IBX59ED8B2FED208 Mari Mengenal Penyakit Jantung Koroner dan Kateterisasi Jantung - Jendela Informasi
Loading...

Mari Mengenal Penyakit Jantung Koroner dan Kateterisasi Jantung


Jendela Informasi - Perang Dunia II yang merenggut begitu banyak nyawa telah lama usai. Akan tetapi, sesungguhnya, peperangan yang dihadapi manusia belum benar-benar berakhir. Salah satunya adalah perang melawan penyakit yang juga meminta banyak korban, jauh lebih banyak dibanding korban PD II.

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah musuh terbesar yang kita hadapi. PJK mampu menyusup perlahan-lahan (kronik) dan menyerang secara halus yang membuatnya sulit terdeteksi pada fase awal dan sering kali diabaikan. Baru disadari setelah menyusup jauh dan menimbulkan kerusakan pada organ penting pada tubuh kita. PJK juga dapat menyerang secara mendadak dan cepat (akut) dengan serangan yang hebat dan mematikan. Kemampuannya ini menjadikan PJK sebagai penyakit yang sangat ditakuti dan menempatkannya pada urutan pertama penyebab kematian terbanyak di dunia.

Orang dengan hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi (dislipidemia), atau merokok memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena PJK. Kebanyakan orang sadar bahwa hipertensi, diabetes, dan dislipidemia adalah masalah kesehatan sehingga mereka berusaha mengontrolnya. Sayangnya, masih banyak yang tidak menganggap merokok sebagai masalah kesehatan, padahal perokok berisiko terkena PJK tiga kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok.

Seseorang yang mengalar serangan jantung biasanya mengeluh nyeri dada di bagian tengah atau kiri seperti ditindih benda berat, ditekan, atau rasa terbakar dan kadang menjalar ke punggung, leher, rahang, atau lengan kiri. Lama nyeri berkisar 5-10 menit dan hilang timbul. Pada kondisi yang lebih berat nyeri dada dapat lebih dari 20 menit dan sering disertai badan terasa lemas dan berkeringat banyak.

Nyeri dada tidak selalu disebabkan oleh kelainan jantung. Nyeri dada seperti ditusuk-tusuk, dicubit, disayat-sayat, biasanya bukan karena kelainan jantung. Nyeri dada yang dicetuskan karena menarik napas dalam atau pergerakan otot dada atau lama nyeri dada sangat sebentar (hitungan detik) atau sangat lama (beberapa jam atau bahkan hari, terus menerus) merupakan tanda bahwa nyeri dada tersebut bukan dari kelainan jantung.

Diagnosis PJK sering kali sulit dan memerlukan berbagai pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG/rekam jantung), ekokardiografi (USG jantung), treadmill exercise test, sidik perfusi miokardium dengan nuklir, CT-scan koroner, dan sebagainya. Untuk saat ini, yang menjadi gold standard untuk diagnosis pasti PJK adalah angiografi koroner.

Angiografi koroner atau banyak dikenal dengan istilah kateterisasi jantung merupakan prosedur pemeriksaan yang bersifat invasif dan dilakukan di dalam ruangan khusus yang disebut laboratorium kateterisasi atau cathlab. Pemeriksaan itu dilakukan dengan cara memasukkan selang kateter berukuran kecil dan lentur ke dalam pembuluh arteri di tangan atau pangkal paha sampai ke arteri koroner di jantung. Kemudian disuntikkan cairan kontras ke dalam arteri koroner dan difoto dengan alat rontgen sehingga anatomi arteri koroner tampak pada layar monitor.

Karena sifatnya yang invasif dan tentu saja dengan biaya yang cukup mahal, tidak semua pasien PJK harus dikirim ke cathlab untuk angiografi koroner. Terhadap semua pasien PJK harus dilakukan klasifikasi tingkat risiko berdasarkan pemeriksaan noninvasif seperti treadmill test, ekokardiografi, dan lain-lain yang telah disebut tadi. Hanya pasien dengan serangan jantung dan pasien PJK dengan tingkat risiko sedang-tinggi saja yang perlu dikirim ke cathlab untuk angiografi koroner. Bila dijumpai penyempitan arteri koroner yang bermakna, maka umumnya dilanjutkan dengan tindakan untuk melebarkan penyempitan koroner tersebut, baik dengan cara di balon tanpa pemasangan stent/ring (balloon angioplasty) maupun disertai pemasangan stent (PCI/Percutaneous Coronary Intervention).

Meskipun angiografi koroner dan PCI merupakan prosedur yang paling umum dilakukan, beberapa prosedur lain dapat pula dikerjakan di cathlab baik untuk tujuan diagnostik maupun terapi.

Prosedur-prosedur yang biasa dikerjakan di cathlab antara lain:
  1. Angiografi koroner untuk diagnostik PJK dan menilai beratnya penyempitan arteri koroner.
  2. PCI untuk terapi PJK dengan melebarkan dan memasang stent pada arteri koroner.
  3. Kateterisasi jantung kanan untuk diagnostik penyakit jantung bawaan.
  4. Pemasangan ocluder untuk menutup lubang/defect pada penyakit jantung bawaan seperti ASD, VSD, atau PDA.
  5. Percutaneous Transvenous Mitral Commisurotomy (PTMC) untuk melebarkan katup mitral (katup jantung kiri) yang mengalami stenosis/penyempitan.
  6. Pemasangan pacu jantung (pace maker).
  7. Electrophysiology Study dan ablasi untuk diagnosis dan terapi kelainan irama jantung.
  8. DSA (Digital Substaction Angiography) untuk menilai kelainan pembuluh darah di otak, tungkai, dan lain-lain.