IBX59ED8B2FED208 Cara Memberi Pelajaran Pada Anak Tanpa Harus Menggunakan Kekerasan Fisik atau Verbal - Jendela Informasi
Loading...

Cara Memberi Pelajaran Pada Anak Tanpa Harus Menggunakan Kekerasan Fisik atau Verbal

Jendela Informasi - Beberapa waktu lalu diberitakan, seorang guru menampar muridnya. Alasan guru tersebut, ia merasa kesal pada si murid karena sulit memahami materi yang ia ajarkan. Sungguh memprihatinkan! Apa jadinya kalau dengan dalih merasa kesal setiap guru membenarkan kekerasan fisik terjadi di ruang kelas? Seorang guru, yang notabene pendidik, seharusnya dapat menghindari hal semacam itu terjadi, meskipun dia sangat marah atau kesal. Bukankah guru adalah seseorang yang patut digugu dan ditiru? Jadi sudah sewajarnya ia mencerminkan perilaku, sikap, dan tutur kata seorang teladan dan pendidik sejati.

Ironisnya, kasus kekerasan fisik terhadap anak mungkin lebih sering lagi terjadi di lingkungan terdekat kita, rumah. Dengan dalih anak rewel, nakal, atau membangkang, beberapa orang tua dengan tanpa merasa bersalah menghalalkan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti si anak, seperti mencubit, memukul, bahkan menampar, agar anaknya bersikap seperti yang mereka harapkan.

Bila seorang ayah atau ibu memukul anaknya, atau seorang pendidik menampar anak didiknya, apa kira-kira "pesan" yang tersampaikan dan dirasakan anak tersebut? Apakah dengan hukuman semacam itu si anak akan serta-merta menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya? Apakah Anda, sebagai orang tua atau guru, yakin bahwa si anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi?

Kekerasan fisik, apa pun bentuknya, merupakan hal yang berdampak self destructive, terlebih pada diri anak. Ketika seorang anak dipukuli ayahnya atau ditampar olen gurunya, peristiwa tersebut akan sangat memengaruhi kondisi psikologis si anak. Alih-alih menyadari kesalahannya, pesan yang tersampaikan dan dirasakannya hanyalah bahwa ia seorang yang bodoh, kurang ajar, tidak berguna, dan pada akhirnya hanya akan merusak harga diri si anak. Disadari atau tidak, mengalami kekerasan fisik merupakan pengalaman yang memalukan, menghinakan, dan sulit dilupakan.

Sebagaimana diungkapkan Dorothy Law Nolte dalam puisinya Children Learn What They Live (Anak Belajar dari Kehidupannya), "Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi; jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri; jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri". Jadi, jika anak dibesarkan dengan kekerasan, ia akan belajar bahwa kekerasan adalah solusi.

Di Barat, hukuman fisik (corporal punishment) merupakan sesuatu yang tabu dan sudah lama ditinggalkan di dunia pendidikan. Hasil dari penelitian-penelitian seputar kekerasan fisik terhadap anak di Amerika mengungkapkan berbagai macam dampak buruk, baik secara fisik, mental maupun intelektual.

Dampak negatif kekerasan fisik
Salah satu penelitian terhadap 960 siswa sekolah dasar di Amerika membuktikan, kekerasan fisik menghambat perkembangan intelektual anak. Murid yang sering dikenai hukuman fisik memiliki IQ yang lebih rendah dibanding mereka yang jarang atau tidak pernah dipukul sama sekali. Selain itu, ditinjau dari sudut pandang psikologis, kekerasan fisik terhadap anak dapat menyebabkan anak menjadi lebih agresif. Hal ini karena ketika si anak mendapat hukuman fisik, level adrenalin pada tubuhnya meningkat, dan ketika anak tersebut berkali-kali mendapat hukuman serupa, tingkat adrenalinnya akan sulit menurun sehingga menjadikan si anak mudah marah dan sulit mengontrol emosi.

