IBX59ED8B2FED208 Mengapa Negara Gagal? Temukan Jawabannya di Buku Ini! - Jendela Informasi
Loading...

Mengapa Negara Gagal? Temukan Jawabannya di Buku Ini!

Jendela Informasi - Politik sepertinya telah ditakdirkan menjadi panglima bagi kemajuan ataupun kegagalan sebuah bangsa. Jika iklim politik yang dibangun bobrok, tamatlah bangsa yang bersangkutan.

Semua berawal dari dua Nogales. Kedua wilayah itu terletak berbatasan. Keduanya punya karakter geografis sama. Pun karakter penduduk mereka sebangun. Begitu pula kultur mereka. Namun, mengapa penduduk Nogales, Arizona, Amerika Serikat, berpendapatan tiga kali lebih besar daripada tetangga mereka di Nogales, Sonora, Meksiko? Mengapa mereka begitu dekat, tapi begitu berbeda? So close, yet so different.

Dua penulis, Daron Acemoglu dan James A Robinson, berikhtiar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Acemoglu ialah Guru Besar Ekonomi di MIT, sedangkan Robinson ialah Guru Besar Pemerintahan di Harvard University.

Bertolak dari dua Nogales, mereka meneliti perbedaan nasib negara-negara di dunia selama 15 tahun. Hasilnya berupa buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (Profile Books, 2012).

Kedua ilmuwan menyimpulkan Nogales, Arizona, lebih kaya daripada Nogales, Sonora, karena kedua wilayah memiliki institusi yang jauh berbeda. Perbedaan institusi kelak menciptakan perbedaan insentif bagi penduduk di kedua wilayah.

Amerika dewasa ini jauh lebih makmur daripada Meksiko karena institusi di 'Negeri Paman Sam' bekerja secara efektif untuk menghasilkan insentif bagi para pengusaha, individu, juga politikus. Acemoglu dan Robinson menjelaskan setiap masyarakat berfungsi menjalankan serangkaian peran ekonomi dan politik yang digerakkan dan diperkuat negara dan warga negara secara kolektif. Institusi ekonomi menciptakan berbagai insentif, antara lain insentif pendidikan, tabungan dan investasi, serta pengadopsian teknologi baru.

Insentif semacam itulah yang kemudian melahirkan pengusaha terdidik di bidang teknologi informasi seperti Bill Gates dan Steve Jobs.

Menurut Acemoglu dan Robinson, proses atau institusi politiklah yang menentukan iklim ekonomi suatu masyarakat. Institusi politik menentukan bagaimana institusi ekonomi bekerja, misalnya institusi politik yang memberi kewenangan kepada warga negara untuk mengontrol politisi dan memengaruhi cara mereka bertindak. 

Yang termasuk institusi politik ialah kapasitas negara menyusun regulasi dan mengatur masyarakat. Dalam pengertian yang lebih luas, institusi politik menjadi faktor yang menentukan bagaimana kekusaan politik didistribusikan kepada masyarakat. Hal yang juga penting, institusi politik menentukan bagaimana masyarakat dari kelompok berbeda bertindak secara kolektif untuk mengejar tujuan bersama.

Dengan perkataan singkat, dalam konteks hubungan institusi politik dan ekonomi, buku ini memperlihatkan institusi ekonomi sangat penting untuk menentukan apakah sebuah negara menjadi miskin atau makmur. Namun, politik dan institusi politiklah yang menentukan institusi ekonomi macam apa yang dimiliki negara. Sebagai bukti, kemapanan institusi ekonomi Amerika dewasa ini merupakan hasil dari institusi politik yang perlahan mencapai kemapanan sejak 1619.

Rekomendasi cerdas
Sampai di sini, Acemoglu dan Robinson sesungguhnya telah menelurkan teori ketimpangan dunia (theory for world inequality). Teori tersebut memperlihatkan betapa interaksi institusi politik dan ekonomi amat menentukan suatu negara menjadi makmur atau tetap miskin.

Suatu negara tetap miskin lantaran institusi politik gagal melahirkan institusi ekonomi yang memberikan insentif-insentif bagi masyarakatnya. Sebaliknya, suatu negara mencapai kemakmuran karena institusi politik melahirkan institusi ekonomi yang menyediakan hamparan insentif bagi masyarakat.

Teori ketimpangan dunia praktis mematahkan kebenaran sejumlah teori yang selama ini diyakini, antara lain teori geografi (geography theory), teori kultur (culture theory), dan teori pengingkaran (ignorance theory).

Teori-teori tersebut mengasumsikan suatu negara makmur atau miskin sangat ditentukan kondisi geografis, kultur, dan apakah negara ingin atau enggan mencapai kemakmuran.

Berawal dari Nogales, teori ketimpangan dunia Acemoglu dan Robinson bisa kita terapkan ke wilayah-wilayah lain di segenap penjuru dunia. Mengapa Korea Utara sepuluh kali lebih miskin daripada Korea Selatan meski kultur, geografi, dan karakteristik penduduk keduanya relatif sebangun?

Mengapa Malaysia dan Singapura lebih maju daripada Indonesia meski ketiga negara memiliki karakter geografis yang sama-sama tropis serta sama-sama berkultur Melayu?

Namun, pertanyaan paling penting dalam tataran praktis ialah apakah negara-negara gagal harus mengadopsi institusi negara-negara makmur?

Acemoglu dan Robinson tidak merekomendasikan hal itu: Menurut mereka, belum tentu institusi di suatu negara cocok untuk negara lain. Keduanya merekomendasi negara-negara merintis jalan sejarah sendiri untuk menghasilkan institusi politik yang kelak melahirkan institusi ekonomi yang menyediakan berbagai insentif. 

Acemoglu dan Robinson menunjuk sejumlah negara makmur yang merintis jalan sejarah masing-masing: Inggris dengan Revolusi Inggris-nya, Prancis dengan Revolusi Prancis-nya, Jepang dengan Restorasi Meiji-nya, dan China dengan Reformasi Deng Xiaoping-nya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?