IBX59ED8B2FED208 Inilah 6 Fakta dan Mitos Mengenai Heat Stroke - Jendela Informasi
Loading...

Inilah 6 Fakta dan Mitos Mengenai Heat Stroke

Jendela Informasi - Beberapa hari terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu panas di siang hari yang terasa lebih panas dari biasanya. Sejak 19 Oktober, suhu maksimum dapat mencapai 37 derajat Celsius. Bahkan suhu mencapai 38 derajat Celsius tercatat terjadi di Makassar. Kondisi itu diperkirakan terjadi hingga beberapa waktu ke depan.

Heat stroke menjadi salah satu penyakit yang banyak diperbincangkan mengacu pada fenomena tersebut. Heat stroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40 derajat Celsius, bahkan lebih.


Heat stroke umumnya berlangsung ketika seseorang mendapat paparan suhu panas dari lingkungan sekitarnya di luar batas ketahanan tubuhnya. Misalnya, saat cuaca sedang sangat terik. Meski cuaca begitu panas, bukan berarti seseorang lantas mengalami heat stroke.

Dalam keadaan biasa, manusia bisa mempertahankan suhu tubuh meskipun terjadi pergantian suhu lingkungan. Itu karena manusia dapat melepas panas saat suhu tubuh mulai meningkat dan menyimpan panas saat suhu menurun. Saat panas yang muncul melebihi toleransi tubuh untuk mengeluarkan panas itu, suhu tubuh akan naik dan mengakibatkan timbulnya heat stroke.

Peningkatan suhu tubuh memiliki efek yang membahayakan. Suhu yang naik bisa mengakibatkan rusaknya protein, lipoprotein, dan lemak yang menjadi zat pembentuk beberapa sel tubuh. Suhu yang tinggi dapat menimbulkan kegagalan fungsi berbagai organ, seperti hati, ginjal, dan otot, hingga menyebabkan kematian.

Hingga kini, banyak mitos yang keliru mengenai heat stroke di kalangan masyarakat. Berikut inifakta dan mitos mengenai heat stroke.

1. Heat stroke hanya bisa terjadi akibat cuaca panas: Mitos.
Faktanya, olah raga atau aktivitas fisik berlebih juga bisa menjadi penyebab munculnya heat stroke. Karena heat stroke merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera, maka penting bagi penderitanya untuk mengetahui tanda-tanda dari kondisi tersebut, dan bagaimana cara menanganinya.

Ada beberapa tanda dan gejala seseorang mengalami heat stroke. Di antaranya, mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, berkeringat deras, dan sakit kepala berupa kepala terasa ringan dan berkunang-kunang, disertai ketidaknyamanan.

Tanda-tanda lain yang mengiringi heat stroke adalah kulit memerah dan mengering, tingkat respons yang melambat, lonjakan denyut nadi mendadak, perubahan status mental atau perilaku seperti kebingungan, pemberontakan, bicara cadel, juga mual muntah, pernapasan cepat, hingga pingsan.

Heat stroke juga bisa terjadi akibat meninggalkan anak atau hewan piaraan di dalam mobil yang tidak berventilasi atau tidak dinyalakan AC-nya. Jumlah rata-rata kematian anak akibat heat stroke di dalam mobil rata-rata sekitar 37 kematian per tahun sejak 1998.

2. Minum air dingin atau masuk ke ruangan ber-AC dengan temperatur sangat dingin setelah kepanasan, memicu heat stroke: Mitos.
Pada dasarnya minum air dingin atau air es merupakan kebiasaan yang kurang sehat. Akan tetapi, kebiasaan itu secara medis tidak akan menyebabkan munculnya heat stroke secara langsung.

Bahkan terkadang sebagai langkah penanganan, ketika ada pasien dengan heatstroke, dokter justru membutuhkan es untuk menetralisasi suhu tubuhnya secara cepat. Namun, jika heat stroke terjadi pada lansia, anak-anak, pasien dengan penyakit kronis, atau seseorang yang mengalaminya karena latihan atau olah raga berat, jangan kompres dengan es.

Pendingin ruangan dengan temperatur rendah tidak berperan langsung mengakibatkan heat stroke. Biasanya, AC memiliki suhu terendah 16 derajat Celsius, jadi tubuh manusia masih bisa beradaptasi.

3. Ada langkah pertolongan yang bisa dilakukan orang sekitar untuk penderita heat stroke: Fakta
Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain memindahkan penderita ke tempat yang lebih sejuk, misalnya di bawah pepohonan atau bangunan yang memiliki atap. Hal itu dilakukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung yang dapat meningkatkan suhu tubuh. Bila memungkinkan, lepaskan atau ganti pakaian dengan yang lebih nyaman.

Jika tidak membantu, turunkan suhu tubuh dengan memberikan kompres dingin menggunakan es batu, terutama di bagian leher; ketiak, dan lipatan paha. Beberapa bagian tubuh itu adalah titik panas yang mesti secepatnya diredakan suhunya. Penolong juga bisa menyemprotkan air ke tubuh penderita untuk mempercepat proses penurunan suhu.

Berikan air putih yang banyak begjtu penderita heat stroke sadar. Alasannya, saat heat stroke terjadi, tubuh akan memproduksi panas yang menyebabkan jumlah cairan tubuh berkurang. Bila kondisi ini dibiarkan, dikhawatirkan terjadi dehidrasi akut.

4. Lansia, bayi, dan wanita hamil paling rentan terkena heat stroke: Fakta.
Penyebabnya adalah sistem saraf pusat yang belum begitu sempurna pada anak-anak, dan penurunan fungsi sistem saraf pada lansia dan wanita hamil. Selain itu, ada beberapa hal lagi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya heat stroke pada seseorang. Misalnya, seseorang dengan penyakit tertentu seperti jantung, paru-paru, dan gastroentritis. Seseorang yang sebelumnya pernah mengalami heat stroke juga relatif memiliki risiko lebih tinggi mengalami sengatan panas.

Konsumsi obat-obatan tertentu serta kurangnya waktu tidur yang berkualitas juga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya heat stroke.

5. Heat stroke hanya bisa dialami oleh manusia: Mitos
Hewan dan manusia memiliki risiko yang sama terhadap heat stroke. Namun jelas ada perbedaan sistem adaptasi dan pencegahannya.

6. Heat stroke bisa dicegah: Fakta
Heat stroke bisa berakibat fatal. Kabar baiknya, heat stroke sebenarnya bisa dicegah dengan persiapan sederhana dan memperharikan sinyal yang diberikan tubuh. Cara yang sederhana adalah dengan memakai payung atau topi ketika siang hari, selalu menghidrasi diri sendiri sesuai dengan kebutuhan, dan jangan beraktivitas terlalu berat di bawah sinar matahari ketika siang hari.

Usahakan untuk membasahi tubuh atau memberikan semprotan air dingin ketika terpapar sinar matahari dalam waktu lama. Ketika beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya juga tidak menunggu haus. Terus minum setiap satu jam supaya tubuh mendapatkan hidrasi yang cukup.

Segala penyakit yang berhubungan dengan cuaca panas dapat diakibatkan oleh kekurangan garam dalam tubuh sehingga bisa disiasati dengan mengonsumsi minuman elektrolit selama hari-hari terik matahari ekstrem dan udara pengap.