IBX59ED8B2FED208 Sayap-Sayap Patah, Kisah Kahlil Gibran Tentang Cintanya - Jendela Informasi

Sayap-Sayap Patah, Kisah Kahlil Gibran Tentang Cintanya

Jendela Informasi - Kisah remaja ini, bukan saja menggambarkan "sayap-sayap" patahnya Gibran sendiri, tetapi justru juga patahnya "sayap-sayap" Selma Karamy, si gadis yang begitu dicintai sekaligus mencintai Gibran. Mereka seolah-olah telah digariskan nasibnya dengan kungkungan kehidupan yang bergeser dari pedih ke pedih, bahkan akhir dari kisah inipun sedih.

Ceritanya dapat dikatakan sederhana. Tentang kemelut cinta seorang remaja berusia sekitar delapan belasan, yakni Kahlil Gibran sendiri. Si tokoh berkenalan dengan seorang kaya yang ramah, Farris Effandi. Persahabatan yang terjalin antar keduanya menyebabkan terjadinya perkenalan antara Gibran dengan anak gadis Farris, yaitu: Selma Karamy. Perkenalan itu mulanya terasa sederhana dan manis, hari demi hari jadi seperti bertebar bunga dan beberapa wewangian. Tetapi semuanya itu tak lama, cinta mereka yang mulai mekar direnggut. Selma telah dipaksa kawin dengan keponakan seorang pendeta, Mansour Bey Galib.

Mansour Bey Galib ini, adalah keponakan pendeta yang memiliki pengaruh besar di tempat tinggalnya ayah Selma. Farris Effandi memang telah terikat erat oleh sipendeta yang digambarkan penuh kelicikan itu. Sejak pemaksaan kawin terjadi, hidup Selma dan Gibran secara runtun dilukiskan begitu kelabu dan "sayap-sayap" mereka memang patah dan luruh.


Kisahpun berlanjut. Sesudah menikah Selma beberapa kali masih berusaha untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan (bekas) kekasihnya di sebuah kuil. Pertemuan itu terasa banyak artinya bagi kedua anak manusia yang merasa dicampakkan oleh duri-duri kehidupan. Segala kesulitan yang dialami, saling diurai dan dibeberkan bersama dalam pertemuan semacam itu. Cinta antar pihak yang patah begini, kadang memang bisa terasa suci dan tanpa maksud tercadar apapun. Cinta kata Gibran adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alamipun tak bisa mengubah perjalanannya.
Kehidupan perkawinan Selma dengan Mansour Bey Galib diceritakan penuh onak dan ketidak sepakatan, apalagi dengan musibah kematian Farris Effandi. Sang suami - yang telah memperoleh warisan dari ayah Selma - tak jarang bermain serong dengan wanita-wanita lain serta gemar berpesta pora. Bey Galib bahkan disebut sebagai jenis laki-laki yang rakus bagai liang kubur. Sedangkan si istri dibebani tekanan-tekanan tertentu, karena hampir lima tahun tidak jua melahirkan anak. Itulah mengapa hampir setiap saat, Selma berdoa kepadaNya.

Ketika akhirnya Selma bisa hamil, lalu melahirkan seorang putera. Ternyata kebahagiaan tiada jua diraihnya. Sang suami ketika diberitahu bahwa istrinya telah melahirkan, dia malah berpesta pora. Padahal, bayi ditakdirkan hidup sebentar saja. Sesudah saat pertama membuka.mata, meninggallah ia. Selma merasa amat terpukul, dan sempat berucap kepada dokter: "Berikanlah padaku anakku, dekatkanlah ia padaku dan biarkanlah aku memandangnya dalam kematiannya." Hingga kemudian ia pun meninggal tak lama setelah kematian bayinya. Mereka diletakkan dalam satu peti mati, lalu dikuburkan.

Peran Gibran disini, memanglah peran duka. Dia melukiskan kisah cintanya (sendiri) yang pahit, belum sempat berkembang, sudah harus didera oleh kenyataan-kenyataan yang terasa memedihkan. Walau cinta antara Selma dan Gibran terus berlanjut, ternyata dukapun terus menguntit.
Dalam kata pengantar buku "Sayap-Sayap Patah" memang telah disebutkan bahwa, cerita ini adalah kisah suram. Walau juga uraian cerita terasa diromantisir oleh pengarangnya, sehingga kepedihanpun digambarkan bisa jadi terasa manis dan nikmat, tapi tak apalah. Toh tulisan Gibran sungguh bisa menukik pada berbagai sudut kehidupan itu sendiri, padahal kerangka cerita sekedar penggalan kisah cinta remaja belaka. Hasil karya yang ditulis oleh pengarang terkenal si pencipta buku Sang Nabi itu, terasa kental oleh lukisan kehidupan yang kadang justru tidak kita sadari.

Terjemahan alinea demi alinea termasuk lancar, hingga buku ini enak dibaca (barangkali juga direnungi), bahkan didahului pula dengan kata pengantar tentang apa dan siapa Kahlil Gibran serta karya-karyanya. Akhirnya, karangan ditutup dengan pencantuman 'Glosarium Butir-Butir Hikmah' yang cukup menarik. Cobalah simak.

Buku: Sayap-Sayap Patah
Penulis: Kahlil Gibran
Penerbit : Pustaka Jaya, Jakarta, 1986, XXV + 155 halaman

0 Response to "Sayap-Sayap Patah, Kisah Kahlil Gibran Tentang Cintanya"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.