapat ruangan barak prajurit, ruang tahanan, ruangan logistik, dilengkapi dengan pagar tembok keliling, landasan meriam, bangunan pengintai dengan lubang-lubang penembakan, gudang amunisi, serta bangunan perlindungan.

Benteng Karang Bolong kemudian direbut oleh tentara Belanda. Fungsi Benteng Karang Bolong oleh tentara Belanda dijadikan titik pertahanan guna menangkal serangan musuh yang datang dari laut sekaligus gudang penyirnpanan rempah-rempah.

Belanda lantas membangun benteng pertahanan sendiri yang dinamai Benteng Pendem. Disebut demikian karena setelah dibangun, benteng itu ditimbun tanah untuk mengecoh musuh. Dibangun mulai 1861, benteng tersebut memiliki nama resmi Kusbatterij op de Land Tong te Tjilatjap yang artinya tempat pertahanan pantai di atas tanah yang menjorok ke laut menyerupai bentuk lidah.

Saat memasuki pintu masuk wisata Benteng Pendem, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000 per
orang. Benteng seluas 10,5 hektare itu baru sekitar 60% yang sudah tergali. Sisanya masih tertimbun tanah dan pasir yang belum digali dan ditemukan.

Bangunan benteng terbuat dari konstruksi bata merah tanpa beton. Ada 14 ruang barak prajurit, 4 bangunan benteng pertahanan termasuk landasan tembak, ruang penyirnpanan senjata, penjara, serta klinik. Benteng dikelilingi parit sedalam lima meter. Seharusnya bagian muka Benteng Pendem menghadap langsung ke Nusakambangan, tetapi saat ini sudah tertutup oleh Area 70.

Berkunjung ke Benteng Pendem seakan kembali mengingat sejarah masa lalu bangsa ini. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, bangunan itu masih tegak berdiri, menyisakan banyak kisah dari dinding dingin yang bisu. 


Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment