IBX59ED8B2FED208 Hasyim Asy'ari, Kakek Abdurrahman Wahid yang Mendirikan Pesantren Tebuireng - Jendela Informasi
Loading...

Hasyim Asy'ari, Kakek Abdurrahman Wahid yang Mendirikan Pesantren Tebuireng


Pesantren Tebuireng. Siapa yang tak kenal? 
Di sanalah pengabdiannya
Menundukkan jagoan dengan mengawinkan anaknya kepada jagoan itu
Bukan ilmu agama saja yang diajarkan tapi juga pengetahuan umum
Kedisiplinan dan kejujuran selalu dijunjung tinggi
Siapa yang tak berjamaah dihukum mengisi bak mandi dengan 50 timba
Pencuri burung merpati diberi hadiah 5 ekor burung goreng. 
Masuk penjara tidak meruntuhkan hati
Ada anaknya, Wachitd Hasyim, penerus cita-citanya
Ada, cucunya, Abdurrahman Wahid, penerus perjuangannya
Ada organisasinya, NahdatuI Ulama, penerus wawasannya
Ada bangsanya, Indonesia, mengenangnya

Kalau saja Kyai Haji Hasyim Asy'ari sekarang masih hidup, pasti beliau bergembira melihat perkembangan terakhir organisasi NahdatuI Ulama (NU)) yang pernah dipimpin cucunya, Abdurachman Wahid. Sebelumnya, anaknya, Wachid Hasyim yang tiada lain ayah Abdurachman Wahid, juga merupakan tokoh NU sekaligus pejuang bangsa Indonesia.

Nama Kyai Hasyim Asyari memang tidak lepas dari NU maupun sejarah perjuangan bangsa. Dia adalah salah satu perintis yang paling gigih terhadap pembentukan organisasi Jamiyah NahdatuI Ulama. Dia adalah pejuang gigih dalam melawan penjajah di bumi pertiwi.

Terbentuknya NU tahun 1926, semata-mata bukan untuk menandingi organisasi-organisasi yang telah ada di tahun itu. Melainkan karena adanya undangan menghadiri kongres Islam di Mekah. Kyai Hasyim Asyari menyarankan untuk mengirim wakil-wakil ke kongres itu sebaiknya dibentuk dulu suatu wadah umat Islam. Ternyata saran itu disetujui, NU berdiri, dan Kyai Hasyim Asyari dipilih sebagai Raisul Akbar.

Mendirikan Pesantren
Saran sang Kyai pada waktu itu memang pantas didengar. Ia telah banyak berbuat untuk umat Islam. Pengalamannya yang luas dan wawasannya yang kaya menyebabkan orang begitu hormat kepada Kyai Hasyim. Bukti nyata ia luas dan kaya wawasan adalah kepergiannya ke tanah suci Mekah. Pada waktu itu ia telah dua kali pergi ke Mekah, ia pernah tinggal selama 7 tahun di sana. Suatu pengalaman yang langka dimiliki orang di saat itu.

Kyai Hasyim lahir dari keluarga yang lebih mengutamakan agama dari pada hal-hal lain. Hari lahirnya, 20 April 1875. Ayahnya, As'ari, berasal dari Demak, ibunya Winih (Halimah) adalah putri Kyai Usman dari pesantren Duku Gedang, Tambak Boras.

Umur 13 tahun, Hasyim sudah mengajar agama pada teman-teman sebaya. Karena tidak puas dengan ilmu agama yang didapat dari ayahnya, Hasyim belajar ke pesantren lain. Dia belajar ke Madura, Sidoarjo dan beberapa pesantren lainnya.

Setelah dua kali menunaikan ibadah haji, dia kemudian mengajar di pesantren kakeknya, di Kediri. Tahun 1906, timbul niatnya mendirikan pesantren agar dia dapat mengajarkan agama menurut caranya. Tempat yang dipilihnya ialah desa Gukir, kecamatan Diwok, Jombang dengan nama Tebuireng.

Menyiarkan agama Islam berarti memperbaiki manusia. Pelaksanaannya harus dengan berjihad, yakni sanggup menempuh kesukaran dan bersedia berkorban. Dia sengaja mendirikan pesantren di Tebuireng.

Pesantren itu sendiri harus bebas dari kejahatan. Tantangan ke arah sana dihadapi dengan tabah apalagi mengingat daerah Tebuireng banyak jagoannya. Beberapa cara digunakan untuk menaklukan para jagoan ini. Salah satunva mengawinkan anaknya kepada sang jagoan. Cara yang unik ini menyebabnya pesantren Tebuireng aman dan mempunyai pelindung.

Nama Tebuireng kemudian menjadi terkenal. Kemasyurannya hampir sama dengan kemasyuran namanya. Murid-murid berdatangan dari luar daerah. Dia tekun, dan bekerja dengan jadwal yang tepat. Kalau biasanya pesantren yang lain sepi di bulan puasa, tidak demikian dengan pesantren milik Hasyim. Di pesantren ini justru ada pelajaran khusus di bulan puasa. Merupakan suatu kemajuan yang pesat hingga diakui secara resmi oleh pemerintah.

