IBX59ED8B2FED208 Kenali Persistensi Gigi Agar Bisa Senyum Merekah Nan Indah - Jendela Informasi
Loading...

Kenali Persistensi Gigi Agar Bisa Senyum Merekah Nan Indah


Jendela Informasi - Gigi yang tumbuh "berdesak-desakan" sering kali dianggap mengganggu penampilan sehingga kepercayaan diri pun menurun. Padahal, hal itu bisa dicegah sejak dini ketika dalam perawatan gigi susu. Gigi tetap pun akan tumbuh teratur dan menghasilkan senyum merekah yang indah.

Ada satu kesamaan antara gigi susu dan gigi tetap yaitu keduanya akan tumbuh di area yang sama. Apa yang akan terjadi ketika gigi tetap sudah tumbuh ketika gigi susu belum juga lepas? Tentu saja gigi-gigi itu akan tumbuh berdempetan, bahkan bisa menyebabkan gigi susu tidak bisa lepas sama sekali.

Kondisi itu bisa dijumpai pada perkembangan gigi anak-anak. Kondisi itu disebut sebagai persistensi, tatkala gigi tetap tidak bisa tumbuh di tempat yang seharusnya karena terhalang oleh gigi susu yang masih berada di tempatnya.

Keadaan persistensi bisa terjadi pada gigi mana pun. Namun, itu paling sering terjadi pada gigi depan rahang bawah, ketika gigi tetap tumbuh tetapi gigi susu masih goyang sedikit atau bahkan tidak goyang sama sekali. 

Persistensi gigi merupakan masalah yang cukup sering ditemui, terutama di usia ketika anak duduk di bangku sekolah dasar. Hal itu perlu menjadi perhatian bagi orangtua karena jika dibiarkan dapat menjadi penyebab gigi berjejal, gigi tetap akan tumbuh di tempat yang tidak seharusnya, bisa di depan atau di belakang gigi susunya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan persistensi. Pertama, benih gigi tetap yang akan tumbuh tidak sesuai atau tidak searah dengan gigi susu yang akan digantikannya. Kedua, kurangnya tempat gigi yang akan tumbuh untuk menggantikan gigi susu. Hal itu menyebabkan benih gigi baru mengarah ke tempat yang kosong, di depan atau di belakang gigi susu.

Faktor ketiga adalah resorsi akar gigi susu yang lambat. Hal itu bisa disebabkan gangguan nutrisi, gangguan hormonal, biasanya gangguan hormon endokrin, serta akibat gigi yang sudah berlubang besar dan tidak dirawat.

Proses pergantian gigi itu dimulai dengan adanya tekanan ke akar gigi susu oleh benih gigi tetap sehingga terjadi proses resorpsi atau pengikisan akar gigi susu dan tulang sekitarnya. Pengikisan itulah yang akan membuat gigi susu goyang dan lepas. Gigi susu berganti secara bertahap sejalan dengan pertumbuhan gigi tetap. Proses itu akan berakhir di usia 17-21 tahun ketika geraham ketiga sudah tumbuh.

Proses pertumbuhan gigi tetap itu dimulai dari tumbuhnya gigi geraham tetap pertama sekitar umur 6-7 tahun. Gigi geraham tetap pertama berada tepat di belakang geraham kedua gigi susu. Gigi itu langsung tumbuh merobek gusi dan tidak menggantikan gigi apapun sehingga kadang disalahartikan menjadi gigi susu.

Jangan dibiarkan
Persistensi jangan dibiarkan. Bukan hanya mengganggu secara estetik, tetapi kondisi persistensi akan mengganggu tumbuh kembang rahang dan gangguan fungsi pengunyah. Jika anak mengalaminya; orangtua harus segera membawanya ke dokter gigi supaya gigi susunya dicabut. Dengan begitu, gigi tetap yang tidak pada tempatnya bisa segera menyesuaikan dan kembali ke dalam lengkung rahang.

Jangan menunggu gigi tersebut goyang atau lepas sendiri karena gigi susu yang mengalami persistensi bisa jadi goyang atau tidak sama sekali. Hal itu disebabkan karena akar giginya hanya terkikis sedikit atau tidak terkikis sama sekali.

Jika segera dicabut, ada kemungkinan gigi tetapnya bisa bergerak ke posisi yang seharusnya dengan dibantu dorongan lidah jika tersedia tempat yang cukup. Namun, lain halnya jika ruangan untuk gigi tetapnya masih kurang, maka diperlukan perawatan orthodontic (kawat) untuk merapihkan susunan gigi-geliginya.

Persistensi jangan dibiarkan karena gigi susu itu bisa jadi tidak akan lepas sampai dewasa. Keadaan yang demikian membuat gigi terlihat banyak, bertumpuk, dan mengganggu estetis karena susunan gigi berjejal dan tidak beraturan. Ada pula dampak lanjutannya yaitu bisa menyebabkan gangguan fungsi dan perkembangan rahang, serta rentan terjadi sariawan.

Orangtua berperan penting untuk mencegah atau menangani persistensi. Orangtua harus memahami usia pertumbuhan gigi anak sehingga dapat mendeteksi dini jika ditemukan adanya persistensi. Dengan begitu, penanganan pun ke dokter gigi pun bisa dilakukan lebih cepat.

Selain kontrol enam bulan sekali ke dokter gigi, perawatan gigi jelas diperlukan. Perawatan gigi mungkin tampak hanya pada permukaan, tapi bila tidak dirawat, kerusakan akan mencapai ke akarnya. Jika gigi sudah rusak sampai hanya menjadi sisa akar, persistensi pun akan terjadi. 

Selain itu, anak-anak harus mengurangi konsumsi makanan yang terlalu lembut. Mengunyah secara aktif dapat membantu mengoptimalkan perkembangan rahang sehingga menjadi salah satu upaya mencegah persistensi.