IBX59ED8B2FED208 Toha Mohtar (1926-1992), Sastrawan Bersahaja yang Piawai Melukiskan Suasana - Jendela Informasi
Loading...

Toha Mohtar (1926-1992), Sastrawan Bersahaja yang Piawai Melukiskan Suasana


Jendela Informasi - Antara Gunung Wilis dan Gunung Kelud terhampar sebuah desa dan sekaligus kecamatan, namanya Ngadiluwih, kurang lebih 10 km dari kota Kediri, Jawa Timur. Di sanalah sastrawan bersahaja yang piawai melukiskan suasana, Toha Mohtar, dilahirkan pada tanggal 17 September 1926. Toha terlahir sebagai anak kedua dari keluarga Husni Mohtar, seorang penghulu kecamatan. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah berdasarkan agama Islam. Seperti lazimnya anak-anak pada waktu itu di lingkungannya, Toha pun pada pagi hari masuk sekolah di sekolah umum dan pada sore harinya ia pergi ngaji ke seorang Ustad. Ketika revolusi berlangsung Toha masih berumur belasan tahun. Ia pun tak mau kalah dengan teman-teman yang lainnya. Ia ikut memanggul senjata bergerilya ke luar masuk hutan antara Gunung Wilis dan Gunung Kelud. Pengalaman Toha ini kelak berguna untuk menulis cerita-ceritanya tentang perjuangan, revolusi fisik keluar-masuk hutan, dan akibat yang ditimbulkan dari perang itu, terutama dampak sosial dan psikologis bagi masyarakat umumnya.

Pendidikan formal Toha Mohtar tidak begitu tinggi. Ia menyelesaikan SMA-nya di Kediri pada tahun 1947. Setelah berhenti dari sekolahnya itu, Toha mencoba mengadu nasibnya pergi meninggalkan Kota Tahu, sebutan kota Kediri, ke kota Surabaya untuk bekerja menjadi korektor majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya. Majalah Jaya Baya ini mula-mula terbit di Kediri pada bulan September 1945 yang didirikan oleh mantan guru Toha di Kediri, Suwandi Tjitrowarsito. Namun, setelah Guru Wandi, demikian Toha menyebut nama mantan gurunya, pindah tugas ke Surabaya, majalah yang dipimpinnya itu ikut pindah dari Kediri ke Surabaya. Selama tiga tahun Toha bekerja aktif menjadi korektor majalah tersebut. Nama guru dan pimpinan majalah Jaya Baya ini oleh Toha diabadikan dalam kumpulan cerita pendeknya Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989).

Merasa bosan hidup di Surabaya, Toha Mohtar pada tahun 1950 pindah ke kota metropolitan, Jakarta. Mula-mula Toha bekerja di dinas ketentaraan dengan profesinya sebagai civil (pembantu). Namun, Toha tidak begitu lama bekerja di kantoran seperti itu. Setelah berkenalan dengan Dukut Hendronoto, Subagjo Pr, Trisnojuwono, dan Mieke Sd., Toha Mohtar keluar dari kantor itu dan bersama-sama mendirikan majalah hiburan (humor) Ria(1950—1953). Tugas Toha Mohtar di majalah hiburan ini cukup berat. Ia harus menyiapkan ilustrasi buat majalah itu dan mengasuh rubrik cerita bersambung. Berkat keterpaksaannya mengasuh dan sekaligus mengisi rubrik cerita bersambung di majalah hiburan itu lahirlah novel Toha Mohtar yang pertama, Pulang (1957).

Setelah majalah Ria bubar, Toha Mohtar beralih profesi menjadi seorang guru menggambar di Taman Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta (1953-1959). Di sini Toha Mohtar bertemu dengan seorang mojang Priangan, berasal dari Tasikrnalaya, Jawa Barat, bernama Tjitjih Sudarsih. Mojang Priangan ini dinikahi Toha Mohtar pada tahun 1955, satu tahun setelah novelnya Pulang difilmkan oleh sutradara Basuki Effendi (1954). Dari perkawinanya dengan Tjitjih Sudarsih ini Toha Mohtar dikaruniai tiga orang putra dan putri. Dalam hidupnya sehari-hari Toha Mohtar cukup bersahaja, namun selalu tabah menghadapi kepahitan hidupnya. Sewaktu tahun 1970-an anak Toha yang baru sekolah di SD kerubuhan gedung sekolah itu - SD Bedeng yang terletak di Tanah Manisan, Polonia, Jatinegara - ia pun menerima nasibnya dengan kepasrahan kepada Tuhan. Untungnya anak itu dapat diselamatkan walaupun harus beberapa hari menginap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusuma, Jakarta.

Bakat dan minat Toha Mohtar menggambar memang sudah terlihat sewaktu sekolah rakyat dahulu. Setelah dewasa bakat dan minatnya menggambar itu membantu menghasilkan nafkah bagi keluarga Toha Mohtar. Banyak sketsa dan ilustrasi Toha Mohtar menghiasi majalah Roman, Aneka, Ria, Terang Bulan, Tegang Nasional, Warta Dunia, dan Kawanku. Dengan bakatnya melukis itu Toha Mohtar memberanikan diri melamar untuk bekerja di Perusahaan Film Negara (PFN) sebagai pengatur perwajahan di bagian titel (1958-1960). Dunia penulisan ternyata lebih menarik bagi Toha Mohtar. Itulah yang menyebabkan Toha Mohtar tidak betah kerja di PFN sehingga pada tahun 1960 ia keluar dari perusahaan film negara itu untuk bersama-sama kawannya mendirikan majalah Warta Dunia (1960-1965). Di majalah inilah lahir novelnya yang kedua, Daerah Tak Bertuan (1964) yang mendapatkan Hadiah sastra Yamin.

