IBX59ED8B2FED208 Mewaspadai Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) - Jendela Informasi

Mewaspadai Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

Banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesia, sudah mulai surut walaupun di beberapa wilayah hujan masih terus berlangsung dan masih menggenangi rumah dan bangunan hingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang harus diwaspadai saat kondisi lingkungan dilanda banjir adalah penggunaan air bersih. Pada kondisi tersebut sangat dimungkinkan sumber air, seperti sumur atau sumber air lainnya, rawan terkontaminasi beragam jenis bakteri yang bisa mengancam kesehatan.

Selain diare, penyakit kulit (scabies), leptospirosis, ancaman penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) juga perlu diwaspadai karena penyakit ini disebabkan oleh bakteri atau virus dan berbagai mikroba lainnya. Penyakit ISPA merupakan salan satu penyakit yang cukup signifikan terjadi di Indonesia, bahkan WHO telah memperkirakan kematian akibat pneumonia bisa mencapai 10-20 persen per tahun dari selurah jumlah yang tidak diberi pengobatan. Kematian balita karena pneumoni ini secara nasional diperkirakan mencapai 6 per 1.000 pertahun atau sekitar 150.000 balita.




ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung hingga 14 hari. Pengertian saluran pernapasan yaitu organ, mulai dari hidung hingga gelembung para, beserta organ-organ di sekitarnya, seperti sinus, selaput para, dan ruang telinga tengah. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan bersifat ringan, misalnya batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Tetapi pada anak akan bisa menyebabkan pneumoni jika infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Baca juga : Memahami Batuk Akut dan Batuk Kronis

Dalam program pemberantasan penyakit ISPA penyakit ini dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit, yaitu pneumonia berat dan pneumonia ringan. Penyakit batuk pilek, seperti rinitis, faringitis, tonsilitis, dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Adapun etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas atas ini ialah "virus" dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Jika ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapatkan antibiotik.

ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman dan terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas bawah, asma, dan ibro kistik, menempatkan bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang diakibatkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim hujan/dingin.

Baca juga : Kiat Tetap Sehat di Musim Hujan

Namun penyakit ini dapat berlanjut menjadi pneumonia yang sering terjadi pada anak kecil, khususnya pada anak balita gizi kurang yang dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak higienis. Risiko ini sangat rawan pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban imunologisnya terlalu besar, sebab dipakai untuk penyakit cacing dan parasit.

Klasifikasi ISPA
Dilihat dari tingkatannya pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian. Pertama, pneumonia berat. Berdasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernapas disertai napas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 tahun < 5 tahun. Sementara untuk kelompok usia < 2 bulan, klasifikasi pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (fast breathing), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing).

Kedua, pneumonia. Berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas cepat sesuai umur. Batas napas cepat pada anak usia dua bulan sampai dengan < 1 tahun adalah 50 kali atau lebih per menit, sedangkan untuk anak usia 1 sampai < 5 tahun adalah 40 kali atau lebih per menit. Ketiga, bukan pneumonia. Mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian, klasifikasi bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar pneumonia, seperti batuk pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitas, otitis atau penyakit ISPA non pneumonia lainnya.

Umumnya suatu penyakit saluran pernapasan diawali dengan keluhan dan gejala-gejala ringan. Dalam perjalanan penyakit saluran pernapasan ini gejala akan menjadi lebih berat, dan jika makin berat bisa mengakibatkan kegagalan pernapasan yang bisa menyebabkan kematian. Jika hal ini telah terjadi, dalam penatalaksanaannya pun akan sangat rumit.

Baca juga : Tips Agar Wanita Terhindar dari Alergi dan Asma

Dalam mewaspadai ancaman penyakit ini ada beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan, di antaranya jagalah keadaan gizi agar tetap baik, imunisasi, dan menjaga keadaan lingkungan agar selalu bersih dan sehat. Selain itu, memproteksi diri agar kita, terutama anak-anak, tidak berhubungan langsung dengan penderita ISPA.

Penderita ISPA golongan bukan pneumonia bisa diobati tanpa menggunakan antibiotik dan bisa dirawat dan diobati di rumah. Untuk batuk dapat digunakan obat-obatan tradisional. Selain itu juga bisa menggunakan obat batuk yang tidak mengandung zat yang merugikan, seperti desktrometorfan, antihistamin atau kodein. Untuk demamnya bisa menggunakan obat penurun panas, paracetamol misalnya.

Penderita pneumonia dapat diberi obat antibiotik kotrirnoksasol peroral. Apabila penderita tidak mungkin diberi kotrirnoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrirnoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin, atau penisilin prokain. Sementara bagi penderita pneumonia berat, harus di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan sebagainya.

Baca juga : Cara Mengatasi Pneumonia Pada Anak

Dalam menghadapi musim hujan seperti sekarang ini, ada baiknya kita terus mewaspadai dan menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan terhindar dari ancaman penyakit yang sangat membahayakan, seperti halnya ISPA, yang sangat rentan khususnya bagi anak-anak.
[Source Image : sehatalamiku.com; Source Article : Berbagai sumber]

0 Response to "Mewaspadai Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif. Terima kasih.