IBX59ED8B2FED208 Ali Topan Anak Jalanan, Pemberontakan Anak Jalanan, Karya Teguh Esha - Jendela Informasi
Loading...

Ali Topan Anak Jalanan, Pemberontakan Anak Jalanan, Karya Teguh Esha

Jendela Informasi - Pemberontakan anak muda akan realita kehidupan yang penuh penindasan menjadi gambaran bagi Ali Topan.

"Anak jalanan kumbang metropolitan selalu dalam kesepian anak jalanan korban kemunafikan selalu kesepian di keramaian"

Pemberontakan, kata itu menggambarkan Ali Topan. Sosok rekaan dalam buku Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha itu menarik semua pihak saat diluncurkan dalam bentuk cerita bersambung di majalah Stop pada 14 Februari 1972.

Ali yang besar di keluarga menengah ke atas memberontak atas kelakuan keluarganya dan ketidakadilan yang ia lihat langsung di lingkungannya, termasuk sekolah. Bab tiga pada novel yang pertama kali terbit 1977 itu mengungkapkan kebiasaan ayahnya yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dan tidak ketinggalan 'main perempuan'. Ibunya sering bepergian dan menghabiskan uang berselingkuh dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya.

Adapun Boyke, kakaknya yang bersekolah di Australia, juga membuat masalah. Kepindahan kakaknya ke 'Negeri Kanguru' pun sebagai upaya orangtua mereka melarikan anaknya karena menghamili pembantu mereka. Padahal, Boyke, yang terpaut empat tahun dengan Ali, memiliki tunangan.

Sehari-hari Ali besar dengan pengasuhan Mbak Yem. Selain itu, ia menghabiskan waktu dengan tiga teman geng motornya, Dudung, Bobby, dan Gevaert untuk nongkrong dan ngebut dengan motor mereka. Kebiasaan mereka kebut-kebutan di jalanan, bolos sekolah, dan lainnya membuat mereka dikenal sebagai krosboi.

Di tengah kekacauan hidupnya, kehidupan Ali dibuat berwarna dengan kehadiran Anna Karenina. Dari awalnya tidak menyukai Ali, hati Anna pun terpikat pada semua tindakan pemuda berambut gondong itu. Sayangnya, hubungan mereka tidak direstui orangtua Anna.

Orangtua Anna yang berasal dari kalangan bangsawan menolak hubungan Anna dengan Ali karena menilai Ali berasal dari kalahgan bawah. Meski Anna sempat kabur, orangtuanya berhasil menemukan dan memisahkan mereka.

Ali yang bersekolah di SMA1 Bulungan dan nongkrong di Blok M itu melihat berbagai realitas kehidupan di jalanan. Ia juga menilai KKN sebagai perampokan uang rakyat.

Meski ini kisah fiksi, Teguh yang rajin nongkrong di kawasan Blok M menuliskan cerita itu dengan becermin pada realitas saat itu. Ia menyoroti gejolak sosial yang kala itu muncul. Salah satunya tante girang, istilah untuk para ibu yang berselingkuh dengan pemuda. Selain itu, KKN mulai merebak sehingga bila tidak ada kedekatan dengan pejabat dan militer akan sulit untuk naik jabatan.

Realitas tersebut berhasil diangkat Teguh dan dituliskan secara lugas tanpa menghakimi.

Layar lebar
Buku Ali Topan Anak Jalanan awalnya cerita bersambung sebanyak empat seri karya Teguh Slamet Hidayat Adrai (nama asli Teguh Esha) di majalah Stop. Pada 1977 cerita bersambung itu diterbitkan Cyoress dengan judul Ali Topan Anak Jalanan: Kesandung Cinta.

Itu kemudian dicetak ulang oleh PT Visi Gagas Komunika (Vision 03), September 2000. Namun karena ada masalah, setelah itu Teguh Esha menolak untuk menerbitkan kembali karyanya.

Sejak pertama kali diluncurkan, dalam waktu enam bulan buku tersebut empat kali diterbitkan. Sukses dengan buku pertama, Teguh mengeluarkan buku keduanya berjudul Ali Topan Detektif Partikelir pada 1979 dan pada 2000 ia meluncurkan seri ketiga Ali Topan, yakni Ali Topan: Wartawan Jalanan.