Secara fisik, corporal punishment pun dapat membahayakan diri si anak. Ketika seseorang dalam keadaan marah sulit baginya untuk mengendalikan emosi, sebagaimana halnya pada kasus guru yang disebut di atas. Karena emosi yang meluap-luap si guru menjadi lepas kendali dan tidak mustahil membuatnya melakukan hal-hal tidak diinginkan, atau secara tanpa sadar memukul lebih keras daripada yang dimaksudkan. Konsekuensi dari emosi yang meluap-luap ini dapat berakibat fatal pada fisik anak. Kasus-kasus kebutaan, patah tulang, pecah pembuluh darah, kerusakan otak dan pendengaran, bahkan kematian pernah ditemukan akibat dari hukuman fisik terhadap anak.

Kekerasan verbal
Kekerasan verbal tidak berarti lebih baik daripada kekerasan fisik. Secara kasat mata kekerasan verbal memang tidak akan melukai fisik si anak. Namun, dampak psikologis yang ditimbulkan bisa jauh lebih dahsyat, karena kata-kata kasar yang dilontarkan orang tua atau gurunya akan terus melekat pada jiwa si anak, bisa jadi sepanjang hidupnya! Seorang pakar pendidikan di Amerika berpandangan bahwa every act of violence by an adult toward a child, no matter how brief or how mild, leaves a permanent emotional scar" (Setiap kekerasan yang dilakukan orang dewasa pada anak, sebentar atau seringan apa pun, akan meninggalkan luka emosional yang permanen).

Beberapa orang tua atau guru sering kali terjebak pada asumsi bahwa kekerasan akan "memberi pelajaran" pada anak. Padahal efek yang didapat justru sebaliknya. Kekerasan sebagai media pembelajaran bagi anak hanya akan membuatnya jera sesaat, namun sebagaimana diungkapkan hasil sebuah penelitian, dapat meningkatkan kenakalan anak di masa yang akan datang. Kekerasan bukanlah bentuk disiplin yang baik. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Celakanya, itu membuat anak berpikir might makes right bahwa dengan kekuasaan orang dewasa dapat berbuat sesuka hati, salah satunya dalam bentuk kekerasan fisik.

Beberapa alternatif
Ada beberapa opsi yang dapat dilakukan orang tua maupun guru untuk "memberi pelajaran" pada anak tanpa harus menggunakan kekerasan fisik ataupun verbal. Salah satunya, menerapkan behavior rules, yakni aturan-aturan yang harus dipatuhi anak sebagai konsekuensi dari perbuatannya. Contoh, bila anak menumpahkan sesuatu, suruh ia membersihkannya sendiri. Akan tetapi, tatkala mendapati anak berbuat salah, oraog tua atau guru sebaiknya jangan lantas menyalahkan si anak dan menghukumnya, melainkan jelaskan terlebih dahulu letak kesalahannya dan mengapa hal tersebut menjadi masalah. "Hukuman" seperti ini akan jauh lebih efektif dibanding hukuman fisik ataupun kata-kata kasar yang dilontarkan pada si anak sebagai luapan kekesalan. Namun, ketika menerapkan behavior rules pertimbangkan usia dan perkembangan fisik serta mental si anak, apakah ia pantas dan sanggup melakukannya atau tidak. 

Selain itu, orang tua atau guru juga dapat memberlakukan time out, yang pada intinya si anak tidak diperbolehkan melakukan aktivitas yang ia sukai sebagai akibat dari perbuatan buruknya. Semisal, jika anak males belajar, anak tidak diizinkan menonton televisi beberapa saat.

Tentu saja, ketika menerapkan hal-hal seperti ini dialog dengan anak harus tetap berjalan. Dengan demikian anak akan menyadari kesalahannya dan memahami konsekuensi dari perbuatannya itu. Hubungan orang tua-anak atau guru-murid pun akan tetap terjaga dengan baik. Sebagai pendidik yang berkewajiban memberi keteladanan, usahakan agar kita senantiasa bersikap bijaksana dan proporsional dalam mendidik, sehingga anak-anak kita pun tidak merasa terancam. Bukankah tujuan yang baik sudah sepantasnya diikuti oleh cara yang baik pula?***
.