Toha Mohtar dikenal pula oleh anak-anak sekolah dasar dan menengah pada tahun 1970-an. Ia terkenal sebagai pengarang cerita anak-anak di majalah Kawanku (1970—1984). Majalah ini didirikan Toha Mohtar bersama kawannya, seorang penulis pula, bernama Julius R. Sijaranamual pada tahun 1970. Sebagian cerita anak-anaknya itu oleh Toha Mohtar dipilih dan dibukukan dalam kumpulkan cerpen anak-anak Lebih Menarik dari Kuda Lumping (1995, Jakarta: Grasindo). Masih banyak ratusan cerita pendek anak-anak Toha Mohtar yang belum sempat dibukukan sampai ia meninggal dunia, 17 Mei 1992, di Rumah Sakit Mitra, Jakarta, dan dimakamkan di pemakaman Malaka, Jakarta. Padahal, sastrawan yang bersahaja dalam hidupnya ini sangat piawai melukiskan suasana batin anak-anak, suasana alam yang penuh persahabatan, dan suasana kota yang cukup ceria.

Mula-mula Toha Mohtar menuliskan identitas dirinya menggunakan nama samaran, seperti Badarijah U.P., Matulessy, M. Lessy, Tati Mohtar, Elly, Gutomo, Wahjudi, dan Ridwan. Namun, setelah ia merasa mantab menjadi seorang sastrawan, meskipun karier ini tidak menjanjikan materi yang berlimpah, Toha dengan mantab menuliskan namanya sendiri. Ia sama sekali tidak mengira kalau novelnya Pulang mendapat sambutan yang luar biasa dari publik sastra di Indonesia maupun di luar negeri. Novel Pulang pernah mendapatkan hadiah sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada tahun 1958. Kemudian novel itu diterbitkan oleh Pembangunan, dibuat film oleh sutradara Basuki Effendi, disinetronkan oleh TPI dengan bintang sinetron Turino Djunaidi, diterbitkan di Malaysia, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa asing di dunia. Berbekal dengan kesastraannya itu, sebelum penyakit paru-parunya merenggut jiwanya, Toha Mohtar berhasil melanglang buana bersama Sitor Situmorang dan A.D. Donggo dengan mengunjungi Rusia, Cekoslowakia, dan Jerman.

Pahit-getirnya kehidupan seorang sastrawan telah menempa Toha Mohtar menjadi seorang yang bersahaja, tetapi penuh humor yang tinggi. Novelnya Daerah Tak Bertuan pada awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung di majalah Warta Dunia dengan judul "Tuntutan" dan "Gugurnya Ganda" (1962). Dua tahun kemudian (1964) novel Daerah Tak Bertuan yang mengambil latar revolusi 45 di daerah sekitar Surabaya, diterbitkan oleh penerbit Pembangunan dan mendapatkan Hadiah Sastra Yamin. Tahun itu juga novel Daerah Tak Bertuan diangkat ke layar lebar sebagai film nasional yang cukup laris pada waktu itu.

Karya-karya Toha Mohtar yang lainnya, antara lain, Kabut Rendah (novel, 1968), Bukan Karena Kau (novel, 1968), Jayamada (cerita rakyat daerah Kediri, 1971), Antara Wilis dan Gunung Kelud (kumpulan cerita pendek, 1989), Pantang Menyerah (cerita anak-anak, 1990), dan Lebih Menarik dari Kuda Lumping (cerpen anak-anak, 1995). Beberapa karya Toha Mohtar, antara lain Pelarian, Pembebasan, dan Cerita dari Daerah Pinggiran yang semula dimuat sebagai cerita bersambung di surat kabar Kompas (1993). Kemudian diterbitkan oleh Grasindo (1995).

Karya-karya Toha Mohtar mendapat sambutan hangat dari para kritisi dan pengamat sastra Indonesia, seperti A. Teeuw, H.B. Jassin, Ajip Rosidi, dan Sri Rahayu Prihatmi, terutama novelnya Pulang. Mereka pada umumnya menyatakan bahwa karya-karya Toha Mohtar dapat menyejukkan hati pembaca karena kepiawaiannya melukiskan suasana pedesaan yang indah, suasana revolusi yang penuh keharuan, dan suasana konflik batin tokoh-tokohnya yang kuat. Nama Toha Mohtar memang agak tersisihkan dari panggung sejarah kesusastraan Indonesia modern. Kesahajaan hidupnya membuat Toha kurang menyenangi publikasi dirinya yang berlebihan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kebiasaan Toha Mohtar menuliskan nama samaran pada beberapa karya sastra yang ditulisnya.***

0 Response to "Toha Mohtar (1926-1992), Sastrawan Bersahaja yang Piawai Melukiskan Suasana"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.