Sukses dengan buku, banyak pihak ingin mengangkat kisah tersebut ke layar lebar. Di tahun yang sama film Ali Topan Anak Jalanan yang disutradarai Ishaq Iskandar keluar di bioskop, dengan mengusung sejumlah pemain top, yakni Junaedi Salat, Yati Octavia, Titiek Sandhora, Mieke Wijaya, Ruth Pelupessy, Aedy Moward, Aminah Cendrakasih, dan Connie Sutedja.

Tidak semata menulis bukunya, Teguh Esha juga menyumbangkan sejumlah lirik lagu untuk film tersebut, yakni Balada Ali Topan yang dinyanyikan Franky & Jane. Theme song film ini dipercayakan kepada Chrisye (alm).

Pada 1979 muncul film Ali Topan Detektif Partikelir Turun ke Jalan dengan bintang Widi Santoso, Roy Marten, Rudy Salam, Irma Suwardi, dan Nina Lubis. Film itu disutradarai Abrar Siregar dan produser Harry Tjahjono.

Tidak semata diangkat ke layar lebar, pada 1986 Ali Topan Anak Jalanan dijadikan sinetron sepanjang 26 episode di salah satu televisi swasta di Indonesia. Tokoh Ali diperankan Ari Sihasale dan Anna oleh Nia Zulkarnain, yang kini menjadi pasangan suami istri pemilik rumah produksi Alenia Production.

Tidak berhenti di situ. Koreografer Ari Tulang mengangkat kembali kisah fiksi tersebut dalam drama musikal pada 2011. Bahkan sebelum melahirkan Ali Topan The Musical, Ari Tulang dan Maera A Panigoro meminta izin kepada Teguh Esha dan melakukan studi banding ke Broadway.

Hadirnya buku ini membuka realitas bahwa anak muda pun peka akan kondisi lingkungannya, baik itu penindasan maupun kesewenangan. Namun terkadang suara mereka kerap tidak terdengar dan tidak tersalurkan dengan baik.

Riwayat pengarang
Masa kecil Teguh Esha diwarnai dengan berbagai komik silat, wayang RA Kosasih, dan novel-novel detektif. Namun, bakatnya menulis baru terlihat ketika ia bertemu dengan Pemimpin Redaksi Utusan Pemuda Dadi Honggowongso.

Teguh mengeluhkan cerpen yang diterbitkan kurang bagus. Setelah mendengar hal itu, Dadi pun menantang Teguh untuk membuat cerpen.

Pria kelahiran Banyuwangi, 8 Mei 1947 itu pun membutuhkan satu malam penuh untuk menulis cerpen bertema detektif.  Itu ternyata diterbitkan pada edisi Minggu.

Setelah melihat karya Teguh, kedua kakaknya, Djoko Prajitno dan Kadjat Adrai, mendorong Teguh yang kala itu sudah bekerja sebagai wartawan Utusan Pemuda menjadi penulis.

Ia pun mencoba mendalami dunia jurnalistik di Fakultas Publisistik Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama). Sayangnya ia gagal menamatkannya.

Bersama kedua kakaknya, Teguh menerbitkan majalah Sonata. Ia pun menduduki posisi wakil pemimpin redaksi pada 1971-1973. Setahun kemudian ia menerbitkan majalah Le Laki. Di majalah itulah ia menulis cerita bersambung berjudul Dewi Besser. Cerpen itu bercerita tentang kehidupan para artis di Metropolitan dan bisnis majalah hiburan.

Pada 1980, Teguh menikah dengan Ratnaningdiah Indrawati Santoso Brotodihardjo, cucu Soeratin Sosrosoegondo, tokoh sepak bola nasional. Mereka dianugerani tujuh anak.

Meski begitu, sejumlah seri Ali Topan lain belum keluar. Ali Topan Rock and Road masih ber-bentuk tulisan tangan dan Ali Topan Santri Jalanan belum tamat dan baru sempat dimuat bersambung tujuh edisi di Panji Masyarakat pada 1984.

Keterangan buku
Judul : Ali Topan Anak Jalanan
Penerbit : Cyopress
Tahun terbit : 1977