IBX59ED8B2FED208 Karinding, Salah Satu Jenis Harpa Mulut Tertua di Dunia - Jendela Informasi
Loading...

Karinding, Salah Satu Jenis Harpa Mulut Tertua di Dunia

Jendela Informasi - Karinding menjadi salah satu jenis harpa mulut yang merupakan alat musik tertua di dunia. Ada 1.169 nama harpa mulut yang tercatat. Sebelas diantaranya berasal dari Indonesia. Di Indonesia ada 80 nama harpa mulut. Namun, Eropa tidak punya budaya yang bisa memaknai kehadiran harpa mulut di negara mereka.

Meskipun berdimensi mungil, alat musik bambu itu memikul sejarah yang setara dengan keberadaan alam dan manusia, terutama di tanah Sunda. Karinding juga sempat menjadi alat penuntun kehidupan manusia, mulai dari cara merawat alam, cara menghidupi diri dari proses produksi, hingga mengingatkan jiwa pada Sang Pencipta.

Struktur karinding berkaitan dengan tata cara memperlakukan alam semesta dengan bagian-bagiannya yang menjadi representasi gunung dan air. Karinding terbagi menjadi tiga bagian yakni pancepengan, cecet ucing atau ekor kucing yang berisi jarumnya, serta bagian ujung yang disebut paneunggeul (pemukul).

Bagian pertama adalah pancepengan. Biasanya bagian ini dibentuk simbol atau ukiran. Pancepengan merupakan bagian karinding yang harus dipegang pemain karinding dengan mantap.

Filosofi yang terkandung pada bagian ini dikaitkan dengan "keyakinan". Dalam Sunda, agama bisa berarti apa pun, yang penting bermuatan kebaikan. Yang diatur adalah tata cara dalam melaksanakan dan memegang agama tersebut. Pegangan yang menutup bagian karinding menyiratkan keyakinan yang tidak perlu ditonjolkan. Jika pegangan dilepas maka keyakinan akan jatuh; sekaligus mengajarkan untuk tidak gemar mempertontonkan keyakinan. Sejatinya, apa yang diyakini menjadi hubungan khusus antara manusia dan Tuhannya.

Bagian selanjutnya adalah jarum tempat keluarnya nada yang disebut cecet ucing atau ekor kucing. Dari pembatas jarumnya, buluh bambu karinding yang dibentuk tipis akan bergetar dan menghasilkan bunyi. Sementara bagian ujung lain disebut paneunggeul atau pemukul. Dalam satu permainan karinding, ketiga bagian itu mengajarkan sang pemain untuk yakin, sadar, dan sabar. Karinding menjadi media meluapkan rasa dan mengendalikan emosi. Gerak napas turut mengeluarkan aura negatif yang berlebihan.

Jika dilakukan dengan cara meditatif dan repetitif akan muncul rangsangan getar dari hidung, membuka limbik otak belakang, untuk kemudian merilis sensasi kesenangan dan kebahagiaan. Ketiga bagian karinding juga menggambarkan tiga sistem geopolitik gunung: leweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung baladahan.

Masing-masing leuweung harus diperlakukan berbeda. Leuweung larangan diwakili pada bagian pancepengan yang dinilai sakral dan tidak boleh sembarangan dimasuki. Toleransi akses manusia berada di leuweung baladahan (bagian paneunggeul), yang biasanya menjadi area produksi. Wilayah larangan menjadi area suci, harus dijaga lestari, dengan memberlakukan hukum pamali. Sementara leuweung baladahan menjadi hutan produksi yang dijadikan lahan nafkah manusia.

Mengenali karinding berarti belajar tata cara mengelola kesemestaan, alam, dan lingkungan hidup. Bencana yang terjadi di Sungai Cimanuk, Kabupaten Garut, beberapa waktu silam menjadi bukti hutan larangan yang dijamah, dan tak lagi diperlakukan suci.

Karinding menjadi pegangan untuk memandu kehidupan anak manusia turun temurun. Bukti gerakan merawat adat masih terjaga di 48 pangauban di Jawa Barat, yang murni bergerak untuk menerapkan sistem geopolitik gunung dengan dasar kesundaan itu.

Mereka menjadi pengawal dalam menyampaikan ajaran pengelolaan lingkungan hidup, kemanusiaan, dan ketuhanan untuk tatanan masyarakat yang lebih luas. Di wilayah perkotaan, pola pendekatan karinding dilakukan melalui kelompok musik. Bandung telah mengenal Karinding Attack dengan personel Kimung, Man, Aid Ameng, Jawis, Hendra, Papay, Jimbot, dan lainnya. Di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, telah muncul 100 lebih band karinding. Karinding mampu melebur dengan berbagai jenis musik.

Pergerakan penyebaran karinding mulai terpola dan terstruktur. Kelas yang dibentuk di ruang kreasi seperti Commonroom tidak melulu hanya mengolah teknik permainan karinding. Mereka mulai membangun record, website, merchandise, hingga artwork. Pegiat karinding juga diberi pelatihan sebagai kru pertunjukan, sound engineering, dan menggelar event tahunan.

Ada juga kelas public speaking, kewirausahaan, hingga pengarsipan dan dokumentasi. Kimung juga menyiapkan proyek Jon Pasisian. Ia akan menyinggahi sejumlah komunitas karinding yang tertidur dengan konsep bermain karinding di halaman.

Kimung menganggap, perjalanan panjang melalui Karinding Attack, buku Sejarah Karinding Priangan, hingga proyek Jon Pasisian hanya upaya kecil untuk menguak nilai karinding yang besar. Kimung berjanji akan terus membaktikan dirinya untuk karinding hingga akhir hayat. Ia sudah mendapatkan filosofi terbaik di karinding. Ia ingin membangun keyakinan, kalau filosofi karinding ini diterapkan secara benar, maka Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. [Muh. Fikry Mauludy/08092019]