IBX59ED8B2FED208 Pengaruh dan Bahaya Gawai terhadap Anak serta Remaja - Jendela Informasi

Pengaruh dan Bahaya Gawai terhadap Anak serta Remaja


Jendela Informasi - Masalah kecanduan gawai bukan saja terjadi di negara kita tetapi juga di berbagai negara. Setelah mempertimbangkan banyak hal, WHO pada 2018 dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) 11, menambahkan kecanduan gim atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental.

Disebut gangguan mental jika permainan dalam gawai itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan, atau bidang penting lain. WHO memasukkan ke daftar disorders due to addictive behaviour atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Perlu penanganan yang tepat untuk mengatasi kecanduan gawai. Itu karena, tidak dapat dimungkiri gawai sebagai media dari kemajuan dan perkembangan teknologi digital sangat bersentuhan dengan tatanan kehidupan masyarakat. Bahkan diprediksikan, penggunaan teknologi informasi semakin meluas ke lebih banyak bidang kehidupan di masa mendatang.

WHO mengklasifkasikan gangguan adiksi gawai untuk semua kalangan, tidak hanya pada anak dan remaja. Akan tetapi, bagi orang dewasa perlu dicermati lagi karena harus dibedakan antara adiksi gawai dengan kebutuhan akan gawai untuk kegiatan produktif seperti untuk bekerja atau belajar.

Keterangan WHO mengenai kecanduan gawai yang hanya disebut penyakit bila memenuhi tiga hal, yakni seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain gim, seseorang mulai memprioritaskan gim di atas kegiatan lain, dan seseorang terus bermain gawai meskipun ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. Ketiganya harus terjadi atau terlihat selama 3 bulan hingga 1 tahun sebelum didiagnosis dokter.

Menurut Jeroen S Lemmens ada tujuh kriteria seseorang mengalami adiksi gim online. Tingkat pertama adalah salience atau anak berpikir tentang gawai sepanjang hari termasuk menghabiskan waktu luangnya. Gejalanya, anak sering melamun saat belajar di kelas dan kurang konsentrasi. Kedua, tolerance yakni waktu anak bersama gawai lebih lama dan sulit dihentikan.

Tingkat ketiga adalah mood modification, yaitu anak bermain gawai sampai melupakan kegiatan lain termasuk lalai beribadah. Keempat, relapse atau anak yang tidak mampu mengurangi waktu bermain gim dan merasa gagal jika mengurangi waktu bermain.

Selanjutnya, withdrawal yaitu anak merasa buruk jika tidak bermain gim sehingga anak mudah marah, merasa stres, dan tertekan, termasuk merasa gelisah serta cemas.

Tingkat keenam adalah conflict, yaitu anak bisa bertengkar dengan orang lain perihal perilaku berlebihan dalam main gim. Bisa juga dilihat dari gejala hariannya seperti berbohong, berkata kasar atau merusak sarana sekolah.

Terakhir yaitu problems, anak mengabaikan kegiatan penting lain yang menyebabkan gangguan pada kesehatan seperti sulit tidur, tidak mau sekolah, dan malas berinteraksi fisik.

Kendati demikian tidak semua gawai dan gim 100 persen bersifat negatif dan mengganggu kesehatan. Sebagian di antaranya melaporkan bahwa gim video dapat meningkatkan kemampuan kognitif otak seperti persepsi, atensi, dan waktu reaksi.

Beberapa efek kecanduan gawai untuk kesehatan pada anak dan remaja antara lain terkena penyakit tik, gangguan pendengaran, tangan kaku, postur tubuh tidak baik, anak kurang bergerak, leher sakit, dan memicu obesitas.

Efek terhadap psikisnya antara lain lain kurang interaksi, telat bicara (pada batita), dan anak tidak terstimulasi. Akan tetapi, kondisi ini besar kemungkinan bisa dipulihkan asal segera ditangani sejak dini, apalagi untuk usia anak yang masih golden age.

Adiksi pada anak terutama bagi pelajar akan terlihat saat kegiatan belajar, terutama di sekolah. Anak yang kurang konsentrasi karena terlalu terpikat oleh gawai akan terpicu mengeluarkan karakter obsesif atau sulit beralih dari gawai yang disenanginya.

Untuk penanganannya, jangan dilepaskan langsung, nanti anak gelisah dan tidak nyaman. Orangtua bisa mengalihkan ke olah raga, kegiatan membaca, atau permainan tradisional. Gawai idealnya diberikan kepada anak di atas usia 5 tahun.

Namun, perlu dibedakan antara respons adiksi dan passionate anak pada gawai. Anak yang passionate terhadap gawai atau teknologi informasi akan masih tahu batasan dan memiliki manajemen waktu yang baik. Anak dengan sadar mengetahui waktu kapan ia haras belajar, makan, tidur, dan aktivitas lain. 
|
Pasien atau penderita terkait adiksi gawai terbagi dua. Ada yang datang secara langsung karena adiksi gawai, misalnya, berdampak pada gangguan prestasi belajar. Ada juga yang secara tidak langsung karena adiksi gawai menyebabkan anak depresi, gangguan sosialisasi, pokoknya gawai jadi pelarian. Kalau terpapar adiksi gawai pada golden period sangat disayangkan karena bisa mengganggu perkembangan saraf, karena banyak saraf yang mati.

Kunci agar anak lepas dari adiksi gawai adalah orangtua haras disiplin dan konsisten. Pola asuh yang tidak konsisten, niat yang kurang kuat, juga jadi faktor besar penangananan kecanduan gawai. Karena anak bersentuhan dengan gawai itu dengan melibatkan hati, perasaan, dan emosi, jadi niat dari orangtua yang ingin melepaskan adiksi anak pada gawai juga harus dimulai dari niat yang kuat terlebih dahulu.

Molekul otak dopamin sangat terstimulasi saat seseorang berinteraksi dengan gawai. Dopamin adalah neurotransmitter atau suatu senyawa dalam saraf di otak manusia yang salah satu tugasnya membangkitkan kesenangan dan melupakan tugas lainnya.

Jika seseorang sudah kena adiksi gawai, ia berarti tengah banjir dopamin yang patut diwaspadai.
Ini efeknya sama dengan narkoba. Bahkan bisa lebih parah karena narkoba sebarannya "hanya" mengganggu beberapa bagian otak saja, nah kalau kecanduan gawai sebaran gangguannya ke seluruh bagian otak.

Menjadi lebih sulit lagi penanganan adiksi gawai karena gawai sangat mudah ditemukan dan orangtua lalai menyadari bahwa gawai bisa menjadi sebab anak adiksi yang lebih berat dari narkoba.

Diharapkan baik guru, orangtua, maupun pemerintah bisa satu suara untuk menekan jumlah warga yang kecanduan gawai, terutama kalangan pelajar (anak dan remaja). Suatu penelitian juga menyebutkan, 70 persen anak pemakai gawai itu kecanduan. Untuk penanganan, jika anak sudah sangat sulit dilepaskan dari adiksinya bisa digunakan pengobatan salah satunya antipsikotik yang bertujuan untuk menekan arus dopamin yang keluar. [Eva Fahas/Maman Soleman/01122019]

loading...