IBX59ED8B2FED208 Asal Usul Burung Puyuh Tidak Berekor - Jendela Informasi
Loading...

Asal Usul Burung Puyuh Tidak Berekor

Jendela Informasi - Dahulu kala hiduplah beberapa binatang di sebuah hutan yang lebat. Diantara binatang-binatang itu terdapat pula Burung Bangau bersama dua ekor anaknya yang baru ditetaskan. Mereka hidup diatas pohon dadap berduri yang ada di pinggir kali. Kedua anaknya yang masih tampak merah itu sering meminta makan kepada induknya sambil mengangakan mulutnya. Induknya pun sangat menyayangi mereka berdua.

Setiap pagi, induknya pergi mencari makan untuk kedua anaknya itu. Dia terbang menuju sawah, telaga ataupun danau untuk mencari ikan, udang, kodok, cacing atau apa saja yang dijumpainya.

Dan suatu ketika datanglah musim kemarau melanda jagad raya ini. Air sungai dan talaga banyak yang menyusut. Bangau pun akan mencari makanan di tempat itu. Dia akan mengeringkan sisa air yang tergenang di ceruk-ceruk sungai tersebut. Setelah air ditimba dan kering, maka ikan yang ada di tempat itu akan ditangkapnya.

Setelah terbang beberapa lama, sampailah bangau di sebuah ceruk sungai. Segera dia turun dan mulai mengaduk. "Buk....syer buk ... syer...!"

Dia mulai menimba air dari ceruk sungai tersebut. Wajah dan tubuhnya bermandikan keringat, "Buk... syer buk...syer !" Hingga ceruk hampir kering, ikan-ikan pun mulai tampak berenang kebingungan, anak-anak udang merayap memanjat akar dan batu.  Oari lubang diantara bebatuan terdengar bunyi ikan lele,  “Krokok  ... Krokok!” 
semakin bersemangat. Bangau menimba air melihat semua itu.

Tiba-tiba seperti jatuh dari awan saja layaknya, berdirilah seekor musang di celah rumput ilalang.
"Assalamu'alaikum, Bibi Bangau!" sapa musang dengan ramahnya.
"Waalaikum salam !" jawab Bangau, sembari menolehkan kepalanya.
"Sedang apa Bibi Bangau?" tanya si musang sambil tersenyum.
"Sedang mencari ikan".
"Ikan apa yang Bibi cari?"
"Apa saja yang ada, udang, lele, gabus, belut atau kodok".
“Kumakan mentah-mentah," jawab si Bangau.
"Ah, kau ini jorok sekali. Kalau aku jijik makan dengan cara begitu, paling tidak harus digoreng baru bisa masuk ke perutku !" ujar si musang dengan congkak.

Bangau menangis mendapat penghinaan itu, “Au ..au ...au !" Dia pun pergi begitu saja meninggalkan tempat itu karena sakit hati diejek musang. Setelah bangau pergi, musang cepat-cepat turun ke tempat bangau tadi dan langsung menangkap ikan-ikan hasil jerih payah bangau, lalu dimakan mentah-mentah, "Nyam.... nyam.... nyam !" dengan lahapnya. Begitulah berkali-kali musang berbuat licik terhadap bangau.

Pada suatu hari, ketika bangau pulang sambil menangis, dia bertemu dengan seekor Burung Puyuh. 
"Wahai Bibi Bangau, mengapa Bibi menangis?” tanya puyuh dengan suara lembut.

Bangau lalu menceritakan masalah yang terjadi padanya karena perlakuan musang yang tidak bersahabat itu. “Dia datang padaku dengan tiba-tiba di saat air sungai hampir habis, lalu dia bertanya macam-macam. Aku dihinanya sebagai binatang jorok karena aku makan ikan mentah. Kalau dia harus menggoreng ikan-ikan itu dulu, baru dimakan !" kata Bangau kepada puyuh sambil menahan tangisnya.

"Tenanglah, Bibi Bangau," kata puyuh sambil menghibur, "besok pergilah bibi mencari ikan. Kalau dia datang dan menghina lagi, jawablah begini, siapa yang tahinya berbulu-bulu di pematang itu?”

Bangau pun menjadi tenang setelah mendapat pelajaran dari puyuh. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, pergilah bangau mencari ikan, dia menemukan kubangan yang hampir kering. Lalu, mulailah dia menimba sisa-sisa air yang ada dikubangan itu. "Buk syer... buk syer... buk syer !" 