Menangkap Pencuri
Cara-cara baru diperaktekan dalam pesantren ini. Tidak melulu pengetahuan agama, tapi juga pengetahuan umum. Semula orangtua murid mengancam akan menarik anak-anak mereka, sebab pengetahuan umum pada waktu itu dianggap bid'ah dan haram. Tantangan bukan saja dari para orangtua murid tapi kaum tua pada umumnya.

Tapi Hasyim tak dapat digertak, dia tetap jalan dengan kemauannya yang dianggapnya benar. Dia tetap meneruskan rencananya yang dirasa sangat berguna bagi generasi muda. Surat kabar dan majalah dimasukan ke pesantren. Satu hal yang baru dan aneh dirasa. Para santri bahkan diharuskan menguasai bahasa asing disamping bahasa wajibnya, Arab.

Biar ia keras kemauannya, Hasyim tetap rendah hati, tidak pemah menonjolkan diri atau takabur. Sikapnya ramah terhadap setiap orang. Ia selalu memberikan nasehat dan petunjuk kepada siapapun. Murid-muridnya bila berbuat salah ditegur dengan halus. Pemah suatu hari, Kyai Hasyim dapat laporan bahwa ada seorang santri yang suka mencuri merpati milik pesantren. Oleh Kyai santri itu dipanggil dan diberi 5 ekor burung goreng. Selesai makan santri itu diberi nasehat agar jangan mencuri lagi. Santri tunduk tersipu.

Peraturan dalam pesantren ditegakkan. Umpamanya peraturan pada orang yang shalat tidak berjamaah. Setiap orang yang sembahyang di mesjid dalam pesantren harus berjamaah. Kalau ada yang tidak berjamaah akan kena hukuman, mengisi bak mandi sebanyak 50 timba.

Sekali waktu pemah Kyai Hasyim sendiri yang terlambat sembahyang dan tidak berjamaah. Dengan cepat ia sembahyang. Selesai sembahyang, pembantunya dikumpulkan dan ia menyerahkan diri untuk dihukum. Setelah dipertimbangkan malah pembantunya yang tidak mengizinkan sang kyai dihukum.

Sejak diangkat sebagai pemimpin tertinggi NU dengan gelar Raisul Akbar. namanyapun makin luas dikenal. Dia mulai masuk dalam percaturan politik nasional. Namun begitu dia tetap terbuka pada modernisasi.

Dia paling benci pada perpecahan. Pengaruhnya di kalangan orang Islam sangat besar sehingga mekhawatirkan pemerintah Belanda. Mereka khawatir kalau Hasyim menggerakkan massa untuk menentang pemerintah Belanda. Untuk mengambil hatinya, Belanda memberinya bintang jasa sebuah penghargaan. Hasyim Asyari yang menyadari apa yang tersirat di balik pemberian penghargaan itu, menolak dengan halus. Ia pun dengan halus menolak penawaran Belanda untuk suatu jabatan dalam pemerintahan. Ia juga menyiapkan kader-kader muda dalam pembinaan NU (Nahdatul Ulama).

Dipenjara
Perhatian Hasyim tidak hanya pada kemajuan agama Islam. Sebagai orang yang berpengetahuan luas, tahu betul akan keburukan penjajahan. Ia ikut berjuang dan membantu membawa NU ke dalam gelanggang pergerakan nasional. Ketika partai-partai politik Indonesia melancarkan aksi 'Indonesia berparlemen' NU pun mengambil bagian di dalamnya.

Belanda menyerah pada Jepang. Jepang kemudian berkuasa di Indonesia. Karena itu pada semua penduduk Indonesia diharuskan melakukan seikeirei, membungkukkan badan ke arah matahari terbit sebagai lambang menyembah. Hasyim tidak menyetujui peraturan itu. Karena dianggap anti Jepang, maka dia ditangkap. Pesantren Tebuireng ditutup oleh Jepang. Anaknya, Wachid Hasyim ke Jakarta berusaha membebaskan ayahnya dan berhasil. Asyari dibebaskan setelah mendekam di penjara 4 bulan.

Jepang kemudian berusaha mengambil hati rakyat dengan mengangkat Asyari sebagai kepala urusan agama. Ia tertekan karena hati kecilnya menolak tawaran Jepang ini seperti halnya dia pemah menolak tawaran Belanda dengan kedudukan tinggi. Untunglah masa itu tidak terlalu lama, dan Kyai Hasyim masih sempat menyaksikan kehidupan di alam kemerdekaan. Ia ikut pula menganjurkan kepada pemuda-pemuda agar berjuang terus melawan penjajah. Bahkan sering juga nasehatnya diminta oleh pemimpin perjuangan. Sayang, pahlawan kita yang satu ini tidak hidup lama di alam kemerdekaan. Tepatnya tanggal 25 Juli 1947, ia meninggal dunia karena pendarahan otak.

Kata-katanya yang selalu terukir di benak adalah kesungguhannya membasmi kejahatan dan kefanatikan.

"Tingallah fanatik itu dan lepaskan diri dari hawa nafsu yang merusak. Berjuanglah menolak orang yang mendakwahkan ilmu yang sesat dan kepercayaan yang merusak. Dan berkorban menghadapi orang-orang yang demikian adalah wajib. Alangkah baiknya jika tenagamu sediakan untuk itu."