IBX59ED8B2FED208 Cara Mewaspadai dan Mengobati Kanker Prostat - Jendela Informasi
Loading...

Cara Mewaspadai dan Mengobati Kanker Prostat

Jendela Informasi - Kanker prostat adalah jenis kanker ketiga terbanyak di Indonesia setelah kanker paru-paru dan colon. Sekitar 15 kasus ditemukan di setiap populasi berjumlah 100.000 orang dan angka ini terus meningkat dengn tepat.

Sebaliknya, jenis kanker pria lain yakni kanker penis lebih jarang ditemui. Tak heran jika banyak orang tak familier dengan tipe kanker ini. Penelitian menunjukkan bahwa HPV, kelompok virus yang menyebabkan kanker serviks, juga bisa menyebabkan kanker penis pada pria.

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan kanker serviks atau payudara, kita lebih jarang mendengar atau membicarakan tentang kanker pria. Sejumlah ahli mengaitkan hal ini dengan tendensi mayoritas pria untuk mengabaikan isu kesehatan karena merasa "pria harus kuat". Ada juga yang enggan menjalani tindakan medis karena takut kesuburan atau kehidupan seksualnya terganggu. Alhasil, kita mendapati banyak kasus pria menunda menemui dokter hingga kondisinya mencapai stadium lanjut.

Kanker prostat menyerang 1 dari 6 pria yang berusia di atas 50 tahun di seluruh dunia. Usia dan obesitas menjadi penyebab terbesarnya. Meskipun sekitar 10 persen di antaranya diduga karena faktor genetik. Tidak ada yang tahu kapan sel kanker mulai menyerang prostat. Meskipun terjadi pada pria rata-rata di atas usia 50 tahun, bisa saja kanker terjadi saat usia mereka lebih muda. Itu karena pertumbuhan sel kanker pada prostat terhitung lambat.

Prostat adalah bagian dari organ reproduksi pada pria. Fungsinya sebagai produsen cairan prostat yang akan membantu sperma mencapai ovum pada saat pembuahan. Aktivitas prostat sangat dipengaruhi oleh hormon testosteron. Jika produktivitas hormon ini terganggu, fungsi prostat juga berubah.

Di negara-negara Barat, jumlah pasien kanker prostat terbilang besar. Penelitian mengungkapkan, besaran angkanya sebanding dengan jumlah pria penderita obesitas. Hormon testosteron dalam tubuh pria yang obesitas sulit dipecah. Penyebab lain bisa juga dari gaya hidup buruk seperti merokok, meski tidak menjadi satu-satunya faktor. Pasien kanker prostat juga tinggi pada pria kalangan African-American. Konsumsi daging merah juga bisa menjadi faktor. Ada temuan jika dalam daging merah mengandung lebih banyak zat karsinogenik atau pemicu kanker.

Ada pun gejala penderita kanker prostat antara lain terjadinya penyumbatan urine. Pengeluaran urine tersendat dan sering kali juga keluar bersama darah. Pada malam hari, penderita sering terbangun untuk kencing, tetapi harus dibedakan dengan infeksi saluran kencing (ISK).

Tidak semua penyakit ISK bermuara pada kanker prostat Namun, biasanya penderita kanker prostat mengalami ISK. Itu karena saluran urine terhalang akibat prostat yang membengkak. Namun pembengkakan prostat tidak serta-merta dianggap kanker. Ada yang disebut prostate benigne (prostat jinak), yakni pembengkakan prostat yang normal (alami). Untuk menegakkan diagnosisnya, bisa melakukan uji PSA (Prostate Specific Antigen) yang diambil dari sampel darah. Jika hasil PSA tinggi (di atas 4), bisa jadi merupakan kanker (bukan jinak).

Jika hasil PSA di atas standar, bisa melakukan pengecekan biopsi melalui cara Trans Recto Ultra Sound (TRUS), yakni pemeriksaan dengan gelombang radio kepada 20 sampel yang dipandu MRI untuk mendeteksi sel yang diduga kanker.

Berbeda dengan jenis kanker lain, seperti kanker hati atau otak, kanker prostat termasuk jenis penyakit dengan tingkat kegawatan rendah. Peluang untuk membaik pun lebih besar.

Dalam perawatan kanker, diagnosis yang dini dan akurat berperan penting dalam menentukan efektivitas pengobatan. Penanganan kanker prostat sangat bergantung pada stadium atau luas penyebarannya. Pengukuran stadium bisa dilakukan dengan Gleason Score. Stadium 1 dan 2 kanker prostat terjadi di dalam organ prostat. Stadium 3 sel kanker mulai menyerang ke organ sekitar prostat. Stadium ke-4 adalah sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening dan tulang (metastasis).

Jika sel kanker ditemukan belum menyebar, ada tiga fase yang patut diketahui sebelum mendapat penanganan. Pertama adalah fase low risk, yaitu pasien, tidak akan mendapat penanganan apa-apa dan kembali diperiksa pada tiga bulan selanjutnya. Bila kondisinya masih sama, pemeriksaan kembali diulang pada dua tahun setelahnya.

Fase kedua adalah intermediate, yaitu ada risiko sel kanker akan menyebar. Tindakan yang bisa dilakukan dengan jalan operasi prostektomi. Untuk jenis pembedahan kecil ini ada yang sudah bisa menggunakan robotic. Ini lebih menguntungkan pasien karena rasa sakit lebih minim dan pasien bisa pulih lebih cepat.

Fase ketiga adalah high risk atau ditemukan potensi lebih besar untuk menyebar. Untuk fase ini bisa dilakukan penanganan melalui jalan prostektomi dilanjutkan dengan terapi hormon.

Selanjutnya, penanganan sel kanker yang diketahui telah menyebar. Ada dua caranya. Pertama adalah Transurethral Resection of Prostate (TURP), yakni pengangkatan jaringan pada prostat melalui uretra (saluran kencing). Yang kedua, menekan sekresi hormon testosteron dengan cara memotong testis dan mengonsumsi obat yang mengandung radioterapi.

Untuk pemotongan testis, artinya akan ada bagian yang kopong pada buah zakar. Untuk mengatasinya, bisa dilakukan testicularimplants atau memasang bandul ke dalam testis agar pria tetap merasa percaya diri. Meski ada saja dampaknya, seperti sulit ereksi dan sering mengompol. 

Akan sulit untuk menghindar dari kanker prostat yang penyebabnya diduga berasal dari banyak faktor. Akan tetap, disarankan untuk menjaga pola makan dan gaya hidup lebih sehat. Jangan terlalu gemuk, olah raga rutin. Yang juga penting, medical check up rutin. Semakin dini diketahui ada sel kanker, semakin besar peluang untuk menjadi penyintas. [Eva Fahas/PRM/17032019]