Setelah air tersebut tinggal sedikit, maka tampaklah ikan-ikan yang mulai kebingungan. Bersamaan dengan itu datanglah si musang. Dia berdiri di atas pematang. Tubuhnya semakin buncit dan gemuk. Mungkin karena setiap hari makan ikan hasil jerih payah bangau.
“Pagi, Bi!” tegurnya.
"Pagi juga!" Jawab si bangau tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Sedang apa, Bi ?' tanya si musang dengan ramahnya.
"Ah, lagi iseng mencari ikan, seekor hobinnya," jawab si bangau.
"Ikan apa yang bibi cari?" tanya musang lagi sambil mendekat.
"Ya, kalau bisa dapat ikan hiu atau ikan paus, pokoknya yang aneh-aneh,” jawab si Bangau sambil meneruskan pekerjaannya.
"Kalau dapat, akan kau apakan ikan itu, Bi?"
"Kalau dapat, akan kucincang dan kumakan mentah-mentah campur arak dan kecap, seperti orang Jepang," jawab Bangau dengan tegas.
"Ah kalau aku akan membuat masakan yunani agar ikan itu bisa masuk ke perutku," kata musang dengan sombong.
"Jangan congkak kau musang, siapa yang tahinya berbulu-bulu di pematang itu?" tanya Bangau menyindir.

Wajah musang menjadi merah padam mendapat sindiran itu. Dia tidak menyangka Bangau bisa berdebat sepintar itu. Lagi pula, dari mana dia tahu rahasia pribadinya yang sangat memalukan itu.
"Hai Bangau siapa yang mengajari kau seperti itu?" Bentak musang
"Aku belajar sendiri dari buku dunia binatang" jawab bangau tenang.
"Ah itu tidak mungkin!" bentak si musang kepada bangau.
"Sekarang katakan, siapa yang memberi tahu kamu rahasia pribadiku. Kau mata-mata ya? Awas kalau kau tidak memberi tahu aku, sekarang juga akan kuremukkan batok kepalamu yang macam kemiri itu", gertak musang kepada bangau dengan wajah merah padam.
Bangau pun ketakutan, Pu... pu... pu....." jawabnya dengan tersendat-sendat.
"Pu... siapa?" tanya musang dengan suara membentak.
"Pu....pu... puyuh "jawab Bangau ketakutan.
"Apa, puyuh? Awas si puyuh akan kumakan dia bulat-bulat!” Ancam musang. Setelah berkata demikian, pergilah musang tanpa permisi.

Bangau pun meneruskan pekerjaannya menimba air kubangan. Setelah kering air kubangan tersebut, ditangkapnya ikan-ikan yang ada.

Selesai makan ikan hasil jerih payahnya itu, dia ingat akan ancaman musang dan merasa kasihan kepada puyuh, maka, lalu dia terbang mengikuti arah musang pergi.
Adapun halnya si musang, dia berjalan ke sana ke mari mencari puyuh. Sudah penat ia berjalan tetapi belum dijumpainya hewan itu.

Akhirnya, setelah seharian mencari-cari dan tidak bertemu, maka beristirahatlah dia di bawah pohon kenari. Karena lelahnya dia terlelap sampai malam tiba.

Sementara itu, di malam yang terang-benderang di atas pohon kenari itu, burung celepuk sedang menikmati indahnya rembulan sambil bernyanyi riang gembira. Karena suara burung celepuk itulah, maka terbangunlah musang dari tidurnya, setelah disadarinya bahwa waktu itu telah tengah malam, lalu dia bertanya kepada burung celepuk yang ada di atasnya itu, tentang tempat puyuh berada.

"Selamat malam, Tuan Guru Celepuk, " sapa musang dengan ramahnya.
"Selamat malam, Nanda Musang," jawab Celepuk.
Musang pun menyampaikan keperluannya menghadap, Burung Celepuk pun memberi tahu bahwa tempat puyuh berada di padang ilalang.

Maka pagi-pagi sekali, pergilah musang mencari puyuh di padang ilalang. Dari jauh didengarnya suara puyuh, "But ...but....but but ubut!!

Musang mendekat ke tempat puyuh berada. Diam-diam dia melangkah. Puyuh tidak sadar bahwa ada bahaya mengincar atas dirinya. Tiba-tiba musang mencaplok puyuh dari belakang. Di waktu itu pula datanglah si Bangau sambil berteriak, "Puyuh... awas.... !! Mendengar teriakan bangau itu, dia menoleh ke belakang. Namun sia-sia puyuh, ekornya kena caplok dan putus, puyuh terkejut, lalu dia terbang. Itulah sebabnya sampai sekarang puyuh tidak berekor.

Karena tidak berhasil mencaplok puyuh, musang pergi dengan tidak bergairah. Di saat itulah datang si pemilik ladang. Melihat musang barada di tengah ladangnya, dia marah dan membacok musang dari belakang. Musang pun terluka, tapi dia masih berlari ke tengah rimbunnya pepohonan dan bersarang di sana. Maka, sampai sekarang pun musang masih tetap bersarang dirimbunnya pepohonan.

Demikianlah, cerita ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa jerih payah seseorang janganlah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, berusahalah dengan cucuran keri-gat sendiri, itu lebih bermanfaat dan membawa berkah.