IBX59ED8B2FED208 Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Saraf Kejepit - Jendela Informasi
Loading...

Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Saraf Kejepit

Cara Mengantisipasi dan Mengatasi Saraf Kejepit

Jendela Informasi - Istilah saraf kejepit sering kita dengar. Berbagai terapi penyembuhan pun hadir berkaitan dengan penyakit ini, mulai dari pemberian obat-obatan sampai prosedur operasi. Salah satu yang terbaru adalah dengan penggunaan laser yang disebut Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD).

Ketika aktivitas sedang padat dan timbul rasa nyeri di tulang belakang, tentu rasanya tidak mengenakkan. Bukan hanya nyeri biasa, tetapi juga rasa kebas atau kesemutan. Dalam taraf yang lebih tinggi, sakitnya tak tertahankan sampai tidak bisa beraktivita.s lagi dengan baik.

Tulang belakang memang berfungsi sebagai penopang tubuh. Seiring berjalannya usia dan aktivitas fisik yang berat, tulang belakang pun mengalami masalah. Yang merepotkan, di tulang belakang itu terdapat banyak saraf. Ketika tulang belakang bermasalah, saraf pun terkena imbasnya sampai terjepit.

Salah satu masalah yang umum dan banyak terjadi adalah kerusakan di cincin anulus pada bantalan tulang belakang. Kondisi itu mengakibatkan bantalan membengkak dan akhirnya menjepit saraf.

Pada kerusakan itulah terdapat metode baru yang tidak memerlukan operasi besar tetapi efektif menyembuhkan tanpa harus mengonsumsi obat berkepanjangan, yaitu PLDD. Metode penyembuhannya dengan menyuntik sampai ke dalam cincin di bantalan tulang belakang itu, lalu dikirim sinar laser melalui alat suntik itu.
Sinar laser yang mengenai cincin anulus berdampak pada proses pengerutan area yang membengkak. Karena cincin dan bantalan sudah mengerut, tekanan ke saraf akan berkurang dan tidak terasa nyeri lagi. 

Sebelum operasi dilakukan, prosedurnya dimulai dengan melakukan sinar X dan MRI untuk memeriksa tingkat keparahan serta seberapa banyak serabut saraf yang terjepit. Saat PLDD dilakukan, pasien hanya akan diberikan sedasi ringan sehingga masih tersadar.

Sebelum ada PLDD, penyembuhan saraf kejepit biasanya dilakukan dengan mengonsumsi obat dan fisioterapi. Namun, fisioterapi hanya membantu mengatasi rasa nyeri, tapi saraf tetap terjepit. Bila tidak sembuh juga, dilakukanlah open surgery yaitu operasi untuk mengganti bantalan tulang belakang.

Memang, metode PLDD hanya bisa dilalukan bila kerusakan bantalan tulang belakang ada pada tingkatan ringan sampai sedang. Bila masuk kategori berat sampai isi bantalan keluar, operasi besar tetap harus dilakukan untuk mengganti bantalan itu.

Meskipun sudah dilakukan PLDD, kerusakan bisa saja terjadi lagi. Namun, biasanya, kerusakan akan terjadi pada ruas lumbal di atasnya. Tulang belakang yang sering dipakai menopang tubuh adalah lumbal 1-5, sedangkan yang paling sering mengalami kerusakan adalah lumbal 4 dan 5.

PLDD memang memberikan beberapa keuntungan pada pasien. Metode PLDD memungkinkan pasien hanya dirawat sebentar di rumah sakit. Dua hri juga bisa pulang. Jadi proses pemulihannya cepat dan pasca tindakan mobilitasnya bisa cepat. Lalu, karena secara teknis itu merupakan minimal invasif, tidak ada luka operasi.

Pascatindakan PLDD akan ada obat yang dikonsumsi tetapi dalam jumlah sedikit, dosis minimal, dan jangka waktu pendek. 
Pembengkakan bantalan tulang belakang yang mengakibatkan saraf kejepit itu adalah hal yang alamiah yang terjadi pada setiap orang seiring bertambahnya usia. Namun, tingkat kerusakannya berbeda-beda pada setiap orang.

Penyebabnya adalah aspek degeneratif. Namun, aspek penyebabnya ditambah lagi faktor trauma karena aktivitas yang terlalu membebani fisik. Kalau terbiasa mengangkat beban berat melebihi kemampuan tubuh, pembengkakan bantalan dan saraf kejepit itu bisa terjadi lebih dini. Bila biasanya terjadi pada usia 40 tahun ke atas, ada juga yang 20-an tahun mengalaminya.

Oleh karena itu disarankan bagi setiap orang untuk tidak terlalu membebani tubuh dengan beban berat. Tulang belakang yang berfungsi sebagai penopang dan bantalannya yang menjadi shock absorber akan cepat rusak bila terus-menerus dipakai mengangkat beban berat.

Setelah menjalani PLDD pun, setiap orang harus merawat tulang belakangnya supaya kerusakan itu tidak terjadi lagi. Perawatannya bukan hanya dengan tidak mengangkat beban, tetapi juga mengolah tulang supaya semakin kuat. Posisi duduk dan berdiri pun harus ergonomis memperhatikan postur tubuh.

Yang pasti harus mengurangi aktivitas berlebihan. Hindari naik-turun tangga yang lama, hindari duduk berlama-lama. Kalau sudah duduk, harus beberapa kali berdiri dan jalan-jalan ringan. Tubuh harus beraktivitas, tetapi aktivitasnya ringan. Olahraga pun harus yang bersifat low impact. [Referensi: Vebertina Manihuruk/PRM/15/10/2017]