IBX59ED8B2FED208 Sindrom Guillain Barre (SGB), Kenali Gejala dan Cara Penanganannya - Jendela Informasi
Loading...

Sindrom Guillain Barre (SGB), Kenali Gejala dan Cara Penanganannya


Jendela Informasi - Jika seseorang secara tiba-tiba mengalami kelemahan otot yang simetris kiri dan kanan yang didahului dengan infeksi seperti flu atau diare, kemudian terjadi kesemutan di ujung-ujung jari tangan dan kaki, diduga ia mengalami sindrom guillain barre (SGB). Penyakit itu menyerang saraf tepi, tetapi masih belum diketahui penyebab pastinya, selain terjadi gangguan kekebalan tubuh.

Sebagian besar penderita SGB bisa pulih seperti sedia kala setelah menjalani pengobatan sekitar setengah tahun. Sebagian lagi bisa jadi memburuk apalagi jika penyakitnya menyerang saraf otonom, misalnya, di otot-otot organ pernapasan yang membuat seseorang kesulitan bernapas.

Sindrom itu termasuk penyakit yang jarang dialami seseorang. Persentasenya satu kejadian dari 100.000 kasus. Merupakan suatu polineuropati akut, yakni gangguan pada susunan saraf tepi. Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi terjadi gangguan sistem kekebalan tubuh, autoimun, yang menyerang saraf tepi. Gangguan autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh yang sehat, misalnya sel saraf di sistem saraf perifer.

Penyakit itu biasanya didahului dengan infeksi seperti flu atau diare. Yang paling sering ditemukan infeksi oleh bakteri Campylobacter jejuni. Jenis bakteri itu bisa berada di makanan yang tidak higienis sehingga menyebabkan diare. Meski infeksinya sudah sembuh, terjadi kesalahan pada sistem imun tubuh yang menyebabkan sindrom ini.

Ada pun gejala untuk sindrom itu cukup khas. Meskipun salah satunya adalah terjadi kelemahan otot-otot alat gerak seperti tangan dan kaki, tetapi kelemahan itu terjadi simetris, kiri dan kanan. Selain itu, sering ditemukan gangguan sensasi seperti kesemutan pada ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Penyakit itu bisa dikelompokkan ke banyak tingkat, mulai ringan hingga berat. Sindrom yang lebih berat disebabkan kelemahan otot ini dapat memburuk (progressive weakness), seperti bisa menyerang otot-otot pernapasan, atau mengganggu kerja saraf otonom lain seperti tachicardi (gangguan pada jantung), atau perubahan tekanan darah.

Perjalanan SGB bisa saja memberat dalam dua minggu, kemudian menetap dalam empat minggu. Siapa pun dapat terserang sindrom ini, tidak mengenal gender dan usia, karena tidak diketahui penyebab pastinya. Mesk tidak diturunkan; diduga ada faktor genetik (dari lahir) yang lebih rentan dengan sindrom ini.

Sebagian Besar Laki-laki
Berdasarkan pengamatan, sebagian besar pasien SGB adalah laki-laki. Semakin usia tua, prognosis penyakitnya semakin buruk. Harus curiga dan segera periksa jika tiba-tiba mengalami lemas, refleks-refleksnya turun, bahkan arefleksi (kehilangan refleks tendon) disertai kelemahan.

Jika ada yang mendapatkan gejaia khas tersebut disaranakna untuk segera memeriksakan diri ke dokter saraf. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis sindrom ini bisa dilakukan dengan dua cara.

Pertama, melalui tes lumbal pungsi, yaitu prosedur yang sering dilakukan pada instalasi gawat darurat untuk mendapatkan informasi dari cairan serebrospinal. Dari cairan tersebut ditetapkan mengalami SGB jika ditemukan jumlah protein meningkat, tetapi jumlah selnya normal.

Kedua, menggunakan alat elektromyography (EMG) yang akan menilai kecepatan hantar saraf. Tubuh pasien (tangan dan kaki) dipasangi alat dan distimulasi listrik. Pada monitor akan muncul gelombang indikator beserta angka-angka yang menilai myelin dan akson saraf.

Hanya sekitar 5-10 persen dari penderita SGB yang tidak pulih secara sempurna. Sebanyak 60 persen lainnya bisa pulih sempurna dalam satu tahun. Sekitar 80 persen, kemungkinan untuk pulih lebih cepat dalam enam bulan setelah diagnosis. Akan tetapi, ada 3-5 persen dari kasus SGB yang mengalami komplikasi berat misalnya, karena kegagalan sistem pernapasan, mengalami infeksi berat, atau terkena serangan jantung.

Yang jelas penyakit itu sangat mungkin dipulihkan. Penanganan pengobatan ditujukan untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan. Antara lain dengan cara plasmapheresis, yaitu plasma darah pasien dikeluarkan, dicuci, lalu dibuang jika ditemukan antibodi yang jelek. Setelah penyeleksian, plasma darah yang hanya berisi antibodi baik dimasukkan kembali ke dalam tubuh.

Bisa juga dengan cara lain, yakni melalui intravenous immunoglobulin (Ivlg). Cara itu diklaim lebih disukai pasien karena dilakukan melalui selang infus. Metode itu memasukkan antibodi sehat ke dalam tubuh untuk bersaing (kompetitif) dengan antibodi yang salah. Metode ini lebih besar biayanya dibanding plasmapheresis.

Pasien atau penderita yang berhasil sembuh dari SGB masih meninggalkan kelemahan fungsi tubuh lantaran sel saraf adalah jaringan yang tak dapat pulih secara otomatis saat terjadi kerusakan. Guna bisa kembali menggerakkan anggota tubuh seperti menulis, berbicara, makan atau berjalan, maka pasien mesti menjalani terapi dan latihan dengan cara teratur. Makanya, dalam terapi pengobatannya, dokter saraf umumnya bekerjasama dengan fisioterafis buat melatih gerak penderita/pasien. [ Eva Fahas / Maman Soleman / PRM / 06012019 ]