iklan space 728x90px

5 Langkah Mencegah MERS-CoV

Belakangan penyakit Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV) merebak, dimulai dari Korea Selatan. Penyakit yang berasal dari Arab Saudi ini seperti halnya SARS dan mematikan. Data terakhir ada kasus 14 pasien di Korea Selatan yang meninggal akibat terjangkit MERS. Seperti apa virusnya? Dan bagaimana mencegahnya?

"Jangan pergi dulu ke Korea Selatan, nanti terjangkit MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) Iho," ucap Tanti pada teman-temannya. Belakangan memang banyak yang takut berwisata ke Korea Selatan karena di sana sedang merebak penyakit MERS, yang katanya lebih menakutkan dari SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang mewabah di Asia tahun 2013 lalu.


MERS-CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus corona yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Gejala penyakit ini mirip dengan flu, yakni demam, batuk dan sesak napas. Namun, virus ini akan menyerang hebat jika menginfeksi saluran pernapasan. Kematian akibat MERS terjadi karena beberapa komplikasi serius yang terjadi seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multiorgan, gagal ginjal, koagulopati konsumtif, dan perikarditis serta pneumonia berat.

Kasus MERS
Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Corona Virus (Novel Corona Virus). Pertama kali ditemukan pada September 2012 di Arab Saudi. Corona Virus ini masih satu kelompok dengan virus SARS. Dikatakan oleh Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP (K), MARS, DTM & H, DCE, Anggota WHO Emergency Committee on MERS CoV, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, berdasarkan data terakhir di Korea Selatan, ada sebanyak 145 kasus MERS dan 14 orang di antaranya meninggal dunia. Pada kasus tersebut case fatality rafe-nya hampir 10 persen. Angka kematian ini masih di bawah angka kematian MERS di dunia yakni 36 persen dan lebih rendah dari angka kematian MERS di Arab Saudi yaitu 44 persen.

Yang dikhawatirkan dari virus
MERS di Korea Selatan adalah virusnya bermutasi dan menjadi makin mudah menular. Namun berdasarkan hasil laboratorium sekuensing virus corona, virus yang,di Korea Selatan menunjukkan almost identical dengan virus yang di Saudi Arabia. Virus pada pasien MERS Korea yang didiagnosis di Tiongkok juga hanya menunjukkan "minor mutation", yang tidak mempengaruhi keganasan penularan. Artinya, secara ilmu virologi, virus korona penyebab MERS di Korea pada dasarnya sama dengan virus yang selama ini dikenal.

Lantas bagaimana kasusnya bisa terus berkembang? Di Korea Selatan, kasus MERS pertama kali dialami oleh wanita hamil, anak sekolah dasar, serta sopir ambulans yang membawa pasien MERS ke Samsung Medical Center. Karena kasusnya terus meningkat, maka tim World Health Organization (WHO) datang ke Korea dan memberikan rekomendasi awal tim di bidang kesehatan, di antaranya:
  1. Pengendalian dan pencegahan infeksi harus terus ditingkatkan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
  2. Semua pasien dengan demam atau keluhan pernapasan harus ditanya soal riwayat kontak dengan pasien MERS, apakah pernah berkunjung ke Rumah Sakit yang mengobati pasien MERS, serta riwayat kunjungan ke TimurTengah dalam 14 hari sebelumnya. Bila salah satu hal itu positif, maka pasien harus ditangani seksama dan diperiksa apakah ada MERS.
  3. Mereka yang tidak ada gejala apa-apa tetapi pernah kontak dengan pasien MERS dan tidak bepergian selama masa pengamatan.

Faktor Risiko MERS-CoV
Ada beberapa faktor risiko orang-orang yang mungkin terkena penyakit MERS-CoV ini, di antaranya:
  1. Semakin tua, semakin besar kemungkinan sakit lebih parah dan meninggal. Umur rata-rata pasien yang meninggal adalah 72,5 tahun, lebih tua dari umur rata-rata pasien MERS yang sembuh, yakni 55 tahun.
  2. Sebanyak 92,9 persen pasien yang meninggal sudah mempunyai penyakit penyerta lain sebelum terkena MERS dan hanya 27,9 persen pasien yang sembuh. Jadi, risiko MERS parah atau meninggal terjadi jika sudah ada penyakit kronik lain. Jadi jika memiliki penyakit kronik, sebelum umrah Ramadhan atau pergi ke Korea Selatan, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.
  3. Sebanyak 61 persen penyakit penyerta pada pasien MERS meninggal adalah penyakit paru-paru kronik. Sementara 31,6 persen penyakit penyerta pasien MERS yang sembuh juga penyakit paru-paru kronik.

Meski belum ada kasus di Indonesia, tetapi sebaiknya melakukan langkah pencegahan. Terutama bagi Anda yang akan bepergian ke Korea Selatan maupun umrah Ramadhan ke Arab Saudi. Berikut penjelasan Prof. dr. Tjandra mengenai langkah pencegahan berdasarkan hasil pertemuan Emergency Committe Meeting pada tanggal 16 Juni 2015:
  1. Selalu mencuci tangan pakai sabun karena kegiatan ini dapat menurunkan penularan MERS-CoV.
  2. MERS-CoV lebih banyak terjadi pada mereka yang mengalami sakit kronik seperti paru-paru, penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, dan lain-lain. Maka sebelum pergi ke Korea Selatan sebaiknya memeriksakan dulu ke dokter dan membawa obat.
  3. Batasi kontak dengan mereka yang mengalami gangguan pernapasan seperti influenza like illness, dan'batasi kunjungan ke klinik dan rumah sakit yang menangani MERS-CoV.
  4. Jika selama di Korea Selatan dan 14 hari sesudah kembali ke Indonesia ada keluhan batuk, pilek, panas dan keluhan pernapasan lain, segera hubungi petugas kesehatan dan sampaikan riwayat kunjungan ke Korea Selatan.
  5. Selalu mengikuti perkembangan MERS-CoV di Korea Selatan dan mengikuti rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan.

Antibiotik Tidak Mempan
Bagaimana dengan pengobatan? Anti Microbioal Resistance (AMR) menunjukkan bahwa obat-obat antibiotika di dunia sudah makin banyak yang tidak mempan lagi dan tidak bisa membunuh bakteri. Demikian juga obat antiviral tidak bisa membunuh virus, dan lain-lain. Akhirnya, dunia dapat masuk dalam post antibiotic era, yang mana penyakit infeksi ringan pun bisa jadi berat karena kumannya tidak bisa dibunuh lagi. Juga perlu disadari bahwa penggunaan antibiotika pada hewan dan pertanian jumlahnya lebih besar dari penggunaannya pada manusia, dan karena itu harus dikelola bersama.

Data menunjukkan bahwa bila tidak ada program penanggulangan berarti maka kematian akibat AMR akan lebih tinggi daripada kematian akibat kankerkdan Iain-Iain. Untuk itu WHO memberikan lima program untuk setiap negara, di antaranya:
1. Meningkatkan pemahaman tentang AMR di masyarakat, kalangan kesehatan serta sektor terkait lainnya.
2. Meningkatkan ilmu pengetahuan melalui surveilans dan riset.
3. Mengurangi terjadinya infeksi, a.l dengan higiene, sanitasi, PHBS dan vaksinasi.
4. Penggunaan antibiotika secara optimal sesuai indikasi, jangan berlebihan.
5. Menjamin investasi untuk mengatasi resistensi antimikroba. 
Maman Malmsteen
Maman Malmsteen Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Posting Komentar untuk "5 Langkah Mencegah MERS-CoV"

Follow Berita/Artikel Jendela Informasi di Google News