Caringin Tilu, Kawasan Asri di Kaki Pegunungan Manglayang Bandung

Kawasab wisata pemandangan asri di kaki pegunungan Manglayang ini termasyhur dengan nama Caringin Tilu atau disingkat Cartil. Asal mula penamaan tersebut dari tiga pohon beringin yang tumbuh di perbukitan Kampung Cicayur, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Beringin dalam bahasa Sunda adalah caringin dan tilu artinya tiga. Setelah berdiri selama ratusan tahun, pohon beringin ada yang tumbang, kemudian masyarakat menanam kembali pohon beringin sebagai pengganti sehingga jumlahnya tetap tiga. Pada salah satu puncak bukit tempat pohon beringin satu berdiri, terdapat makam leluhur yang dihormati warga. Di bawahnya, berdekatan dengan pohon beringin dua, berjejer warung-warung bambu tempat melepas lelah, makan, dan menikmati pemandangan Bandung dari tebing.


Untuk mencapai Cartil dapat ditempuh dari Terminal Cicaheum menuju arah barat, belok kanan ke Jalan Padasuka atau bila dari Jalan PHH Mustofa, belok ke kiri. Tidak jauh dari Jalan Padasuka, wisatawan akan melewati Saung Angklung Udjo, tempat wisata budaya yang melestarikan kesenian angklung, khas Jawa Barat. Jalanan aspal menuju Cartil masih sempit dan menanjak hingga Jalan Terusan Padasuka, kemudian melalui Kantor Kecamatan Cimenyan dan Gerbang Desa Cimenyan. Telah ada upaya pelebaran jalan dengan penambahan campuran semen, namun jalannya cepat rusak. Setelah menempuh empat kilometer, warung bambu pertama di Cartil akan terlihat. Dari sini pun, pemandangan bebukitan Cartil, dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) sudah begitu dramatis, bagai menyatu dengan cakrawala. Menikmati keindahan alam Cartil dapat dilakukan di salah satu bukit dekat dengan jalan atau singgah di warung yang jumlahnya puluhan di kawasan itu.

Suasana pegunungan sungguh terasa, desiran angin dan cuaca sejuk sekaligus kepuasan mengamati cekungan Bandung dari ketinggian. Bangunan-bangunan tinggi dan unik di Kota Bandung dapat dilihat dengan mata telanjang. Pemandangan terpampang dari arah timur ke barat, hingga gunung-gunung yang mengelilingi kota kembang. Di sebelah timur, terlihat Gunung Palasari dan di sebelah barat terlihat Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu. Wisatawan juga banyak yang berburu saat matahari terbit dan terbenam dari tempat ini.

Sesungguhnya, suguhan utama Cartil adalah pada malam hari. Ketika sinar matahari telah redup, perlahan-lahan cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk Kota Bandung bergiliran menyala. Dari kejauhan, cahaya-cahaya lampu di seantero kota bagai gugusan bintang yang bekerlip di gelap malam. Keeksotisan pemandangan tersebut menjadi pujaan wisatawan dan para penyuka fotografi. Dalam sehari, pengunjung Cartil dari berbagai daerah dapat mencapai 200 orang dan meningkat pada akhir pekan menjadi lebih dari 500 orang, serta puncaknya pada malam tahun baru yang bisa mencapai ribuan.

Pemandangan malam hari juga dapat dinikmati di puncak tertinggi daerah itu, yaitu Bukit Moko atau Waroeng Daweung. Berjarak dua kilometer dari puncak bebukitan Cartil, tepatnya di Kampung Buntis, masih di Desa Cimenyan. Disebut Bukit Moko karena dahulunya yang pertama mengelola bukit ini dan mendirikan Waroeng Daweung adalah Pak Moko. Sekarang, setelah pengelolaannya habis melalui sewa tanah ke desa, digantikan oleh Ibu Acih dan keluarganya yang sejak awal ikut mengelola Waroeng Daweung. 

Info Wisata
• Lokasi : Kampung Cicayur, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan
• Mulai populer :  Tahun 2002
• Jarak dari kota : 4 kilometer
• Panjang kawasan wisata : 2 kilometer, bila hingga ke Bukit Moko 4 kilometer
• Jumlah warung makan : 32 warung ditambah 1 warung sebelum Bukit Moko
• Jumlah kafe : 1 kafe Dapur Caringin Tilu, ditambah 1 kafe di Bukit Moko, yaitu Waroeng Daweung

Previous
Next Post »

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih. ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment